Terbuang dan Putus Asa, Nasib Anak-anak Rohingya Buat Unicef Prihatin

Terbuang dan Putus Asa, Nasib Anak-anak Rohingya Buat Unicef Prihatin
Lebih dari 300.000 anak-anak pengungsi Rohingya terbuang dan putus asa. Foto/Istimewa
Jum'at, 20 Oktober 2017 10:56 WIB
DHAKA - Hampir 340 ribu anak-anak Rohingya tinggal dalam kondisi kumuh di kamp-kamp Bangladesh dimana mereka kekurangan cukup makanan, air bersih dan perawatan kesehatan. Demikian yang dikatakan lembaga peduli anak-anak PBB, Unicef.



Sampai 12.000 anak bergabung dengan mereka setiap minggu, melarikan diri dari kekerasan atau kelaparan di Myanmar. Seringkali anak-anak tersebut menyimpan trauma dengan kekejaman yang mereka saksikan. Begitu bunyi laporan yang diberi judul "Terbuang dan Putus Asa."

"Ini tidak akan menjadi jangka pendek, ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat," kata Simon Ingram, penulis laporan dan pejabat Unicef, dalam sebuah berita singkat.

"Jadi sangat penting bahwa perbatasan tetap terbuka dan perlindungan untuk anak-anak diberikan dan sama untuk anak-anak yang lahir di Bangladesh memiliki kelahiran mereka terdaftar," sambungnya seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (20/10/2017).

Ingram mengatakan kebanyakan warga Rohingya tidak memiliki kewarganegaraan di Myanmar dan banyak yang melarikan diri tanpa identitas. Ia menambahkan bayi-bayi yang baru lahir di Bangladesh: "Tanpa identitas mereka tidak memiliki kesempatan untuk berasimilasi ke dalam masyarakat manapun secara efektif."

Ingram juga mengungkapkan jika persediaan air minum dan toilet yang aman sangat kekurangan di kamp-kamp dan permukiman yang kacau dan padat. Ingram setelah menghabiskan dua minggu di Cox's Bazar, Bangladesh.

"Dalam arti tidak mengherankan bahwa mereka harus benar-benar melihat tempat ini sebagai neraka di bumi," katanya.

Ia juga mengungkapkan satu dari lima anak-anak Rohingya yang berusia di bawah lima tahun diperkirakan mengalami kekurangan gizi akut, membutuhkan perhatian medis.

"Ada risiko sangat tinggi wabah penyakit yang ditularkan melalui air, diare dan kolera yang bisa dibayangkan dalam jangka panjang," tambahnya.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww