Daya Beli Masyarakat Terus Melemah, Ritel Raksasa Berangsur-angsur Tutup Gerai, Lebih 10 Ribu Karyawan Terancam PHK

Daya Beli Masyarakat Terus Melemah, Ritel Raksasa Berangsur-angsur Tutup Gerai, Lebih 10 Ribu Karyawan Terancam PHK
Warga antre untuk memburu diskon di Lotus Departemet Store, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2017). (tribunnews.com)
Selasa, 31 Oktober 2017 07:55 WIB
JAKARTA - Sejumlah ritel raksasa di Indonesia, berangsur-angsur menutup gerainya karena semakin sepinya pembeli akibat terus melemahnya daya beli masyarakat.

Ekonom dari Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bima Yudhistira mengingatkan, pemerintah perlu mengambil langkah menyusul tutupnya satu per satu gerai ritel modern tersebut. Sebab dampaknya akan dirasakan langsung oleh karyawan ritel bersangkutan.

Bima Yudhistira menilai ada potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang besar bila kondisi ritel modern dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. ''Kalau terus melemah ritel bisa ada PHK massal,'' ujarnya kepada Kompas.com, Jakarta, Senin (30/10/2017).

Bima menuturkan, PHK bisa saja terjadi kepada ribuan karyawan ritel modern. Dalam kasus 7-eleven saja ucap dia, ada sekitar 1.600 orang yang terkena PHK.

Tentunya angka tersebut akan lebih banyak bila mengacu kepada besarnya departement store yang akan tutup dalam waktu dekat yaitu Lotus Departement Store dan Debenhams.

Ia memperkirakan potensi PHK bisa lebih dari 10.000 orang. Bahkan dengan alih profesi yang sulit, para karyawan tersebut berpotensi menjadi pengangguran.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan belum memiliki data karyawan yang akan di PHK akibat tutupnya sejumlah gerai departemen store.

''Soal jumlah belum ada data, tetapi pelambatan buka toko saja pasti mempengaruhi penerimaan karyawan,'' kata Tutum.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani mengatakan, perlu ada upaya dari pemerintah agar persoalan tutupnya gerai ritel tidak terus berlanjut.

Menurut Hariyadi, pasca-tutupnya 7-Eleven hingga saat ini, pemerintah belum serius menghiraukan masalah daya beli.

''Ini kan sekarang kementerian terkait membantahlah enggak percaya daya beli turun segala macam. Tapi kalau pemerintah sendiri tidak memahami apa yang terjadi, kan bisa memukul pemerintah itu sendiri,'' tambahnya.

Hariyadi, menegaskan saat ini sudah waktunya bagi pemerintah untuk lebih mencari tahu lebih lanjut terkait persoalan daya beli dan fenomena tutupnya gerai ritel.***

Editor:hasan b
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww