Memilukan, Bayi Usia 10 Bulan Kehilangan Kembaran, Ibu, Kakak dan Neneknya Sekaligus

Memilukan, Bayi Usia 10 Bulan Kehilangan Kembaran, Ibu, Kakak dan Neneknya Sekaligus
(tribunnews)
Minggu, 08 Oktober 2017 14:13 WIB
CIAMIS - Nasib malang menimpa Anita. Bayi berusia 10 bulan ini kehilangan kembaran, ibu, kakak dan neneknya sekaligus, setelah tanah longsor menimpa dan mengubur sebuah rumah Di Dusun Sangkan Bawang, Desa Kalijati, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Sabtu (7/10/2017) dini hari.

Hanya Anita dan ayahnya yang selamat dalam musibah itu. Yang meninggal adalah kembarannya Anita, Andika, ibunya, Yuyun (35), kakak laki-lakinya, Aldi (5) dan neneknya, Arsih (55).

Saat tebing runtuh menimpa rumah mereka, Anita tidur di sofa bersama ayahnya, Rusman (35).

Ruswandi, warga Dusun Sangkan Bawang mengatakan, pada malam sebelum longsor terjadi, Rusman dan istrinya masih tidur sekamar bersama dua anak kembar mereka.Tapi, malam itu Anita tak biasanya menjadi sangat rewel.

''Karena itu, Rusman pun membawa Anita pindah tidur di sofa. Di kamar lainnya, Aldi, anak sulung Rusman, tidur bersama Mak Arsih, neneknya. Mak Arsih dan Aldi juga tak selamat,'' kata Ruswandi kepada Tribun Jabar melalui pesawat telepon, kemarin.

Menurut Ruswendi, tebing tersebut runtuh sekitar pukul 00.30 saat hujan masih turun lebat.

''Tebing yang longsor ini sebenarnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar tiga atau empat meter. Mungkin sudah takdir. Rumah korban memang berdempet langsung dengan tebing itu,'' ujarnya.

Di tengah guyuran hujan, kata Ruswendi, malam itu juga warga berjibaku berusaha mengevakuasi korban.

Jasad para korban dimakamkan di pemakaman umum Pondok Batu, Dusun Sangkan Bawang, selepas Zuhur, setelah Wakil Bupati Pangandaran, H Adang Hadari, dan rombongan datang melayat.

Menurut Kades Kalijati, Oco Rahman Setiadi, selain mengubur rumah keluarga Rusman, longsoran tebing juga menerjang tujuh rumah lainnya meski tak menimbulkan kerusakan parah.

''Namun, kejadian ini membuat mereka khawatir. Selain Rusman dan bayinya, tujuh keluarga lainnya juga mengungsi. Di sini, hingga sore ini hujan masih turun. Warga khawatir terjadi bencana susulan,'' ujarnya melalui telepon.

Selain memicu longsor, hujan yang terjadi terus-menerus selama beberapa hari ini juga membuat jalan kabupaten yang menghubungkan Sudimulih-Kalijati-Pasawahan Banjarsari (Ciamis) ambles sepanjang 20 meter.

''Karena tak bisa dilewati, rombongan wakil bupati yang hendak melayat keluarga Rusman terpaksa memutar lewat Banjarsari (Pasawahan). Perlu alat berat untuk mengatasinya,'' kata Oco.

Di Desa Kalijati, jalan ambles juga terjadi di Dusun Sangkan Bawang. Selain itu, dua jembatan rusak.

''Tapi yang paling banyak memang retakan tanah yang ditemui hampir di semua dusun. Karena itu, kami juga meminta warga untuk siaga, ikut ronda, dan tidur di luar rumah, sehingga kalau ada kejadian cepat menyelamatkan diri,'' ujar Oco.

Selain memicu longsor dan tanah ambles, hujan yang turun terus-menerus sejak Jumat membuat sejumlah sungai meluap.

Di beberapa titik terparah, kedalaman air bahkan mencapai hampir 1,5 meter.Di Kecamatan Sidomulih saja, ratusan rumah terendam oleh luapan Sungai Cikembulan.

Banjir juga merendam Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang; Dusun Pasirkiara, Desa Parigi, Kecamatan Parigi; Dusun Karangnangka, Desa Bojong, Kecamatan Parigi; Dusun Pamotan, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang; dan Dusun Sentul, Desa Sukanagara, Kecamatan Padaherang.Logistik

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, Dicky Saromi, mengatakan logistik yang telah disimpan di BPBD Pangandaran sejak Agustus lalu sudah disalurkan kepada para korban banjir dan longsor yang melanda sejumlah titik di Pangandaran.

''Logistik sudah disebar ke beberapa titik yang membutuhkan. Kami masih menunggu koordinasi lanjutan dan kabar. Kalau masih kurang logistiknya, kami tambah. Tapi sampai saat ini, Pemda Pangandaran masih bisa menanganinya,'' kata Dicky saat dihubungi, Sabtu (7/10/2017).

Kepala Basarnas Jawa Barat, Slamet Riyadi, meminta masyarakat yang tinggal dekat tebing atau bukit tanah juga yang tinggal sekitar sungai lebih berhati-hati dan waspada pada musim hujan yang mulai datang.

''Karena akan ada peningkatan curah hujan yang menimbulkan naiknya intensitas debit sungai. Dan juga pengaruh terhadap daya serap tanah di tebing atau bukit tanah, terlebih bila bukit tersebut gundul atau tidak ada pohon sebagai pengikatnya, sangatlah berisiko longsor,'' katanya.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, Asri Pratiwi, mengatakan hujan dalam intensitas ringan hingga lebat diperkirakan masih akan terjadi, Minggu (8/10/2017) ini, di sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk kawasan Pangandaran.

Hujan bisa terjadi pada siang, sore, dan malam hari, disertai petir dan angin kencang.

Prakirawan BMKG ini juga mengimbau kepada warga masyarakat di Jawa Barat untuk lebih waspada karena saat ini memang telah masuk masa peralihan atau pancaroba dari kemarau ke penghujan.''Jadi, masa ini cuaca ekstrem berpotensi terjadinya itu cukup besar dengan hujan lebat disertai angin kencang dan petir,'' ujarnya melalui sambungan telepon, Sabtu (7/10/2017).***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww