Hadits I: Niat dan Ikhlas

Jum'at, 10 Februari 2017 10:09 WIB

Oleh: Ustad Abdurahman Yusuf 

Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab ra ia berkata; Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung (diawali) niatnya, dan setiap orang hanya akan (mendapatkan) sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR: Bukhari – Muslim)

Hadits ini merupakan salah satu pokok penting ajaran islam dan menjadi prinsip dasar agama, pada hadits inilah poros Islam beredar, dan hukum Islam bermuara. Abu Daud berkata: “Hadits ini adalah separuh dari agama Islam, karena agama pada dasarnya bertumpu pada dua hal, yaitu zhahir atau amal, dan batin atau niat.

Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata: “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu, karena amal itu ada tiga; amal badan (tindakan), amal lisan (ucapan) dan amal hati (niat)”.

Sedemikian pentingnya hadits ini sehingga banyak ulama yang mengawali berbagai buku dan karangannya dengan mengutip hadits tersebut. Imam Bukhari misalnya menempatkan hadits ini di awal kitab Shahihnya.

Bahkan Imam an-Nawawy menempatkan hadits ini pada urutan pertama dalam tiga kitabnya, yaitu kitab Riyadhus Shalihin, Al-Adzkaaar dan Arba’in an-Nawawiyah. Maksudnya adalah agar para penuntut ilmu menyadari pentingnya niat, sehingga ia terdorong untuk meluruskan niatnya hanya karena Allah, baik ketika menuntut ilmu maupun ketika melakukan berbagai amal kebajikan lainnya.

Niat adalah merupakan dasar dan pondasi awal bagi setiap amal ibadah yang dilakukan oleh setiap manusia beriman. Para ulama sepakat bahwa perbuatan seorang mukmin tidak dianggap dan tidak akan mendapatkan pahala kecuali jika diiringi dengan niat.

Niat adalah salah satu rukun dari setiap ibadah itu sendiri, seperti ibadah shalat, haji, puasa dan lainnya, yang karenanya ibadah-ibadah tersebut tidak sah kecuali jika diawali oleh niat. Dan para ulama-pun sepakat bahwa niat itu adalah amal hati bukan amal lisan, tidak disyaratkan untuk diucapkan dengan lisan, sehingga jika seseorang tidak melafalkan niatnya, maka ibadah tersebut sah.

Hadits ini juga mendorong kita agar ikhlas dalam melakukan suatu amalan dan ibadah, agar meraih pahala di akhirat dan memperoleh kebahagiaan di dunia. Setiap amal yang baik dan bermanfaat (dilihat dari kaca mata Islam) yang diiringi dengan niat yang ikhlas dan hanya untuk mencari keridhaan Allah SWT, maka amal tersebut merupakan ibadah. Dan Allah SWT tidak akan menerima suatu amalan/ibadah jika ada unsur yang lain selain Allah didalam hati manusia yang beramal dan beribadah tersebut.

“Dan tidak diperintahkan kepadamu melainkan untuk (beribadah) menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama yang lurus...”. (QS: Al-Baiyinah, 5)

“Katakanlah! Sungguh shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb sekalian alam”. (QS: Al-An’am, 162)

Ikhlas merupakan komitmen tertinggi yangseharusnya ditambatkan oleh setiap mukmindalam hatinya. Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itumerupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan syeitan.Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis
adalah orang mukmin yang benar-benartulus sepenuh hati dalam beribadah kepada
Allah SWT, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujukrayu dan diprovokasi oleh setan.

Ikhlas sejatinya juga merupakan “bentengpertahanan” mental spiritual mukmin dari
kebinasaan atau kesia-siaan dalam menjalani kehidupan. Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah
berkata, “Amal tanpa keikhlasan sepertimusafir yang mengisi kantong dengan kerikil
pasir, memberatkannya tetapi tidak bermanfaat”.

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

Ustad Abdurrahman Yusuf adalah Pimpinan Dayah Tahfizul Qur'an Syaikh Rasyid Al Mukhlishin di Lhokseumawe, Aceh.

Editor:Kamal Usandi
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww