Harga CPO Jatuh dari Level Tertinggi, Ini Penyebabnya

Harga CPO Jatuh dari Level Tertinggi, Ini Penyebabnya
Tandan buah segar kelapa sawit. (tempo.co)
Kamis, 27 Oktober 2016 04:52 WIB
JAKARTA - Merosotnya tingkat ekspor dari Malaysia dan aksi profit taking menyebabkan harga crude palam oil (CPO/minyak mentah kelapa sawit) kembali turun dari level tertinggi. Pada kuartal IV/2016, harga CPO diprediksi bergerak dalam kisaran 2.500--3.000 ringgit per ton.

Pada penutupan perdagangan bursa Malaysia, Selasa (25 Oktober 2016), harga CPO untuk kontrak teraktif Januari 2017 menurun 62 poin atau 2,2% menuju 2.760 ringgit (US$659,92) per ton. Hari sebelumnya, harga mencapai level tertinggi sejak Maret 2014, yakni 2.882 ringgit (US$676,65) per ton.

Josephine Goh dari Associate Sirector of Futures & Commodities RHB Investment Bank, menyampaikan melemahnya tingkat ekspor terkini membebani harga. Berdasarkan data Intertek Testing Services, pengiriman CPO dari Malaysia pada tanggal 1--25 Oktober sejumlah 990.939 ton, turun 10,9% dari periode yang sama bulan sebelumnya sebesar 1,11 juta ton.

Selain itu, tingginya harga membuat pasar tertarik untuk melakukan aksi ambil untung. "Profit taking setelah reli baru-baru ini juga menjadi sentimen negatif," ujarnya Selasa (25 Oktober 2016).

Sentimen negatif juga datang dari Cina karena melemahnya impor. Bea Cukai Administrasi Umum setempat menyampaikan penerimaan CPO dari luar negeri pada September turun 15% secara tahunan (year on year/ yoy) menuju 480.000 ton.

Pencapaian bulan lalu membuat impor CPO Negeri Panda sepanjang tahun berjalan sudah terkoreksi 28,4% menuju ke 3,08 juta ton.

Mandiri Sekuritas dalam publikasi risetnya memaparkan, harga CPO masih memiliki kemungkinan untuk reli pada kuartal IV/2016 dan paruh pertama 2017 akibat masih terasanya efek pengurangan produksi yang dipicu cuaca kering dari gejala El Nino.

Setelah itu, membaiknya kondisi cuaca bakal membuat proses penanaman pulih, sehingga menyiratkan sentimen bearish bagi harga CPO pada semester kedua tahun depan.

Sementara dari sisi permintaan, CPO mengalami hambatan yang cukup serius seperti rencana pemerintah Cina melepaskan minyak canola sebesar 2--2,5 juta ton mulai 12 Oktober 2016, rendahnya harga minyak mentah, dan kemungkinan revisi bea cukai India menjelang festival Diwali pada 30 Oktober 2016.

Menurut Mansek, rebound produksi pada kuartal keempat membuat harga terkoreksi menuju kisaran 2.500--2.600 ringgit per ton. Namun, naiknya permintaan menjelang Tahun Baru China dan musim penanaman yang rendah membuat harga meningkat ke posisi 2.800--2.900 ringgit per ton pada Desember 2016 atau awal 2017.***

Editor:sanbas
Sumber:tempo.co
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww