Cerbung Titipan Doa Seorang Kekasih

Tahajud Dalam Cinta (1)

Tahajud Dalam Cinta (1)
Titipan Doa Seorang Kekasih
Kamis, 05 Januari 2017 11:21 WIB
Penulis: Syarifuddin Kasem

Dalam kegelapan malam, langit bercahaya di penuhi bintang-bintang berkerdipan yang bersenandung bersama bulan, suasana bumi terasa dingin, daun-daun kering jatuh tertiup angin.

Di malam itu, Syarief melihat Aisya menangis tersedu-sedu di sudut bumi, maka cepat-cepat ia mendekati Aisya untuk mengobati perih di hatinya.

“Aisya, Aisya kenapa?” tanya Syarief sambil mengerutkan keningya.

“Pergi kak… pergi!” teriak Aisya dengan geram sambil menolak Syarief dengan kuat, sehingga Syarief tersurut dan hampir terjatuh.

Syarief tercengang dengan kelakuan Aisya, yang sangat membencinya, sehingga matanya pun berkaca dan pecah mengalir di pipinya.

“Kakak gak akan pergi Ifa!” jawab Syarief dengan menggelengkkan kepalanya.

“Kakak harus pergi!” teriak Aisya kembali sambil melemparkan barang-barang di dekatnya.

Syarief merasa kecewa, dengan kehadirannya yang ikhlas untuk menyenangi Aisya, tapi sayang, tak di hargai, maka ia pun berpaling berlahan, bersama tetesan air mata yang masih mengalir dan melafadhkan seribu rasa sayang terhadap Aisya.

Aisya yang melihat Syarief berpaling dari dapannya bersama air mata, maka ia merasa sayang, sehingga ia lambaikan tangannya, mencoba memanggil Syarief kembali, tapi lidahnya berat untuk mengeluarkan kata-kata.

Syarief membuka matanya dengan berlahan dalam kamarnya yang gelap, hatinya berdebar sambil menafsirkan mimpinya, maka ia bangun dan menghidupkan lampu kamarnya, matanya terasa silau, ia melihat jam di dinding kamarnya yang sudah pukul 3 pagi, dan melihat Rival yang masih terlelap dalam tidurnya. Maka ia pun membuka pintu kamarnya, dan menuju tempat wudhuk. Lalu ia berwudhuk dalam dinginnya air, yang menenangkan hatinya dalam setiap basuhan.

Lalu ia masuk ke kamarnya kembali dan melentangkan sajadahnya seraya ia mengenakan pakaian Shalatnya, lalu ia berdiri dengan tegak menghadap Tuhannya dalam Shalat Tahajjudnya.

“Allahu Akbar!” takbir yang diucapnya dalam kesunyian malam, yang terlihat sangat khusyuk, dalam setiap sujud  mengharap Ridha dan cinta dari Tuhannya.

Selesai Shalat ia membaca Al-Qur’an, Surah Al-Waqi’ah, dengan suaranya yang serak, hatinya berdebar kencang, seiring alunan Al-Quran menghayunkan pikirannya, apakah tuhan masih melihatnya dengan penglihatan rahmat? ia merasa dirinya bagaikan seorang pengemis yang kehausan cinta dari tuhannya, melupakan cinta manusia yang kini menyiksanya.

Selesai membaca Al-Qur’an, lalu ia menadahkan tangannya, dengan hati yang ikhlas, ia berharap Tuhan mendengarkan setiap lafadh Do’anya.

“Ya Allah… jika hatiku terpenuhi oleh cinta untuknya, di manakah aku akan letakkan cintaku untuk-Mu? jika hari-hariku terus membayangi wajahnya, maka kapankah aku akan membayangi keberadaan-Mu di dekatku? jika mulutku terus menyebut namanya, maka kapankah aku akan menyebut nama-Mu?”

“Maka jadikanlah cintaku tetap untuk-Mu, jadikanlah Ibadahku karena-Mu, jadikanlah cintaku untuknya (Aisya) sebagai mahar untuk kukembali kepadamu, ampunkahlah segala dosa-dosaku, dosa-dosanya dan dosa-dosa kami berdua, Amin…”

Rival yang sedang terlelap, maka ia pun membuka matanya, karena silau dengan cahaya lampu di kamarnya,  ia melihat ke samping kanannya, Syarief tidak ada, lalu ia berpaling ke kiri dan terlihat Syarief yang sedang duduk di atas sajadah, sambil menunduk dengan bibir bergetar.

“Jam berapa?” tanya Rival serak.

“4!” jawab Syarief singkat.

Rival bangkit dari tidurnya, dengan mengerutkan keningnya, “Ada apa dengan kakak?” tanyanya karena melihat Syarief seperti habis menangis.

Syarief menegakkan kepalanya, dan melihat Rival, seraya ia menjawab, “Tadi kakak mimpi Aisya, dia menangis, tapi ia menyuruh kakak pergi.”

“Kemarin katanya mau lupain Aisya, Rival tau kalau kakak selalu memikirkan Aisya, makanya terbawa mimpi.” kata Rival dengan nada prihatin.

Syarief bangun membereskan sajadahnya, lalu ia duduk di ranjang, di samping Rival, ia berkata dengan serius, “Ia, tapi kakak rasa, kakak gak bisa lupain Aisya”

“Hati kakak terlalu sakit” sambung Syarief sambil memejamkan matanya.

“Bilang sama Aisya kak, apa yang kakak rasa!”

“Kakak gak bisa jumpai Aisya, Rival aja yang jumpainya!”

“Rival gak berani ke rumahnya”

“Gak usah ke rumah, Rival tunggu aja di depan pesantren kakak, habis magrib.”

Rival diam, yang berarti ia mau, karena ia sangat menyayangi Syarief sebagai kakaknya, lalu ia bangun dan mendekati tempat wudhuk, untuk berwudhuk karena sebentar lagi waktu subuh akan tiba.

Kategori:SerbaSerbi
wwwwww