Pekerja Lokal Tak Terserap Proyek Infrastruktur, Diduga Buruh China Penyebabnya

Pekerja Lokal Tak Terserap Proyek Infrastruktur, Diduga Buruh China Penyebabnya
Pekerja menyelesaikan pembangunan konstruksi proyek kereta api ringan LRT rute Cibubur-Cawang di Jakarta Timur, 18 Desember 2016. (tempo.co)
Rabu, 21 Desember 2016 06:37 WIB
JAKARTA - Sepanjang tahun 2016 terjaddi penurunan penyerapan tenaga kerja lokal di sektor konstruksi. Direktur CORE Indonesia Mohammad Faisal menduga hal ini disebabkan banyaknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia.

Menurut Mohammad Faisal, dengan gencarnya pembangunan infrastruktur dilakukan pemerintah, seharusnya penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi juga terdongkrak.

"Tetapi menariknya, justru ada konstraksi penyerapan tenaga kerja di bidang ini sebanyak 230 ribu, padahal ada proyek infrastruktur di mana-mana. Ini menjadi pertanyaan kita juga," katanya di Jakarta, Selasa (20/12/2016), seperti dilansir tempo.co.

Dia menduga kondisi tersebut disebabkan masuknya tenaga kerja asing khususnya pada proyek-proyek yang didanai modal pinjaman dari China. Hal ini sejalan dengan melonjaknya kunjungan warga negara asal China yang masuk ke Indonesia menggunakan visa turis.

Faisal mendorong pemerintah untuk lebih sungguh-sungguh mengevaluasi kebijakan bebas visa tersebut agar tidak disalahgunakan sebagai jalan masuk untuk bekerja secara ilegal.

"Karena di sejumlah daerah khususnya di luar Jawa ada ditemukan TKA dari China yang tidak hanya pada level manajemen tetapi juga level pekerja kasar," ujarnya.

Selain itu, Faisal menyebutkan konstraksi penyerapan tenaga kerja ini juga terjadi lantaran pembangunan infrastruktur lebih banyak menggunakan teknologi. Mengutip data laporan Badan Pusat Statistik pada Agustus 2016, penambahan tenaga kerja terjadi di hampir semua sektor. Tingkat pengangguran terbuka pun turun menjadi 5,61 persen dari posisi 6,18 persen pada tahun lalu.

Namun, peningkatan penyerapan tersebut masih didominasi oleh sektor-sektor yang memiliki tingkat produktivitas rendah. Sektor tersebut yakni jasa kemasyarakatan sebanyak 1,5 juta orang atau sekitar 42 persen, sektor perdagangan sebanyak 1 juta orang atau 28 persen, dan sektor transportasi sebanyak 0,5 juta orang atau 14 persen.***

Editor:hasan b
Sumber:tempo.co
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww