Cerbung Titipan Doa Seorang Kekasih

Tersungkur (3)

Tersungkur (3)
Titipan Doa Seorang Kekasih
Kamis, 26 Januari 2017 22:34 WIB
Penulis: Syarifuddin Kasem

Tiba di rumah, ia langsung masuk ke kamarnya, di sana ada Rival yang sedang Shalat Ashar, Syarief pun duduk di meja belajarnya dengan hati yang mengeluh, kenapa hingga saat ini, Aisya masih belum puas menghinanya, lalu ia menarik buku hariannya, dan melihat foto Aisya, yang sedang tersenyum yang mengenakan baju seragam MTQ-nya, seakan-akan Syarief hendak merobeknya, begitu sakitnya di hati.

“Berterus terang saja sama Bu Aini, kalau kakak cinta sama Aisya” kata Rival dari belakang Syarief, yang baru saja selesai Shalat.

“Menghadap Bu Aini, tidak semudah yang Rival fikirkan, apalagi mau bicara soal cinta.” jawab Syarief.

“Jadi mau sampai kapan kakak begini?”

Syarief tidak menjawab, ia malah bangun dan keluar untuk menuju Musala, ia berfikir di situlah tempat satu-satunya untuk menenangkan dirinya.

***

Pada malamnya, Syarief baru saja tiba di tempat ia mengajar bersama kitab di tangannya, ia melihat Abia sedang mengontrol santri-santri, Syarief mendekatinya, seraya ia bersalaman dan mencium tangan Abia.

“Bagaimana dengan proses mengajarnya?” tanya Abia.

“Baik Abia, cuma sedikit takut kalau mereka tidak mendapatkan Ilmu apa-apa dari saya, apa lagi mereka terlalu bandel” jawab Syarief pelan.

“Ia, kamu tau kenapa saya suruh kamu untuk mengajar? Supaya kamu mengenal diri kamu sendiri, ketika mereka itu bandel, karena itu lumrahnya anak-anak, yang ada di pikiran mereka hanya bermain, terus... supaya kamu tau di mana kekuranganmu, ketika kamu mengajar dan tidak tau tentang hal yang akan kamu ajarkan, maka kamu akan mencari tau tentang hal tersebut, itu bisa membuatmu lebih tau tentang apa yang tidak kamu tau, dan kamu akan tau seberapa pandainya kamu. Makanya lebih baik kamu mengajar, sambil juga kamu belajar.”

Syarief hanya bisa mendengar  kata-kata Abia yang membangkitkannya untuk terus mengajar. Sambil matanya melirik santri-santri yang datang satu persatu.

“Ya sudah, sudah boleh mengajar, waktu telah tiba.” kata Abia pelan-pelan.

“Ia Abia”

Syarief kembali mencium tangan Abia dan segera ke kelas ia mengajar

Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba Ustaz Hasan menemuinya.

“Malam besok ceramah singkat ya!” kata Ustaz.

“Tentang apa Ustaz? acara apa?”

“Bebas, malam besok kita buat perpisahan menyambut bulan Ramadhan!”

“Baik Ustaz!”

Ustaz pun melanjutkan langkahnya ke kelasnya untuk mengajar, begitu pula Syarief, ia masuk ke kelasnya untuk mengajar, seraya ia duduk dan melihat santri-santrinya, ia berdo’a dalam hatinya, “Ya Allah... limpahkanlah ilmu yang bermamfaat untuk mereka, kuatkan hati mereka untuk terus belajar, dan memenuhi kewajiban mereka selaku hambamu”

Lalu ia mengajar seperti biasa, dan Setelah mengajar ia langsung pulang, untuk Shalat ‘Isya.

Selesai Shalat, ia duduk di meja belajarnya untuk mempersiapkan bahan pidatonya untuk malam besok yang ia ambil bahannya dari kitab Ta’lim Muta’allim, Syarief tersenyum ketika membuka kitab tersebut, karena kitab itu mempunyai banyak kenangan baginya, selain kenangan ketika ia menasehati Aisya, kitab itu juga menjadi kenangan terbesar baginya ketika ia belajar di pesantren bersama Ustaz Al-Bashri.

Bagi santri, kitab itu terbilang sulit, termasuk bagi Syarief, sehingga ia selalu mendapat hukuman dari Ustaznya, ketika ia tidak bisa memahami kitab tersebut, tapi kini kitab itu yang paling ia pahami, memang tidak salah ketika seorang Ustaz menghukum kita karena tidak bisa memahami ilmu yang ia berikan.

Selesai belajar, Syarief melihat jam di dinding  kamarnya sudah pukul 00:00 dini hari, maka ia pun menutup kitabnya dengan berlahan, seraya menciumnya dan menyelipnya dalam barisan kitab-kitab yang lain.

“Semoga malam besok Aisya hadir dan mendengarkan ceramah dari saya.” kata Syarief dengan pelan dalam desahan nafas malam, karena ia berfikir untuk menasehati Aisya secara langsung, itu sudah tidak mungkin, apalagi Aisya sudah terlalu membencinya. Lalu Syarief bangun dari tempat duduknya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Kategori:SerbaSerbi
wwwwww