Valentine’s Day; Sarana Perusak Ideologi dan Moralitas

Valentine’s Day; Sarana Perusak Ideologi dan Moralitas
Ustaz Abdurrahman Yusuf
Minggu, 12 Februari 2017 21:04 WIB

 Ustaz Abdurrahman Yusuf

Pertengahan bulan Februari, tepatnya tanggal 14 adalah hari yang selalu dinantikan oleh para remaja dan kawula muda-mudi di seluruh dunia. Tidak terkecuali mereka yang berada di negeri Islam dan bahkan khususnya Indonesia yang mayoritas pemduduknya kaum muslimin. 14 Februari di setiap tahunnya dirayakan sebagai hari kasih sayang ‘ber-cinta’. Berbagai atribut dan aksesoris mulai dari awal Februari sudah tersedia. Pusat-pusat perbelanjaan seolah berlomba untuk menyediakan segala kebutuhan perayaan valentine tersebut, terutama coklat berbentuk hati.

Media juga tidak kalah gesitnya dalam memprovokasi masyarakat dengan ikon para selebritis, untuk benar-benar terlibat dalam merayakan hari raya kasih sayang ‘ber-cinta’ ini secara meriah. Namun dibalik itu semua tanpa kita sadari bahwa perilaku ini semua telah mengarahkan kita kaum muslimin untuk terjerembab ke dalam dosa besar, yang hal ini merupakan perilaku dan kebiasaan orang-orang kafir.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah, mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. al An’am,116)

Dari Ibnu Umar ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut”. (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud)

Dari ‘Amr Ibnu Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami”. (HR: at-Tirmidzi)

Sejarah Valentine sebelum masa kekristenan (nasrani) menyebutkan, perayaan/pesta yang dilakukan pada pertengahan bulan Februari, sudah menjadi tradisi budaya masyarakat kuno di Eropa. Meraka adalah masyarakat Yunani dan Romawi yang beragama pagan, yakni menyembah banyak Tuhan atau Paganispolytheisme.

Di zaman Athena (yunani) kuno, periode pertengahan Januari hingga Februari disebut sebagai bulan gameliaon, yakni masa menikahnya Dewa Zeus dan Hera. Sedangkan di zaman Romawi kuno, disebut hari raya (festival) Lupercalia sebagai peringatan terhadap Dewa Lupercus (dewa pelindung tanaman obat, hasil bumi/dewa kesuburan), yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba.

Perayaan yang jatuh pada tanggal 15 Februari ini, adalah sebuah ritual pensucian dari kutukan, kemalangan dan kemandulan. Mereka memohon untuk kesuburan dan kesehatan mereka dan juga ternak mereka. Dimana para laki-laki muda melakukan ritual penyembahan dengan mengorbankan seekor domba, kemudian meminum anggur (wine) dan berlari sepanjang jalan di Roma, sebagai bentuk persembahan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.

Selama perayaan, hal yang paling digandrungi adalah apa yang disebut dangan Love Lottery (lotre pasangan), para remaja putri (pemudi), menempatkan nama-nama mereka ke dalam sebuah bejana (kendi) besar, lalu para remaja putra (pemuda) menarik undian nama-nama gadis yang akan menjadi pasangan mereka. Kemudian menempelkan nama gadis tersebut di lengan baju mereka selama festival berlangsung. Meraka akan saling bertukar hadiah dan diakhirinya pesta itu dengan tidur bersama (zina) ‘ber-cinta’.

Sementara dalam Ensiklopedi Katolik, ditemukan paling tidak ada tiga versi tentang Valentine tersebut. Pertama, Valentine’s adalah seorang pendeta, pendeta St. Valentine, Ia hidup di zaman kaisar Romawi Claudius II. Pada tanggal 14 Februari 270 M Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menentang beberapa perintahnya. St. Valentine mengajak manusia kepada agama nasrani dan menolak menyembah Dewa-dewa Romawi. Ia lalu ditangkap, dibunuh dan dikuburkan di Via Flaminia, yang oleh pihak gereja Ia dianggap sebagai orang suci, sehingga namanya menjadi nama sebuah gereja bersejarah di Roma (Vatikan).

Kedua, St. Valentine adalah nama seorang pemuda yang mati dieksekusi oleh raja Romawi Claudius II, pada tanggal 14 Februari 269 M. Nama aslinya Valentino, karena Ia telah menentang kebijakan Claudius II, yang saat itu ingin membentuk sebuah pasukan khusus yang tangguh, yang terdiri dari kaum pemuda. Agar tidak loyo (letih–lesu–lemah-letoy), maka raja melarang mereka menikah. St. Valentine menentang perintah ini dan Ia pun menikah di gereja dengan sembunyi-sembuyi yang sampai akhirnya kaisar mengetahuinya. Lalu Ia dipenjarakan. Selama di penjara Valentino berkenalan dengan putri seorang sipir penjara yang terserang suatu penyakit, Ia mengobatinya hingga sembuh dan jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, Ia mengirim sebuah kartu yang bertuliskan ”dari yang tulus cintanya, Valentine”.

Ketiga, Seorang bishop dari Terni yang mati sebagai martir (istilah yang dipakai untuk orang-orang yang mati atau berkorban demi mempertahankan prinsip-prinsipnya), yang kemudian Ia digelar dengan santo. Peristiwa ini terjadi di Afrika, di sebuah Propinsi Romawi, pada pertengahan abad ketiga masehi.

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan kata Valentine berasal dari Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhannya orang Romawi. Maka disadari atau tidak, tulis Ken Sweiger, jika kita meminta orang menjadi  “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut dengan Syirik, artinya menyekutukan Allah SWT. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” Dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena Ia rupawan sehingga diburu banyak wanita, bahkan Ia pun berzina dengan ibunya sendiri.

*Ustaz Abdurrahman Yusuf adalah Pimpinan Dayah Tahfizul Qur'an Syaikh Rasyid Al Mukhlishin di Lhokseumawe, Aceh.

Pimpinan Dayah Tahfizul Qur'an Syaikh Rasyid Al Mukhlishin di Lhokseumawe, Aceh. - See more at: https://www.goaceh.co/artikel/kolom/2017/02/10/hadits-i-niat-dan-ikhlas#sthash.ebQTdZZy.dpuf

Editor:Zainal Bakri
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww