Oalah... Terungkap! Ternyata Salah Ketik Jadi Penyebab Utama Kekalahan Hillary Clinton

Oalah... Terungkap! Ternyata Salah Ketik Jadi Penyebab Utama Kekalahan Hillary Clinton
Hillary Clinton
Kamis, 15 Desember 2016 20:05 WIB
NEW YORK - Kekalahan menyakitkan Hillary Clinton dari lawannya Donald Trump dalam Pilpres AS 2016 dinyakini karena kebocoran email Komite Nasional Demokrat (Democratic National Committee/DNC). Namun faktanya kebocoran tersebut karena kesalahan Demokrat yang melakukan typo alias salah ketik.

Hasil Investigasi yang dilakukan New York Times seperti dilansir dari Reuters, Kamis (15/12/2016) menemukan, para hacker asal Rusia yang meretas email tersebut diyakini mendapatkan akses ke ribuan email dari para petinggi Demokrat gara-gara salah ketik atau typo.

Berawal dari seorang staf yang diduga mengetik kata legitimate, dengan illegitimate sepeti yang tak seharusnya. Dua huruf yang hilang tersebut berakibat fatal.

Jelang pilpres, Komite Nasional Demokrat menerima lebih dari satu email phishing yang berusaha untuk secara curang mendapatkan informasi data pribadi. Salah satunya dikirimkan ke John Podesta, ketua tim kampanye Hillary Clinton.

Salah satu stafnya, Charles Delavan menemukan pesan tersebut yang dikirimkan ke akun pribadi Podesta. Email itu meminta Podesta mengganti kata sandinya (password).

Delavan menyadari, email tersebut ialah serangan pengelabuan (phishing attack) dan meneruskannya ke teknisi komputer untuk ditangani.

Namun, ia salah tulis, dengan menulis, “Ini merupakan email yang sah (legitimate).”

Ia kemudian menambahkan, “John (Podesta) perlu mengubah passwordnya segera.”

Kesalahan tersebut memungkinkan para peretas yang diduga kuat berkaitan dengan Kremlin bisa mengakses sekitar 600 ribu email dalam akun pribadi Podesta di Gmail.

Berdasarkan keterangan para menteri intelijen AS, Moskow kemudian memberikan cache email tersebut ke WikiLeaks.

Situs pembocor tersebut kemudian merilis data-data tersebut pada Oktober 2016. Skandal email yang kemudian mendominasi pemberitaan kemudian dieksploitasi oleh kubu Donald Trump.

New York Times melaporkan, FBI sudah mengetahui bahwa Rusia melakukan upaya sistematis untuk merilis sejumlah institusi politic di AS termasuk Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri. (snd)

Editor:wawan k
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww