Panglima TNI Menghadap Jokowi di Istana, Tak Bahas Pembelian 5.000 Senjata Ilegal

Panglima TNI Menghadap Jokowi di Istana, Tak Bahas Pembelian 5.000 Senjata Ilegal
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. (republika.co.id)
Rabu, 27 September 2017 20:03 WIB
JAKARTA - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menghadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Presiden, Rabu (27/9/2017) sore. Pertemuan Panglima TNI dengan Jokowi tidak membahas polemik pembelian 5.000 senjata secara ilegal.

Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi, mengatakan, Panglima TNI menemui Presiden sekitar pukul 15.15 WIB untuk membahas persiapan HUT TNI pada 5 Oktober nanti. Panglima meminta Presiden menghadiri acara HUT TNI tersebut.

''Tadi memang benar sekitar pukul 15.15 panglima TNI menghadap Presiden. Dalam pertemuan itu, menurut Gatot Nurmantyo yang disampaikan adalah persiapan HUT Oktober. Termasuk meminta Presiden menonton pertunjukan wayang menyambut HUT TNI,'' jelas Johan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Lebih lanjut, terkait masalah pengadaan lima ribu senjata, Johan menyampaikan bahwa Panglima TNI telah menjelaskan hal ini kepada Presiden pada Selasa malam di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma.

''Mengenai ramai-ramai itu sudah dilaporkan Gatot Nurmantyo kemarin malam waktu di Halim. Presiden juga sudah mendapat laporan secara lengkap apa yang dikatakan Gatot Nurmantyo,'' jelas Johan.

Selain itu, Menkopolhukam Wiranto pun juga telah menjelaskan terkait polemik ini. Karena itu, polemik pengadaan senjata ini tak perlu diperdebatkan kembali. "Sudah clear dengan penjelasan Wiranto, Presiden sudah mendapat penjelasan atau laporan. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi," ujarnya.

Pagi tadi, Presiden juga menyampaikan telah bertemu dengan Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Bandara Halim Perdanakusum usai melakukan kunjungan kerja di Provinsi Bali. Dalam pertemuan itu, Gatot menjelaskan kepada Presiden terkait masalah pembelian senjata tersebut.

''Ya tadi malam (bertemu), setelah saya dari Bali. Sudah bertemu saya di Halim. Sudah dijelaskan (terkait pembelian senjata),'' ujar Jokowi, Rabu (27/9).

Menurut Jokowi, dari hasil pertemuan tersebut sudah ada penjelasan yang lebih detail. Selain itu, penjelasan dari Menko Polhukam Wiranto juga dinilai sudah cukup jelas.

Bantah Ditegur Presiden

Sementara Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membantah bahwa dirinya ditegur oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuannya dengan Presiden pada Selasa (26/9) malam, terkait pernyataannya soal informasi pembelian 5.000 pucuk senjata ilegal oleh institusi di luar TNI.

''Siapa yang tegur, saya hanya melaporkan pada presiden, gitu aja,'' ujar Gatot di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (27/9).

Namun demikian, Gatot enggan mengungkapkan isi pertemuan dirinya dengan Presiden Jokowi tersebut. Ia beralasan pembicaraan tersebut hanya boleh diketahui presiden karena merupakan informasi intelijen. ''Tanggapan Presiden tidak boleh saya sampaikan. Karena anda bukan Presiden, yang saya sampaikan adalah informasi intelijen. Maka hanya Presiden yang boleh tahu,'' kata Gatot.

Panglima TNI juga sekaligus membantah bahwa pernyataannya soal impor 5.000 senjata di hadapan para purnawirawan TNI tersebut adalah sebuah informasi intelijen.

''Pernyataan saya pas purnawirawan itu bukan informasi intelijen. Karena informasi intelijen harus mengandung siapa, apa yang dilakukan, di mana dilakukan? bilamana dilakukan, di mana? Jadi, itu yang saya sampaikan kepada presiden. saya hanya akan menyampaikan apa yang saya tahu kepada presiden,'' ujarnya.

Gatot juga mengaku akan menyampaikan demikian jika nantinya juga dimintai keterangan oleh DPR. ''Atau kalau saya dipanggil DPR, selain itu saya nggak bisa menyampaikan,'' ujarnya.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww