Cerbung Titipan Doa Seorang Kekasih

MC dan Qari'ah (1)

MC dan Qariah (1)
Titipan Doa Seorang Kekasih
Jum'at, 09 Desember 2016 14:47 WIB
Penulis: Syarifuddin Kasem

Sementara Syarief, sampai di musala, ia langsung mengambil sapu, dan menyapu musala. Sedang asik ia menyapu musala, tiba-tiba Ustaz Hanafi masuk ke musala, seperti biasa beliau tadarus dulu sebelum waktu maghrib tiba, karena melihat Syarief, maka beliau berkata kepadanya.

“Malam besokkan kita membuat acara Dakwah dalam rangka Maulid Nabi, maka Syarief jadi MC ya!”

“Ia, Ustaz, acaranya di mana Ustaz?” jawab Syarief dengan senang hati.

“Di sini, di halaman musala”

“Ooo baik Ustaz.”

Ustaz hanafi duduk di musala bagian depan, seraya memulai Tadarusnya.


***

 

Malam yang sejuk, jalan mulai sepi, yang terdengar hanya langkah Syarief dan Aisya yang sedang pulang dari tempat mereka belajar, di tengah jalan yang berkerikil, langkah yang seirama dan senada, sambil mereka memeluk kitab-kitab mereka.

“Malam besok, kakak jadi MC, nonton ya?” kata Syarief kepada Aisya yang berjalan lembut di sampingnya

“Berarti malam besok kita gak belajar ya?”

“Ia, Aisya jadi apa malam besok?”

“Aisya siap jadi penonton setia kakak aja!” jawab Aisya senyum.

Sesampai mereka di rumah masing-masing, Syarief langsung mengambil kertas putih untuk menulis konsep persiapan malam besok, ia sengaja merangkai kata-kata dalam bahasa Arab, supaya Aisya bisa bangga, dan Syarief bisa menampilkan hal yang unik di desanya.

***

Tiba di malam acara, Syarief sudah siap dengan konsepnya, dan bajunya yang bagus, ia lihat jam dinding di rumahnya sudah pukul 8 malam, maka ia pun berangkat ke tempat Acara. Tiba di sana ia melihat penonton yang sudah siap untuk menyaksikan acara, di jalan pun penuh dengan pedagang jagung, kacang, dan lain-lain, Qashidah pun sudah terdengar keras di Sound System sambil menunggu acara dimulai, sehingga membuat hatinya bergetar.

“Ini!” kata seorang panitia kepada Syarief yang dari tadi menunggunya, sambil menyodorkan selembar kertas yang terlipat rapi, yang tertulis susunan acara.

“Ia.” Jawab Syarief sambil tersenyum.

Syarief pun membukanya dengan berlahan, satu lipatan demi satu lipatan, terbukalah semuanya, dan Syarief pun kaget ketika membacanya, karena di bawah namanya sudah tertera nama Aisya, di mana Aisya menjadi pembaca ayat suci Al-Qur’an.

“Aisya... kamu memang orang pandai Sya...” kata hati Syarief sambil menoleh ke kiri, dan ke kanan untuk mencari Aisya di mana, namun yang telihat hanya penonton yang berkeliaran, Maka Syarief duduk di tempat yang telah disediakan panitia dengan mata yang masih melirik untuk mencari Aisya, “Kamu di mana Sya?” bisik hati Syarief. Tiba-tiba.

”Syarief!” suara Ustaz Hanafi di belakangnya.

“Ia, Ustaz!“Jawab Syarief sambil menoleh.

“Acara sudah bisa dimulai!”

“Ia Ustaz.”

Syarief pun berjalan menuju panggung, dengan matanya yang masih melirik mencari Aisya, lututnya bergetar karena penonton terlalu banyak.

Bismillahirrahmanirrahim.” ucap Syarief ketika menginjak tangga pertama, terus ia melangkah ke atas panggung, sampai di sana ia melihat ke arah penonton yang begitu banyak, badannya terasa dingin, lalu ia mengambil Microfont.

Assalmualiakum Wr.Wb” ucapnya sebagai permulaan.

Lalu ia menyambungnya dengan Hamdallah, beserta Shalawat kepada Nabi Junjungan kita Muhammad SAW. Lalu ia menyampaikan sepatah kata pembukaan, kata terimakasih, beserta penghormatan, tentunya dalam Bahasa Arab.

Hatinya mulai tenang, apalagi para penonton menyimak setiap kata-katanya dengan baik, walau banyak dari mereka tidak mengerti apa yang sedang disampaikan oleh Syarief, namun membuat mereka terkagum, terlebih-lebih Ummi yang duduk dalam kawanan pononton ibu-ibu, sehingga membuat beliau menggugah jiwa, air mata seakan-akan tak tertahan dalam rasa hati yang penuh dengan keharuan, apalagi ketika mendengar suara ibu-ibu di sampingnya yang bertanya-tanya.

“Anak siapa ya? Anak siapa ya?” sehingga sekujur tubuhnya terasa merinding, walau yang tak terlafadh dengan kata-kata, tapi hati mulai merasa, bahwa beliau sudah berhasil, perjuangannya selama belasan tahun ini terasa tanpa beban apa-apa.

Kategori:SerbaSerbi
wwwwww