Cerbung Titipan Doa Seorang Kekasih

Surat Untuk Aisya (3)

Surat Untuk Aisya (3)
Titipan Doa Seorang Kekasih
Selasa, 20 Desember 2016 15:33 WIB
Penulis: Syarifuddin Kasem
Dengan rasa egois Aisya membuka pintu gerbang rumahnya, ia masuk dan
menguncikannya. Syarief yang berdiri di luar gerbang, ia mencoba
menyaksi kelakuan Aisya yang egois, sambil tangannya menggenggam
jari-jari gerbang. Aisya pun membalas tatapan Syarief, dengan mata
indahnya yang berkaca-kaca, karena kini ia terpaksa harus
menghancurkan hati laki-laki yang ia cintai dan mencintainya,
laki-laki yang ia sayangi dan menyayanginya, yang setia menemaninya
selama ini.

“Aisya jangan nangis!” kata Syarief lembut.

“Apa yang terjadi? kasih tau kakak kenapa?” Sambung Syarief dengan
tergesa-gesa, ia tak ingin melihat Aisya meneteskan air matanya.

Kaca-kaca di mata Aisya pun pecah, mengalir, dan menetes di atas kitab
yang ia peluk, seraya Aisya berkata, “Kakak gak salah apa-apa, tapi
kakak jangan cintai Aisya lagi, sekarang kakak harus pergi!”

“Aisya… kenapa harus begini?”

“Pergilah kak…” kata Aisya lembut, sambil berpaling untuk masuk ke rumahnya.

Syarief masih berdiri sambil menyaksikan Aisya, dengan wajah yang
sedih, karena hubungannya sama Aisya sudah berakhir, tanpa alasan yang
pasti.

Lalu Syarief pun meninggalkan rumah Aisya, berjalan berlahan dengan
membawa segunung kesedihan yang menggoncang dadanya, rasa-rasanya ia
hendak berteriak memanggil nama Aisya dengan keras, ia takut besok ia
tidak bisa lagi menampilkan senyuman Aisya kepada dunia, bahkan, ia
harus menampilkan tangisan dirinya kepada dunia.

Sementara Aisya, ia masuk ke kamarnya, dan memeluk gulingnya, bersama
air mata di pipinya, ia menyesali akan perkenalan yang sudah
berlangsung berbulan-bulan, hatinya kembali berkata dalam isak
tangisnya. “Kakak... maafkan Aisya ya kak..., kakak harus bisa
menerima kenyataan ini”.

Malam itu dengan lemah gemulai, Syarief duduk di depan rumahnya yang
sedikit dari cahaya lampu, sambil menatap bintang yang pernah ia
perlihatkan kepada Aisya, dan melihat cincin pemberian Aisya yang
masih melingkar di jari manisnya.

Sementara Rival yang sedang berada di dalam rumah, ia heran kenapa
Syarief gak masuk-masuk? Lalu ia pun keluar untuk menemuinya, ia lihat
Syarief duduk dan terdiam, ia pun mendekatinya, duduk di sampingnya.

”Ada apa dengan kakak?” tanya Rival.

Syarief hanya diam, dan Rival tau bahwa Syarief sedang dalam masalah,
maka ia bertanya kembali.

“Ada apa dengan kakak?”

Mendengar kata-kata itu, mata Syarief mulai berkaca-kaca, karena ia
merasa kalau kisah Aisya sudah berakhir, dulu ia selalu membanggakan
diri di depan Rival, sebab ia bisa dicintai oleh Aisya, tapi sekarang
Aisya sudah pergi, sehingga ia tidak lagi bercerita tentang Aisya
kepada Rival.

“Aisya sudah pergi Val!“ kata Syarief.

“Pergi ke mana?” tanya Rival.

“Dia sudah mengakhiri hubungan ini!“

“Alasannya?”

“Gak tau, Aisya cuma bilang kalau kakak tidak bersalah!”

Lalu mereka terdiam sejenak sambil berfikir dalam-dalam, “kenapa
begini?” lalu Rival berkata, sambil menepuk bahu Syarief tanda kasih
sayangnya.

“Yasudah… besok kita selesaikan,  yuk kita tidur dulu, kak!“

Syarief dan Rival pun bangun, dan masuk ke kamar mereka. Malam itu
Syarief tidak tau harus berbuat apa, yang bisa ia lakukan hanyalah
memegang penanya dengan buku notanya yang pernah ia tulis kisah
cintanya bersama Aisya, sesekali ia melihat Rival yang sudah tertidur
lelap di tempat tidurnya.

Mulailah ia membaca kisahnya, dari pertama ia melihat Aisya, ketika ia
bersilaturrahmi ke rumah Bu Aini, malam itu Aisya yang menghidangkan
air untuknya, terakhir sampai Aisya pamit kepadanya untuk pulang ke
desanya sebentar, maka Syarief pun tersenyum dalam tangisannya.

Lalu ia buka lembaran baru untuk menulis kejadian malam ini, tapi ia
tak mampu menulisnya, karena terlalu sakit untuk di kenang, maka ia
pun menulis kata-kata yang tak bertujuan, kadang-kadang dengan kasar
ia menyoret-nyoretnya, akhirnya ia tertidur bersama buku dan penanya.

Kategori:SerbaSerbi
wwwwww