10 Perkara yang Perlu Diketahui tentang Perang di Aleppo dan Suriah

10 Perkara yang Perlu Diketahui tentang Perang di Aleppo dan Suriah
Korban berjatuhan di Aleppo, Suriah akibat peperangan berpanjangan. [Foto The Independent]
Sabtu, 17 Desember 2016 21:40 WIB

DAMASKUS - Sesudah enam bulan pengepungan, pemerintah Suriah mengumumkan bahwa mereka telah membebaskan Aleppo. Kota terbesar kedua di Suriah setelah ibu kota, Damaskus.

Seharusnya evakuasi warga sipil dari kota itu sudah dimulai, namun pertempuran meletus lagi.

Diyakini, gencatan senjata ambruk sesudah pemerintah menuntut pemberontak untuk membuka jalan bagi warga sipil dan serdadu pemberontak yang terluka untuk meninggalkan kota.

Betapa pun, itu berarti penderitaan rakyat Aleppo jauh dari usai.

Pemboman terhadap bagian terakhir kota yang dikuasai pemberontak, bisa jadi merupakan kejahatan perang, kata pernyataan PBB, Rabu (14/12).

BBC berbicara dengan Tim Eaton ahli Timur Tengah dari lembaga think tank internasional Chatham House, yang memapar keadaan di sana, setelah mengecek topik paling dicari di Google tentang Suriah.

1. Siapa yang saling berperang di Suriah?

Secara umum, pemerintah Suriah memerangi kelompok-kelompok pemberontak. Namun itu merupakan suatu penyederhanaan besar-besaran.

"Ini tentang beragam peperangan, dan bukan cuma satu peperangan saja," katanya.

"Perang yang berbeda-beda itu berkelindan satu sama lain di beberapa tempat dengan berbagai cara. Setiap kelompok bentrok dengan berbagai kelompok lain.''

"Di beberapa tempat, rezim Bashar al Assad memerangi ISIS. Di beberapa tempat lain, pemberontak dan kelompok-kelompok bersenjata Kurdi memerangi ISIS."

2. Bagaimana semua itu bermula?

Semuanya bermula pada tahun 2011 sesudah apa yang disebut Musim Semi Arab - serangkaian unjuk rasa antipemerintah di berbagai negara di Timur Tengah.

Suriah juga. Rakyat mengungkapkan kemarahan tentang pejabat yang korup dan kurangnya kebebasan sipil.

"Ketika rezim menanggapi aksi-aksi itu dengan langkah yang makin brutal dan penuh kekerasan, banyak pengunjuk rasa dan kelompok tertentu yang menyimpulkan bahwa satu-satunya cara berhadapan dengan pemerintah adalah dengan mempersenjatai diri dan menggulingkan rezim."

"Hal ini berkembang menjadi perang saudara yang berlarut-larut."

3. Siapakah Presiden Bashar al-Assad?

Dia sebetulnya bukan orang yang seharusnya memegang pemerintahan. Awalnya ia dikirim kuliah ke London untuk menjadi dokter mata.

Tapi kemudian kakaknya meninggal dan dia dipanggil kembali kembali ke Suriah dan dipersiapkan untuk mengambil alih kekuasaan jika ayahnya meninggal.

"Sebenarnya muncul banyak harapan ketika ia menggantikan ayahnya pada tahun 2000," Tim Eaton menjelaskan.

"Orang-orang merasa ini mungkin kesempatan untuk menjadi lebih liberal, untuk membuat semuanya jadi lebih terbuka.''

"Selama beberapa tahun pertama, harapan itu segera memudar. Sejak 2011 kita telah menyaksikan kebrutalan rezim yang tak segan untuk menggunakan strategi kekerasan.''

"Dia seorang yang bisa melakukan berbagai hal yang mengerikan."

4. Mengapa Rusia membantunya?

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya.

"Ada yang mengatakan, itu karena Rusia memiliki pangkalan Angkatan Laut di pesisir Suriah. Yang lain mengatakan, Rusia juga ingin turut membasmi kaum ekstrimis Islamis."

Tapi Tim Eaton meyakini, semuanya merupakan suatu permainan kekuatan global.

"Rusia menempatkan diri mereka di puncak permainan, untuk menyejajarkan diri dengan Amerika Serikat."

Editor:Kamal Usandi
Sumber:bangka.tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww