Miris... Murid-murid SD Ini Terpaksa Seberangi Sungai Pakai Rakit Pohon Pisang untuk ke Sekolah

Miris... Murid-murid SD Ini Terpaksa Seberangi Sungai Pakai Rakit Pohon Pisang untuk ke Sekolah
Siswa seberangi sungai dengan rakitan pohon pisang. (foto: jpnn.com)
Selasa, 13 Desember 2016 14:04 WIB
TRENGGALEK - Semangat para pelajar dari Desa Sukorejo dan Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur untuk bersekolah patut mendapat apresiasi.

Banjir pada 17 Agustus mengakibatkan Jembatan Samiaji yang berada di atas Sungai Tawing, Desa/Kecamatan Gandusari, tak bisa digunakan.

Akibatnya, bukan hanya mobilitas masyarakat yang terganggu, aktivitas sekolah pun ikut merasakan dampaknya hingga sekarang.

Puluhan siswa di Desa Gandusari dan Sukorejo harus menggunakan rakit dari pohon pisang untuk sampai ke sekolah.

Saat berada di atas, mereka harus saling berpegangan lantaran rakit terkena arus sungai.

"Kami sebenarnya sudah membuat jembatan darurat, tapi ya hilang saat ada hujan," ujar Sukarno, salah seorang warga pada Sabtu lalu.

Sungai Tawing memang cukup besar, yakni memiliki lebar 60 meter. Air yang mengalir di sungai tersebut merupakan kumpulan dari beberapa daerah.

Di antaranya, Kecamatan Munjungan dan Kampak, sebelum menerima air dari daerah Gandusari.

Arus di sungai itu cukup deras. Akibatnya, jembatan darurat yang dibangun warga turut hanyut terbawa arus.

Sebenarnya ada jalur lain ke sekolah yang tidak begitu jauh, yakni Jembatan Pucung. Namun kondisi jembatan tersebut juga sulit dilalui.

Karena itu, warga memilih lewat sungai dengan catatan tidak hujan. Selain itu, mereka bisa menempuh jalur di Desa Widoro dengan memutar sejauh 5 km.

Kepala Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Sunarto mengakui kondisi tersebut.

Untuk sementara, tidak ada jalur yang lebih efektif daripada menggunakan rakit itu. Meski, hal tersebut berisiko terbawa arus.

"Kalau hujan, masyarakat tidak berani menyeberang. Sebab, arus Sungai Tawing sangat deras," katanya.

Pihaknya juga membenarkan pembangunan jembatan alternatif atau darurat oleh warga di dua desa itu.

Hanya, jembatan tersebut selalu hanyut terseret arus sungai. "Kalau tidak salah, sudah tiga kali dibangun jembatan dari bambu untuk mobilitas sementara," imbuhnya. (jpnn)

Editor:wawan k
Sumber:jpnn.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww