Ternyata... Pesan Negatif di Medsos Diingat Lebih Lama daripada Pesan Positif

Ternyata... Pesan Negatif di Medsos Diingat Lebih Lama daripada Pesan Positif
ilustrasi
Rabu, 07 Desember 2016 10:02 WIB
PENELITI Status Media Sosial dari UI Roby Muhamad, mengatakan, medsos ibarat snack. Sedikit, renyah, dan menyenangkan.

Konten emosi lebih kuat bila dibandingkan dengan media mainstream yang lebih faktual dan rasional. Ternyata pengaruh status dengan muatan negatif lebih kuat jika dibandingkan dengan status positif.

Kondisi tersebut diungkapkan Roby Muhamad sebelum tampil sebagai pembicara Big Data and Disruptive Technologies pada Australia-Indonesia Science Symposium di The Shine Dome, Canberra, beberapa waktu lalu.

’’Emosi manusia bisa menular hanya melalui membaca status. Tak lagi membutuhkan tatap muka,’’ katanya seperti dilansir jpnn.com, Rabu (7/12).

Status dengan emosi negatif akan berdampak bagi pembaca. Yakni, terdorong membuat status yang negatif pula. Demikian pula sebaliknya pada status positif.

Selain emosi, status positif bisa memengaruhi kondisi fisik seseorang. Pesan positif, antara lain, kutipan yang menyenangkan, motivasi, serta cerita inspiratif.

Dia memberikan contoh tentang pertemanan di Facebook. ’’Pada kelompok orang yang menerima banyak permintaan pertemanan, terjadi penurunan angka kematian,’’ ungkapnya.

Kelompok orang yang mengajukan banyak pertemanan tidak memengaruhi angka kematian. Kondisi itu berkaitan dengan tingkat kebahagiaan dan emosi.

’’Tapi, pesan negatif justru diingat lebih lama. Hal ini berkaitan dengan sifat dasar manusia yang menganggap sesuatu yang negatif sebagai sinyal bahaya,’’ jelas sosiolog 41 tahun tersebut.

Pesan negatif itu, antara lain, pornografi dan kriminal.

Kehadiran medsos, lanjut dia, memang tidak terelakkan. Termasuk di dunia bisnis.

Di sini bukan melulu tentang ilmu komputer, tetapi juga melibatkan perilaku. ’’Bisa kecanduan, bisa beli online, bisa ketergantungan pada dunia digital. Semua itu berkaitan dengan ilmu sosial,’’ ungkapnya.

Begitu pula di dunia riset sosial. Para peneliti bahkan dapat melakukan berbagai studi mengenai perilaku manusia melalui medsos.

’’Bisa dikatakan, di dunia digital, peneliti sosial kebanjiran data mengenai perilaku manusia,’’ ujar pria yang meraih gelar PhD di Columbia University, New York, AS, tersebut.

Computer scientist dan social scientist, menurut dia, bisa bekerja sama untuk mengembangkan metodologi penelitian dari jutaan data sampah dari dunia digital.

Data itu dapat dipilah untuk diambil yang berkaitan dengan studi yang dipilih. Sebab, beraneka aplikasi dan medsos bisa diibaratkan laboratorium perilaku.

Kehidupan digital, menurut Roby, menjadi opportunity baru dalam riset-riset sosial. Di AS, saat ini berkembang pesat computational social science.

’’Bisa lebih murah dan efisien karena tanpa melakukan survei,’’ tandasnya. (jpnn)

Editor:wawan k
Sumber:jpnn.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww