Masuk Secara Ilegal, Kentang China Banjiri Pasar, Petani Indonesia Dirugikan Rp160 Miliar dalam 6 Bulan

Masuk Secara Ilegal, Kentang China Banjiri Pasar, Petani Indonesia Dirugikan Rp160 Miliar dalam 6 Bulan
Demo para petani kentang. (int)
Sabtu, 10 Desember 2016 09:24 WIB
JAKARTA - Kentang sayur (granola) asal China yang diduga masuk secara ilegal, membanjiri pasar di Indonesia. Harga kentang tersebut sangat murah, hanya Rp5 ribu per kilogram. Akibatnya, kentang yang berasal dari kebun petani Indonesia dihargai murah.

Sebagai protes terhadap masuknya kentang China tersebut, para petani kentang mengatasnamakan Aliansi Serikat Petani Indonesia, dipimpin Ketua Serikat Petani Indonesia, Henry Saragih, melakukan demo pada Kamis (8/12).

Henry mengatakan, kentang sayur impor membanjiri sejumlah pasar ibu kota, seperti di Pasar Kramat Jati, sudah ada sejak Juni 2016. Atas kondisi itu, petani kentang lokal jadi dirugikan karena produknya dihargai murah, bahkan tidak laku.

Kata Henry, harga kentang impor dijual dengan harga miring yakni Rp5.000/kg. Padahal, harga kentang lokal normalnya di atas Rp10.000/kg di tingkat petani.

"Harga kentang impor dijual sampai Rp 5 ribu/kg di pasar untuk kentang impor sayur. Padahal normalnya ya kalau kentang lokal diatas Rp 10 ribu/kg di tingkat petani," ujar Henry.

Nah, kentang impor ini, menurut Henry, kebanyakan berasal dari China. Pada Juni hingga Desember membanjiri pasaran. Kondisi inilah yang menimbulkan kerugian besar pada petani kentang. "Petani lokal menjual dengan harga Rp 7.000/kg jadi rugi. Harusnya Rp10.000/kg,"kata dia.

Dia menambahkan kalau selama Juni hingga Desember ini, petani mengalami kerugian hingga Rp 160 miliar. Saat ini, petani kentang tengah menunggu tindaklanjut dari pemerintah.

Termasuk janji Menteri Perdagangan Enggartyasto Lukita dalam melindungi produk dalam negeri. Sang menteri bahkan menyebut kentang impor yang beredar di pasaran adalah ilegal. Pihak Kemendag juga siap menertibkan masalah ini. "Mereka bilang itu kentang illegal. Dan akan diproses secara hukum. Kita tunggu aja apa tindakan pihak kepolisian," tukasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:inilah.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww