Aleppo Berisiko "Terhapus dari Muka Bumi"

Aleppo Berisiko Terhapus dari Muka Bumi
AFP Pasukan pro-pemerintah berjalan di distrik Hanano, Aleppo timur, yang mereka duduki pada Sabtu (26/11/2016). [AFP]
Kamis, 01 Desember 2016 12:15 WIB
DAMASKUS - Serangan besar di Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, beresiko menjadikan kota itu terhapus dari muka bumi dan berubah menjadi kuburan massal raksasa.

Peringatan tentang risiko itu disampaikan PBB di tengah siuasi di mana pasukan Suriah masuk dan mendesak oposisi dari Aleppo timur, seperti dilaporkan The Independent, Kamis (1/12/2016).

“Aleppo berada di ambang di mana terhapusnya kota itu dari muka bumi," seorang wakil dari Inggris memberikan peringatan terkait situasi terbaru di Aleppo, ibu kota Provinsi Aleppo, Suriah utara.

Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, mengatakan, Aleppo yang dikuasai pasukan oposisi atau pemberontak berisiko menjadi ‘salah satu kuburan raksasa’ di dunia.

Insiden jatuhnya korban jiwa dalam skala besar telah dan bakal terjadi bersamaan terus meningkatnya serangan udara untuk mendukung pasukan darat Suriah di jalan masuk ke kota.

Perwakilan rezim Presiden Bashar al-Assad dan Rusia terlibat cekcok dengan utusan Inggris dan AS dalam sidang darurat Dewan Keamanan (DK) PBB, Rabu (30/11/2016).

Stephen O'Brien, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk urusan kemanusiaan, mengatakan,  hukum internasional telah diabaikan secara sistematis dalam perang saudara di Suriah.

Pertempuran di Aleppo merupakan puncak dari berbagai pertempuran sebelumnya, yang telah berlangsung selama hampir enam tahun perang saudara di Suriah.

"Demi kemanusiaan, kami menyerukan, memohon, kepada para pihak, dan orang-orang yang memiliki pengaruh, untuk melakukan segala upaya mereka demi melindungi warga sipil,” katanya.

O'Brien menyerukan agar para pihak membuka akses kepada misi kemanusian agar bisa menjangkau daerah yang terkepung di Aleppo timur sebelum kota itu menjadi ‘salah satu kuburan raksasa’.

Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) melaporkan, seorang gadis berusia 10 tahun termasuk di antara orang-orang yang tewas dalam serangan pada Rabu.

Sejak 15 November lalu, sudah lebih dari 300 warga sipil, termasuk 33 anak-anak, telah tewas akibat serangan udara dan darat yang dilakukan secara serempat oleh pasukan Suriah.

Pasukan Suriah dan sekutu Iran, Rusia, dan Hezbollah telah menguasai sekitar 40 persen dari wilayah yang sebelum dikuasai oposisi sejak 2014.

Akibatnya, sekitar 50.000 warga sipil melarikan diri. Perang saudara di Suriah selama hampir enam tahun telah menewaskan lebih dari 300.000 orang.

SOHR pada September 2016 memprediksi, korban tewas akibat perang saudara di Suriah berkisar antara 301.781 orang hingga 422.317 orang.

Editor:Kamal Usandi
Sumber:kompas.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww