Warga Gaza Jadikan Ibadah Haji Sebagai Pelarian Sementara dari Kezaliman Israel, Sayangnya . . . .

Warga Gaza Jadikan Ibadah Haji Sebagai Pelarian Sementara dari Kezaliman Israel, Sayangnya . . . .
Sabtu, 26 Agustus 2017 06:58 WIB
GAZA - Dalam 3 tahun terakhir, ibadah haji satu-satunya jalan bagi warga Gaza, Palestina untuk bisa ke luar negeri.

Sementara ibadah umrah tak bisa lagi mereka lakukan di luar musim haji, sebab gerbang perbatasan Palestina dengan Mesir di Rafah ditutup secara hampir permanen oleh Mesir dengan alasan keamanan.

Dikutip dari dream, bagi warga Palestina, khususnya Gaza, haji bukan sekadar ibadah. Lebih dari itu, haji merupakan sarana yang diberikan Allah SWT bagi mereka untuk keluar dari kezaliman pasukan Israel.

Selama ini, wilayah Gaza dikepung oleh Israel dengan semena-mena. Akibatnya, warga Gaza tidak bisa bepergian ke luar daerahnya, meskipun hanya dalam waktu singkat.

Arab Saudi memberlakukan ketentuan satu visa haji bagi 1.000 orang Islam yang tinggal di suatu kawasan. Merujuk ketentuan itu, Palestina yang memiliki penduduk beragama Islam sebanyak 7 juta, berhak atas kuota haji sebanyak 6.500 jemaah, baik dari Tepi Barat maupun Gaza.

Kementerian Awqaf Palestina menyatakan tahun ini jamaah haji asal Gaza sebanyak 2.640 jiwa. Jumlah ini termasuk 1.000 orang anggota keluarga korban pembunuhan militer Israel, yang telah menjadi tamu Raja Salman.

Pejabat senior Kementerian Wakaf Islam Palestina, Qadaffi Al Qatati, mengatakan kepada Arab News, masalahnya adalah bagaimana menentukan siapa dari keluarga korban yang akan berangkat haji.

''Saat kami membuka pendaftaran haji pada 2010, ada sebanyak 30.000 pendaftar. Bagi mereka ini adalah kesempatan untuk meninggalkan Jalur Gaza, meski hanya dalam waktu singkat,'' ucap Qadaffi.

Masalah ini memaksa kementerian memilih siapa yang akan berangkat haji dengan cara undian. Masalahnya kemudian adalah apa yang harus dilakukan kepada mereka yang tidak terpilih.

Alhasil, selama tujuh tahun berturut-turut pemerintah lokal Gaza memberlakukan sistem pemilihan jemaah secara acak.

''Sementara ini cara tersebut memungkinkan bagi mereka untuk mengetahui pada tahun kapan akan berangkat haji. Tetapi, ini justru menimbulkan persoalan lain bagi mereka yang punya pendapatan tetap karena kemampuan mereka dalam membayar ongkos haji akan berubah,'' kata Qadaffi.

Dia juga menjelaskan di waktu yang sama, jika pihaknya membuka pendaftaran baru, maka akan ada sekitar 100 ribu calon jamaah.

Selama bertahun-tahun, terjadi masalah lain. Banyak calon jamaah haji jatuh sakit dan meninggal, sementara yang lainnya tidak lagi berminat menjalankan haji karena biaya yang mahal.

''Kami menawarkan sistem pengganti yang memungkinkan keluarga menggantikan calon jemaah meninggal untuk pergi haji. Jika sistem ini gagal, kami akan kembali ke sistem undian,'' kata Qadaffi.

Meski pemberlakukan sistem ini tampaknya berhasil, nyatanya perjalanan dari Gaza ke Mekah dan Madinah tidaklah mudah. Ada sejumlah masalah yang harus dihadapi jemaah, seperti tarif perlintasan perbatasan yang ditetapkan otoritas setempat cukup, belum lagi biaya selama di Mekah dan Madinah mencapai US$3.000, setara Rp40 juta.***

Editor:hasan b
Sumber:dream.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww