Indonesia Keluar dari OPEC, Ini Alasannya Kata Jokowi

Indonesia Keluar dari OPEC, Ini Alasannya Kata Jokowi
(viva)
Kamis, 01 Desember 2016 13:50 WIB
JAKARTA - Indonesia memutuskan keluar dari keanggotaan di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries). Keputusan tersebut diambil dalam Sidang ke-171 OPEC di Wina, Austria, Rabu (30/11/2016).

Presiden Joko Widodo memastikan Indonesia keluar dari keanggotaan OPEC. "Dulu, kita pernah menjadi anggota OPEC dan tidak menjadi anggota OPEC. Kemudian, kita masuk lagi, karena kita ingin informasi naik turunnya harga, kemudian kondisi stok di setiap negara," kata Jokowi, saat menghadiri pembukaan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (1/12/2016).

Pertimbangan Indonesia saat ini keluar dari keanggotaan OPEC, menurut Jokowi, juga tidak terlepas dari persoalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini. 

"Tetapi, karena untuk perbaikan APBN. Ya, kalau memang kita harus keluar lagi, juga tidak ada masalah," lanjut Presiden.

Keluarnya Indonesia dari keanggotaan OPEC, bukan hal baru. Itu pernah terjadi pada 2008, Indonesia memutuskan keluar dari organisasi ini. 

Pada 2015, dalam sidang OPEC ke 168 yang berlangsung pada 4 Desember 2015, di Vienna Austria, secara resmi menerima pengaktifan kembali Indonesia sebagai anggota organisasi negara-negara eksportir minyak dunia.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, mengatakan, Indonesia memutuskan untuk membekukan sementara atau temporary suspend keanggotaan OPEC. Keputusan tersebut diambil dalam Sidang ke-171 OPEC di Wina, Austria, Rabu.

Ignasius Jonan, yang menghadiri sidang tersebut menjelaskan, langkah pembekuan diambil menyusul keputusan sidang untuk memotong produksi minyak mentah sebesar 1,2 juta barel per hari, di luar kondensat.

Sidang juga meminta Indonesia untuk memotong sekitar lima persen dari produksinya, atau sekitar 37 ribu barel per hari.  "Padahal kebutuhan penerimaan negara masih besar dan pada RAPBN 2017 disepakati produksi minyak di 2017 turun sebesar 5.000 barel dibandingkan 2016," kata Jonan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/12). 

Dengan demikian pemotongan yang bisa diterima Indonesa adalah sebesar 5.000 barel per hari.

Mantan Menteri Perhubungan itu menambahkan, sebagai negara net importer minyak, pemotongan kapasitas produksi ini tidak menguntungkan bagi Indonesia, karena harga minyak secara teoritis akan naik.  Untuk diketahui, dengan ini, Indonesia tercatat sudah dua kali membekukan keanggotaan di OPEC.

Pembekuan pertama pada 2008, efektif berlaku 2009. Indonesia memutuskan kembali aktif sebagai anggota OPEC pada awal 2016. Dijelaskan, pembekuan sementara ini adalah keputusan terbaik bagi seluruh anggota OPEC.

Sebab dengan demikian keputusan pemotongan sebesar 1,2 juta barel per hari bisa dijalankan, dan di sisi lain Indonesia tidak terikat dengan keputusan yang diambil, sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia.***

Editor:hasan b
Sumber:viva.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww