60 Ribu Muslim Rohingya Menyeberang ke Bangladesh, Terjebak di Daerah Tak Bertuan Tanpa Persediaan Makanan

60 Ribu Muslim Rohingya Menyeberang ke Bangladesh, Terjebak di Daerah Tak Bertuan Tanpa Persediaan Makanan
Warga Muslim etnis Rohingya, yang dipindahkan dari Kota Maungdaw, tiba di wihara untuk tempat penampungan sementara di Sittwe, Negara Bagian Rakhine, bagian barat Myanmar, 31 Agustus 2017. (republika.co.id)
Minggu, 03 September 2017 06:55 WIB
BAZAR - Dalam satu pekan terakhir sekitar 60.000 warga Muslim Rohingya melarikan diri dari Rakhine, Myanmar ke Bangladesh akibat kekerasan yang dilakukan militer Myanmar.

Dikutip dari republika.co.id, kondisi Ini dipastikan menambah tekanan pada kelangkaan sumber daya yang dimiliki badan bantuan dan masyarakat setempat, yang sudah membantu ratusan ribu pengungsi dari serangan sebelumnya terhadan Muslim Rohingya di Myanmar.

Sejumlah rincian tentang bencana tersebut, yang terkumpul dari sumber Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kabupaten Cox's Bazar di Bangladesh ialah bahwa pekerja bantuan di wilayah tersebut mengatakan sumber daya sangat terbatas.

Termasuk bahan untuk penampungan darurat, air bersih dan makanan, sangat dibutuhkan dan kepadatan pengungsi pemukiman darurat menjadi masalah utama.

Arus pengungsi juga menyulitkan pengenalan akan pendatang baru.

Selain itu, dengan 10 ribu orang lain saat ini terjebak di daerah tidak bertuan di antara kedua negara itu, mereka memperkirakan lebih banyak orang menyeberangi perbatasan daripada saat kemelut pada musim gugur tahun lalu, saat lebih dari 70.000 orang menyeberang.

Di samping itu, cadangan biskuit berenergi tinggi tidak cukup untuk makan semua pendatang baru, dan memberi beras untuk yang menyeberang sejak Oktober tahun lalu ''mungkin bermasalah''.

Di antara pendatang baru, sekitar 16 ribu adalah anak usia sekolah dan lebih dari lima ribu berusia di bawah lima tahun, yang memerlukan vaksin.

Jumlah anak-anak tanpa pendamping dan terpisah sangat tinggi dan banyak yang trauma dan kelaparan serta memerlukan makanan kering segera dan dukungan kejiwaan.

Sarana pendidikan darurat saat ini hanya cukup untuk menampung lima ribu anak-anak dan diperlukan tambahan 500 sekolah atau pusat pembelajaran.

Untuk mencegah penyalahgunaan, di antara masyarakat itu diperlukan kesadaran akan masalah, termasuk tentang pekerja anak-anak, kekerasan seksual dan berdasarkan atas gender serta perdagangan manusia, kata mereka.

Kebersihan memburuk karena arus masuk manusia meningkatkan ancaman wabah penyakit, dengan wanita hamil, anak kecil atau orang tua paling rentan. Kebersihan dan air bersih menjadi perhatian, terutama di daerah tidak bertuan tanpa sarana.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww