Lukisan Tua di Dinding Ungkap Praktik Prostitusi di Kaki Gunung Berapi 2.000 Tahun Silam

Lukisan Tua di Dinding Ungkap Praktik Prostitusi di Kaki Gunung Berapi 2.000 Tahun Silam
Seorang pengunjung memotret lukisan adegan tak senonoh di Pompeii. (dream)
Sabtu, 10 Desember 2016 12:22 WIB
JAKARTA - Sebuah lukisan tua bernama Lupanar dari Pompeii, Italia, mengungkapkan, praktik prostitusi (pelacuran) di rumah bordil di kaki Gunung Vesuvius, gunung berapi, Pompeii, Italia.

Rumah bordil yang terkenal di masa itu memiliki layanan sepuluh kamar. Rumah bordil tersebut populer di kalangan orang-orang Romawi sebelum akhirnya runtuh di 79 Masehi.

Lukisan di dinding tersebut menjadi daya tarik turis sejak pertama kali dibuka pada 2006. Lukisan tersebut menunjukkan layanan senggama secara berkelompok maupun adegan tak senonoh lainnya.

Setiap satu dari sepuluh kamar yang tersedia di rumah bordil tersebut berisi tempat tidur batu yang ditutupi kasur. Meski di dalam lukisan tersebut adegan senggama ditampilkan dengan menarik, namun menurut beberapa peneliti, kehidupan di rumah bordil tersebut sangat suram.

Umumnya Budak

Beberapa peneliti percaya, pelacur di Pompeii adalah budak yang tidak terlatih dalam melakukan gerakan-gerakan persenggamaan.

Peneliti dari Western University Profesor Kelly Olson mengatakan muramnya kondisi di lokasi pelacuran tersebut.

"Ruangan di lokasi tersebut sangat kecil, lembab, gelap dan tak nyaman," kata Olson dilansir The Sun.

Menurut Olson, prostitusi memang legal di Pompeii. Pria yang telah menikah dapat tidur dengan siapapun asalkan dengan perempuan yang telah menikah.

Pompeii merupakan kota Romawi kuno di dekat Naples di Italia. Letusan Gunung Vesuvius pada 79 Masehi menghancurkan dan mengubur sebagian besar kota tersebut.

Diazab Tuhan

Menjelang siang denyut Pompeii, belum sepenuhnya menyala. Warga kota megah di kaki Gunung Vesuvius, Italia itu masih terlelap sisa pesta semalam suntuk hari sebelumnya.

Nyaris menjadi kebiasaan warga kota, menggelar pesta mengumbar semua kegilaan duniawi. Semua jenis minuman ditenggak. Jangan tanya seberat apa kadar alkoholnya. Jiwa seperti terbang dari raga. Pergaulannya bebas.

Namun, hari itu, 24 Agustus tahun 79 Masehi, penghuni Pompeii yang masih asyik di peraduan tersentak. Mata yang masih berat pun terpaksa terbuka ketika ranjang empuk bergetar hebat. Langit rumah ikut bergoyang.

Belum ada semenit, mereka kembali dikagetkan suara gemuruh yang turun dari gunung Vesuvius. Dalam sekejap, patung-patung besar dari perunggu berpose mesum, gedung teater, pemandian, arena gladiator serta rumah bordil --landmark termasyhur kota itu-- roboh.

Orang-orang tumpah ke jalanan dengan pandangan kosong tak berdaya. Mereka bertanya, " Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?" tulis Pliny muda (pejabat dan penyair Romawi) menceritakan kisah menyeramkan itu lewat surat-surat bersejarahnya yang kemudian dilansir kantor berita Inggris, BBC.

Kengerian itu sejatinya baru dimulai, saat mata mereka terbelakak melihat batu besar terlempar ke langit beserta lahar panas yang kemudian menghujam bumi. Semua itu muntahan isi 'perut' gunung Vesuvius yang tengah murka.

Letusan itu berlangsung seharian. Tanpa ada peringatan serta jalan keluar, 20.000 orang penghuninya terjebak. Lahar panas yang berlimpah ruah memanggang Pompeii. Membumihanguskan semua tanda-tanda kehidupan.

Kota yang berdiri di bawah pemerintahan Kaisar Romawi Nero lenyap seketika. Terkubur lahar panas dan debu sedalam hingga tiga meter. Sejak itu Pompeii pun dilupakan orang.

Hampir dua millenium raib, Pompeii secara tak sengaja ditemukan pada 1748. Kala itu, sejumlah arkeolog mencari keberadaan artefak berharga dan harta karun di wilayah Campania, sebelah tenggara kota Napoli, Italia.

Ketika itulah misteri hilangnya kota Pompeii selama ribuan tahun akhirnya terbongkar. Bahkan lebih mengejutkan adalah artefak yang ditemukan tidak hanya berupa tembikar dan barang kuno, tetapi juga puluhan jasad dalam kondisi mengejutkan.***

Editor:hasan b
Sumber:dream.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww