Mal-mal Menjelang Kematian, Berikut Ini Tanda-tandanya

Mal-mal Menjelang Kematian, Berikut Ini Tanda-tandanya
Ilustrasi warga belanja di mal. (solopos.com)
Rabu, 20 September 2017 15:10 WIB
JAKARTA - Sejumlah mal di Amerika Serikat lagi menjelang kematian karena semakin ramainya belanja online. Demikian hasil survei terbaru Green Street Advisors mengenai kebiasaan belanja masyarakat dan keberadaan mal di Amerika Serikat.

Dikutip dari merdeka.com, menurut penelitian, hunian mal menurun untuk pertama kalinya sejak resesi ekonomi. Pertumbuhan sewa tempat di mal juga terus melambat belakangan ini.

Perusahaan riset real estate ini mengungkapkan, penjualan di mal diprediksi hanya akan tumbuh 1,2 persen antara 2016-2019.

Angka ini jauh lebih rendah dari perkiraan awal yaitu 2,6 persen selama rentang waktu yang sama. Pertumbuhan 1,2 persen juga melambat dibanding tahun lalu yang mencapai 4 persen

Tak hanya penjualan, pertumbuhan sewa kios di mal juga diprediksi hanya akan meningkat 1,5 persen selama empat tahun hingga 2019 mendatang. Angka ini juga lebih rendah dari perkiraan awal yang mencapai 2,5 persen.

Menurut Green Street yang dikutip dari CNBC, faktor terbesar yang membebani mal adalah munculnya belanja online. Selain itu, melemahnya permintaan pengecer juga ikut mempengaruhi.

''Penjualan tenant rebound di 2015 setelah melambat beberapa tahun sebelumnya. Namun ini didorong oleh dampak banyaknya pengecer yang tidak produktif dan sudah bangkrut,'' ucap analis senior, D.J. Busch.

Namun demikian, analis berpendapat, penutupan toko ini menggarisbawahi bahwa Amerika Serikat memiliki ruang ritel yang terlalu banyak. Misalnya, Sears Holdings baru menutup hampir 600 toko dalam waktu satu tahun.

Perusahaan mengatakan awal bulan ini dia kembali menutup toko. Macy juga mempersiapkan diri untuk menutup 36 toko di seluruh AS dalam upaya meningkatkan bottom line-nya.

Bergesernya minat masyarakat ke belanja online tidak diragukan lagi ikut memainkan peran mempengaruhi keberadaan mal. Selain itu, perubahan demografi kota juga mempengaruhi minat orang ke mal.

Misalnya, di suatu tempat atau industri tertentu melakukan PHK besar-besaran, maka masyarakat akan menjauh dari tempat tersebut dan mencari pekerjaan.

Kondisi di Amerika Serikat ini tak jauh berbeda dengan Indonesia. Artinya, mal-mal yang ada di Indonesia juga lagi menuju kematian akibat makin maraknya jual-beli online.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww