Cerbung Titipan Doa Seorang Kekasih

Cemburu Bermula Cinta (3)

Cemburu Bermula Cinta (3)
Titipan Doa Seorang Kekasih
Selasa, 29 November 2016 06:00 WIB
Penulis: Syarifuddin Kasem
“Pulang dulu ya!” kata Syarief sama Naila.
“Ia.” jawab Naila senyum.
Syarief bangun dan mendekati Aisya untuk pulang bersamanya, Aisya dengan perasaan kesal, ia mengambil kitab Syarief yang berada dalam pelukannya, dan cepat-cepat ia berikan kepada Syarief yang berjalan di dekatnya, Syarief pun mengambilnya.

“Bagaimana belajar malam ini?” tanya Syarief.
Aisya tidak menanggapi pertanyaan Syarief, ia diam seribu bahasa,
dengan jalan yang lembut dan wajah tanpa gairah.
Syarief pun melihat wajah Aisya yang sedikit suram, ia bertanya,

“Aisya lagi sakit?”
“Ia.” jawab Aisya singkat.
“Sakit apa?”
Aisya hanya diam, Syarief kembali bertanya.
“Aisya sakit apa?”
Aisya masih diam. Syarief merasa prihatin, karena ia menyangka bahwa Aisya, yaitu adik kesayangannya selama ini, sedang dalam keadaan sakit.
“Jangan pulang dulu, Kita ke apotik dulu yuk!” ajak Syarief dengan khawatir.
Aisya menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Syarief, lalu ia bertanya dengan sedikit menentang.
“Itu siapa? Kenapa kakak duduk dengannya?“
Syarief juga menghentikan langkahnya, ia kaget dengan perasaan yang tidak mengerti, tadi Aisya bilang sakit, sekarang malah nanya itu siapa?
“Kenapa? ada apa dengan Aisya?“ tanya Syarief.
Aisya pun melangkah kembali dengan lembut.
“Aisya cemburu kak!” jawab Aisya lembut.
Syarief tersenyum, ia tau kenapa Aisya cemburu, karena beberapa hari ini, Aisya sering memberikan butir-butir cinta untuknya, walau tak terlihat dengan mata, tapi hatinya terasa. Lalu  ia bertanya dengan iseng.

“Kenapa cemburu...?“
Aisya kembali menghentikan langkahnya sambil mengeraskan hatinya untuk
mencurahkan perasaannya, yang selama ini ia pendam.
“Aisya cinta sama kakak!“ jawab Aisya.
Syarief pun memalingkan wajahnya dari tatapan Aisya, karena merasa malu yang bercampur dengan perasaan bahagia, lalu ia pun menjawab.
“Ia.., kakak juga cinta sama Aisya.”
Mendengar kata-kata cinta yang terucap indah di malam itu, mereka pun melangkah kembali dan saling terdiam karena malu, saling memalingkan wajah, dan saling tersenyam senyum.

Syarief berfikir akan cinta Aisya, yaitu cinta wanita yang jauh dari dusta, ia sangat percaya akan cintanya, bagaikan seorang anak yang mengakui akan cinta seorang wanita yang melahirkannya. Sementara Aisya, ia juga memikirkan Syarief, layaknya lumrah wanita yang menginginkan pasangan yang baik, tentunya anak pesantren, bahkan ia sendiri mulai bercita-cita untuk melanjut belajar di pesantren ternama
setelah tamat dari sekolahnya, hasrat itu mulai timbul ketika ia mendengar nasehat-nasehat Syarief yang di ambil dari kitab-kitab kuning, lalu ia berkata kepada Syarief.
“Oia maunya Aisya, kakak belajar lagi di pesantren.”
“Kalau belajar di pesantren yang bernama megah, sepertinya gak mungkin
lagi Sya.” jawab Syarief santai.
“Kenapa?”
“Kemaren, kakak capek bujuk Ummi, supaya bisa keluar dari pesantren, sehingga saudara-saudara kakak menganggap, kalau kakak sudah tidak ada harapan lagi untuk menjadi orang sukses, jadi sekarang kakak ingin membuktikan kepada mereka bahwa kakak itu masih bisa.”
“Eeee” jawab Aisya mengagguk.
“Duluan ya kak” sambung Aisya karena sudah tiba di depan rumahnya.
“Ia Sya…” jawab Syarief sambil tersenyum.
Aisya masuk ke rumahnya, langsung berwudhuk untuk Shalat ‘isya, ia merasa lega, karena cinta yang terpendam, layaknya lumrah wanita, tapi kini ia telah mengutarakan segalanya. Begitu juga Syarief, ia pulang dan berwudhuk untuk Shalat ‘Isya.


***

Sementara Naila, ia pulang bersama Mista yang tidak searah dengan Syarief dan Aisya.
“Duduk sama siapa tadi?” Tanya Mista, sambil melihat Naila yang
berjalan di sampingnya.
“Gak tau namanya siapa, tapi tadi ia mengajar di kelas kami!” jawab
Naila dengan senyum malu-malu.
“Itu Syarief, ia sekelas dengan kami.”
“Terus, dia orangnya gimana?”
“Ya… biasa-biasa saja, tapi pandai juga sih.” jawab Mista senyum
kepada Naila, sambil berfikir ada apa dengan hati Naila.

Kategori:SerbaSerbi
wwwwww