Serangan Terhadap Masjid Tak Berhenti Sejak 5 Tahun Lalu, Muslim Yunani Terpaksa Shalat di Bawah Tanah

Serangan Terhadap Masjid Tak Berhenti Sejak 5 Tahun Lalu, Muslim Yunani Terpaksa Shalat di Bawah Tanah
Muslimah Yunani. (republika)
Minggu, 27 November 2016 09:37 WIB
ATHENA - Di Indonesia, pemeluk agama minoritas bisa dengan bebas dan aman menunaikan ibadah di rumah ibadahnya masing-masing. Berbeda dengan di Yunani, umat Islam yang merupakan kelompok minoritas, hingga kini tidak bisa beribadah di masjid.

Sejak lima tahun lalu serangan terhadap masjid-masjid darurat di Athena, ibukota Yunani, terus-menerus berlangsung. Padahal, sejak 2006, Undang-undang Yunani sebenarnya sudah mengizinkan pembangunan masjid baru di Athena. Tapi, pelaksanaannya selalu ditentang sejumlah pihak, termasuk kelompok sayap kanan.

Awal tahun ini, pemerintah Yunani sudah memberikan kontrak ke perusahaan konsorsium konstruksi, untuk pembangunan masjid dengan biaya satu juta euro atau senilai 1,05 juta dolar. Sesuai rencana, pembangunan masjid diharapkan akan selesai dalam waktu enam bulan.

Sayangnya, konstruksi tertunda setelah kelompok sayap kanan menduduki gudang lokasi pembangunan selama lima bulan, dengan tujuan menciptakan penampungan tunawisma dan menghalangi pembangunan. Pendudukan itu baru berakhir setelah mereka ditangkap Polisi awal November ini.

Pengunduran rencana pembangunan masjid sendiri bukan sesuatu yang baru bagi Muslim Athena, mengingat kelompok sayap kanan telah menyerang puluhan masjid darurat yang ada selama lima tahun terakhir. Termasuk satu insiden pembakaran puluhan jamaah yang dikunci di satu mushalla.

Sementara, Golden Dawn, partai sayap kanan yang memiliki kursi di parlemen, terus mengadakan protes di lokasi pembangunan masjid, tiga kilometer dari situs warisan dunia, Acropolis. Bahkan, mereka menuduh pembangunan masjid sebagai tindakan melemahkan bangsa.

"Ini adaah bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk melemahkan bangsa kita," kata Nikos Michaloliakos Pemimpin Golden Dawn, seperti dilansir Muslim Village, Ahad (27/11).

Presiden Asosiasi Muslim Yunani, Naim Elghandour, mengatakan selama ini masyarakat Muslim harus pergi ke ruang bawah tanah atau gudang untuk berdoa, dan itu dilakukan lima kali sehari. Ia merasa, selama ini negara masih menganggap umat Islam sebagai warga kelas dua.

Sekarang, anak-anak Muslim terus bertanya kapan masjid Athena akan siap digunakan, dan berharap bisa segera melaksanakan ibadah tanpa harus bersembunyi. Bahkan, banyak orang sudah berandai-andai untuk merayakan Ramadhan dan Idul Fitri di masjid bersama-sama.***

Editor:sanbas
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww