Cerbung Titipan Doa Seorang Kekasih

Bertemu Karena Segelas Air (2)

Bertemu Karena Segelas Air (2)
Titipan Doa Seorang Kekasih
Kamis, 24 November 2016 14:12 WIB
Penulis: Syarifuddin Kasem

Besok harinya, dalam suasana sore, Syarief yang sudah siap dengan sarung dan pecinya, ia sedang bejalan menuju Mushalla untuk melakukan Shalat Magrib berjama’ah.

Kapan pulang Rief...?” tanya Ustadz Hasan, yaitu salah satu Ustadz di desanya, yang tiba-tiba ada saja di depannya.

“Baru kemarin Ustadz.” jawab Syarief sambil bersalaman dan mencium tangannya.

“Kenapa pulang?”

“Syarief sudah keluar Ustadz, jadi tidak lagi di pesantren.”

“Kalau tidak lagi di pesantren, setiap malam ke tempat pengajian Ustadz ya! biar kita belajar bersama.”

“Baik Ustadz, jadi kita belajar kitab apa Ustadz?”  

Fathul Mu’in (I’annathuth Thalibin).

“Ia Ustad...“ jawabnya sambil menunduk malu sebagai rasa hormat kepadanya.

Lalu Ustadz Hasan pun pamit untuk pulang karena Magrib akan tiba, dan Syarief kembali melangkah ke mushalla, setiba di sana ia mengambil sapu untuk menyapu Mushalla yang terlihat berdebu,  apalagi kini membersihkan musala, sudah ia anggap sebagian dari tugasnya.

Selesai ia menyapu, lalu ia keluar untuk berwudhuk dan melakukan Shalat Magrib secara berjama’ah, bersama Ustadz Hanafi, selaku imam di desanya, dan diikuti juga oleh beberapa Ma’mum lainnya.

Selesai salat, yang disertai dengan doa bersama, Syarief langsung pulang untuk mengambil kitab dan pergi ke tempat pengajiannya Ustadz Hasan, yaitu Dayah[1] Syifaul Qulub, yang terletak di kota, tidak jauh dengan desa di mana Syarief tinggal, setiba di sana ia melihat banyaknya santri-santri dan santriwati, ia juga melihat tempat belajar yang berbanja-banja, dengan nama yang berbeda-beda. Sehingga Syarief berfikir sejenak, kelas Ustadz Hasan yang mana ya? Maka ia pun bertanya kepada salah satu santri yang masih berkeliaran di halaman pesantren.

“Balai Ustadz Hasan yang mana ya?”

 “Yang itu!jawab santri itu sambil menunjuk balai yang paling belakang, yaitu Balee Angeen[2].

“Terima kasih ya!” ucap Syarief, lalu ia pun menuju ke sana.

Ketika Syarief menaiki tangga balai tersebut, Para santri lain semuanya mata tertuju kepadanya, maklum, karena ia adalah santri baru, mereka tertanya-tanya, “Siapa ya? Siapa ya?”

Kategori:SerbaSerbi
wwwwww