2 Jenderal Purnawirawan yang Ditangkap Polisi Merupakan Tokoh Masyarakat Minang, Ini Profilnya

2 Jenderal Purnawirawan yang Ditangkap Polisi Merupakan Tokoh Masyarakat Minang, Ini Profilnya
Adityawarman dan Kivlan Zein
Sabtu, 03 Desember 2016 10:03 WIB
JAKARTA - Pihak Kepolisian menangkap sepuluh tokoh, Jumat (2/12), dengan tuduhan melakukan makar. Dua dari sepuluh tokoh yang ditangkap adalah Brigadir Jenderal (Purn) Adityawarman Taha dan Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein.

Kedua jenderal purnawirawan TNI Angkatan Darat tersebut merupakan tokoh masyarakat Minangkabau. Berikut ini profil singkat keduanya:

Brigjen (Purn) Adityawarman Thaha lahir di Suliki Gunung Mas, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 4 Maret 1945. Pria yang pernah dipercaya sebagai Staf Ahli Panglima TNI berasal dari korps Zeni Angkatan Darat.

Dia mendapat predikat sebagai ahli bom terbaik pada pelatihan militer di Fort Bragg, Amerika Serikat bersama dengan Sjafrie Sjamsoeddin yang mendapatkan predikat terbaik untuk kontra spionase dan anti-teror.

Setelah pensiun dari dinas kemiliteran, tokoh masyarakat Minang asal Padangjopang, Lima Puluh Kota ini aktif di organisasi kemasyarakatan, diantaranya sebagai Ketua Gebu Minang (Gerakan Ekonomi & Budaya Minang) periode 2001-2004.

Sebagai alumni Pelajar Islam Indonesia Aditywarman didaulat menjadi Ketua Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia periode 2011-2015.

Sedangkan Mayjen (Purn) Kivlan Zen, lahir di Langsa, Aceh, 24 Desember 1946, dari orangtua yang berasal dari Minangkabau. Ia pernah memegang jabatan Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) ABRI setelah mengemban lebih dari 20 jabatan yang berbeda, sebagian besar di posisi komando tempur. Kivlan menjabat Kas Kostrad ketika Pangkostrad dijabat Prabowo Subianto.

Pada tahun 2016 Kivlan Zein menjadi Negosiator penting yang berhasil membebaskan 18 Warga Negara Indonesia dari penyanderaan yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf Filipina.

Kivlan Zein merupakan lulusan Akmil 1971. Selama kariernya di militer Kivlan telah memegang sekitar 20 jabatan yang berbeda-beda, sebagian besar di posisi komando tempur. Dimulai dari Komandan Peleton Akabri pada 1971, Danton Ki-B Batalyon 753 tahun 1973, hingga Danyon. Tahun 1990, Kivlan berhasil menyelesaikan pendidikan di Seskoad. Lima tahun kemudian, 1995, posisi Kasdivif-1 Kostrad disandangnya.

Kivlan juga pernah memegang jabatan Dan Kontingen Garuda/Filipina, Kasdam VII/WRB,Pang Divif-2/Kostrad dan Koorsahli Kasad.

Perjalanan karier lulusan Seskoad 1990 ini boleh dibilang lempang. Bahkan, untuk naik ke bintang satu (brigjen) dari posisi kolonel, Kivlan yang mantan aktivis KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) ini hanya butuh waktu 18 bulan.

Sebelumnya jalan kariernya sempat tersendat. Ia menjadi Mayor pada 1981. Pangkat itu sempat disandangnya enam tahun dan pangkat Letkol tujuh tahun. Ia menjadi Letkol saat bertugas di Timor Timur. Ia menjadi kolonel pada 1994. ***

Editor:hasan b
Sumber:wikipedia dan Mingguan GATRA Edisi 25 November 1995 (No.2/ II)
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww