Diminta Trump Bayar Sistem Anti-Rudal Rp 13 T, Korsel Menolak

Diminta Trump Bayar Sistem Anti-Rudal Rp 13 T, Korsel Menolak
Sistem anti-rudal THAAD (kanan) terlihat di Seongju, Korsel, pada 26 April (Lee Jong-hyeon/News1 via REUTERS)
Jum'at, 28 April 2017 15:50 WIB
WASHINTONG DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta sekutunya, Korea Selatan (Korsel), untuk membayar US$ 1 miliar (Rp 13,3 triliun) untuk sistem pertahanan rudal THAAD. Korsel terang-terangan menolak permintaan Trump itu.

Sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) dikerahkan AS ke wilayah Korsel untuk mengantisipasi ancaman rudal Korea Utara (Korut). Bagian pertama THAAD telah tiba di wilayah Korsel, tepatnya di sebuah area bekas lapangan golf setempat. 

Beberapa pejabat AS menyatakan THAAD akan mulai beroperasi dalam 'beberapa hari' ke depan. Dalam pernyataan terpisah, seperti dikutip Reuters dan dilansir AFP, Jumat (28/4/2017), Trump menyebut akan lebih pantas jika Korsel membayar AS untuk pengerahan THAAD.

"Saya telah memberitahu Korea Selatan bahwa akan lebih pantas jika mereka membayar. Itu kan sistem seharga satu miliar dolar (AS). Itu fenomenal, menembak rudal saat di udara," ucap Trump.

Pengerahan THAAD ini memicu kemarahan China. China khawatir jika kemampuan radar THAAD milik AS akan mempengaruhi keamanan militernya. China juga khawatir jika kehadiran THAAD akan mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan Asia Timur.

Baik AS maupun Korsel telah menjalin aliansi sejak Perang Korea tahun 1950-1953. Lebih dari 28 ribu tentara AS kini ditugaskan di Korsel.

Menanggapi pernyataan Trump soal biaya THAAD, otoritas Korsel mengutip Status of Forces Agreement yang mengatur kehadiran militer AS di Korsel. Sesuai kesepakatan itu, Korsel akan menyediakan tempat bagi THAAD dan infrastrukturnya, sedangkan AS yang akan mengeluarkan biaya untuk mengerahkan dan mengoperasikannya. 

"Tidak ada perubahan pada posisi mendasar ini," tegas Kementerian Pertahanan Korsel dalam pernyataannya. THAAD dirancang untuk mencegat dan menghancurkan rudal balistik jarak dekat dan menengah, saat fase akhir mengudara. 


Warga Korsel sendiri terbelah atas pengerahan THAAD milik AS ini. Jajak pendapat Korea Research yang digelar bulan lalu menunjukkan hanya 51,8 persen warga Korsel yang mendukung pengerahan THAAD.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:detik.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww