Ratusan Ribu Muslim Rohingya Terancam Kelaparan di Pengungsian

Ratusan Ribu Muslim Rohingya Terancam Kelaparan di Pengungsian
Bocah Muslim Rohingya menggendong adiknya menyeberangi rawa untuk mengungsi ke Bangladesh. (republika.co.id)
Jum'at, 08 September 2017 07:05 WIB
DHAKA - Ratusan ribu Muslim Rohingya terancam kelaparan di pengungsian di Bangladesh, karena dikhawatirkan terbatasnya bantuan makanan.

Hingga kini, relawan PBB di perbatasan Bangladesh, Cox Bazar mengestimasi sejak krisis kemanusian Rohingya berlangsung 12 hari lalu, telah 146 ribu warga Rohingya yang kabur ke negara itu.

Seorang pekerja PBB namanya tak mau diungkapkan meyakini, bisa saja angka 300 ribu pengungsi terwujud. Apalagi, angkatan bersenjata Myanmar dalam beberapa hari lalu masih melakukan operasi militer.

Tetapi, dia menggarisbawahi estimasi tersebut hanya bakal terwujud jika ada skenario terburuk menimpa warga Rohingya.

Perkiraan jumlah itu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Terutama soal sedikitnya persedian makanan untuk para pengungsi.

''Mereka menderita kekurangan nutrisi, mereka telah terputus dari asupan makanan normal selama lebih dari sebulan,'' ucap Juru Bicara Badan Program Makanan Dunia (WFP) Bangladesh, Dipayan Bhattacharyya, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (7/9/2017).

Sampai sekarang, diakui Bhattacharyya telah banyak lembaga internasional yang bersedia memberikan bantuan kepada pengungsi Rohingya.

Dari prediksi yang telah dihitung WFP, mereka membutuhkan dana saat ini mereka membutuhkan dana sebesar US$ 13,3 juta. Uang tersebut digunakan untuk menyediakan biskuit energi serta makanan pokok seperti beras untuk persediaan empat bulan.

Oleh sebab itu, dirinya memohon lembaga internasional yang berniat membantu untuk segera mengirimkan bantuannya.

''Jika (bantuan) tidak cepat datang, maka kita bisa melihat para pengungsi satu sama lain berkelahi memperebutkan makanan, dan angka kriminal pun akan naik, kekerasan terhadap perempuan dan anak juga naik,'' sebutnya.

Suu Kyi Salahkan 'Teroris'

Memburuknya kondisi Myanmar akibat krisis Rohingya membuat Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi menyalahkan teroris atas kemelut tersebut.

Ia menyebut teroris berperan dalam terbentuknya informasi yang salah mengenai kekerasan yang terjadi terhadap etnis Rohingya. Akibat insiden tersebut, lebih dari 120 ribu orang Rohingya kabur ke Bangladesh.

Pernyataan ini disampaikan Suu Kyi dalam Facebook pribadinya usai berkomunikasi dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sambungan telepon itu dilangsungkan tidak hanya untuk membicarakan krisis Rohingya secara menyeluruh. Suu Kyi turut menyinggung foto palsu yang sempat di-posting Wakil Perdana Menteri Turki beberapa waktu lalu.

''Informasi palsu yang telah dipakai oleh Wakil Perdana Menteri adalah puncak gunung es kesalahan informasi yang telah menciptakan masalah antar komunitas dan bertujuan untuk mempromosikan kepentingan kelompok teroris,'' ucap dia.

Kelompok teroris yang dimaksud Suu Kyi adalah militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), yang menyerang sejumlah pos polisi dan menewaskan 12 orang pada 25 Agustus 2017, yang memicu persekusi pihak keamanan Myanmar.

Selain menyalahkan teroris, Suu Kyi memastikan negaranya menjamin kebebasan berdemokrasi serta menjunjung penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).

''Kami tahu betul, lebih tahu dari kebanyakan orang, apa artinya pencabutan HAM dan perlindungan demokrasi,'' ujar Suu Kyi.

''Jadi, kami memastikan bahwa semua orang di negara kami berhak mendapat perlindungan atas hak-hak mereka, bukan hanya politik, tapi juga sosial dan kemanusiaan,'' ujarnya.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww