Terapi Menulis Sembuhkan Stroke Christie Damayanti

Terapi Menulis Sembuhkan Stroke Christie Damayanti
Christie Damayanti. (tempo.co)
Sabtu, 22 Oktober 2016 10:21 WIB
JAKARTA - Pertengahan tahun 2009, Christie Damayanti, 47 tahun, bersama dua anak, ayah dan ibunya berlibur ke San Francisco, Amerika Serikat. Saat menikmati liburan itu Christie justru mendapatkan kemalangan.

Seperti diceritakan Christie, pada pukul tiga pagi, dia terbangun hendak ke toilet. "Ketika saya berdiri dari tempat tidur, kaki terasa lemas sekali dan langsung terjatuh. Saya memanggil Ibu, meminta pertolongan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di kawasan Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Dari gejala dan keadaan yang ia alami, sang ibu tersadar bahwa anaknya terkena stroke. Dugaan makin kuat mengingat ada anggota keluarga Christie yang memiliki riwayat menderita darah tinggi. Seketika itu juga ia dibawa ke rumah sakit. Syukur, nyawanya bisa diselamatkan. Tapi dokter memvonis otak kirinya cacat.

Menurut keterangan dokter, di dalam otak kiri terdapat pembuluh darah yang lunak. Jika tekanan darah naik, pembuluh darah itu bisa pecah. "Saya harus menerima kenyataan pahit otak kiri saya yang terkena adalah nomor 3, 5, dan 7. Masing-masing fungsinya adalah keseimbangan, sensorik, dan motorik," ujar arsitek gedung Central Park ini.

Setelah menjalani terapi di Amerika Serikat selama dua pekan, ia dan keluarganya kembali ke Indonesia. Di sini, ia merasakan hidup semakin berat.  "Untuk jalan susah, harus minta bantuan. Saya bosan karena tidak bisa melakukan apa-apa. Tidur pun tidak nyaman karena separuh tubuh tidak berfungsi."

Dia menjelaskan, stroke yang menyerang otak kirinya menyebabkan kelumpuhan pada separuh tubuh sebelah kanan. Menurut dokter yang merawatnya di San Francisco, 20 persen otak kirinya terendam darah karena ada pembuluh darah yang pecah alias hemorrhagic stroke. “Sempat putus asa karena tak mungkin bisa sembuh dari stroke. Kalaupun sembuh pasti tidak sempurna, minimal meninggalkan cacat.”

Benar saja, ia menderita lumpuh pada satu sisi tubuh. Komunikasi dan penglihatannya terganggu. Emosinya pun tidak stabil. Akibatnya, Christie kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari seperti menulis dan mengenakan busana. Dia juga terpaksa memakai alat bantu seperti kursi roda dan tongkat.

Ucapan dokter bahwa seumur hidup dirinya akan lumpuh dan terbaring di rumah sakit terngiang-ngiang di kepalanya. Menghadapi kondisi ini, Christie beruntung mempunyai orang tua dan dua buah hati yang selalu memberikan dukungan. "Kamu tidak boleh menyerah, kamu harus percaya sama Tuhan yang begitu sayang, peduli, tak pernah meninggalkanmu dan memberikan yang terbaik,” Christie bercerita dengan terbata-bata mengenang pernyataan ibunya.  

Selama 1,5 tahun Christie hidup sebagai pasien stroke dan mendapat kasih sayang yang tulus dari ayahnya. Perempuan yang bekerja sebagai arsitek di Ciputra Development mulai 1994 hingga 1998, lalu di Multikon Group, dan terakhir sejak 2006 hingga sekarang di Agung Podomoro Group Aini bersyukur ayahnya selalu mendampinginya dalam beraktivitas.

Pada 2010, ia bertemu dengan sahabatnya yang menjadi wartawan. “Dia memotivasi saya untuk menulis kisah hidup saya. Melalui bimbingannya, saya pun aktif menulis di Kompasiana sejak tahun itu, dan di luar dugaan mendapat respons bagus,” kata Christie. Dia menulis di telepon seluler, lalu tulisan dipindahkan ke surat elektronik.

Respons positif atas tulisan tersebut semakin memotivasi Christie untuk terus menulis kisah hidupnya. Siapa sangka bila kemudian Christie menjadi aktif menulis dan melahirkan banyak buku tentang pengalaman dan kisah hidupnya, yakni Meneropong Jakarta dari Hati Nurani, Cinta yang Tertinggal di Swiss dan Liechtenstein, Pelangi Dunia Filateliku, Ketika Tuhan Masih Memberi Aku Hidup,  Hari Bahagia di Belanda dan Belgia, Ketika Tuhan Mengizinkanku Sakit, serta Bapak Mengganti Kaki dan Tanganku yang Lumpuh.

Christie juga sering diundang sebagai narasumber dan motivator mengenai stroke dan terapi menulis. Terakhir, dia membentuk Yayasan Christie dan Sahabat Nusantara dengan fokus pada kepedulian terhadap kaum difabel. Tahun ini, ia akan meluncurkan program wisata ke daerah yang memiliki kaum difabel dan melakukan pemberdayaan di sana. “Saya pernah merasakan hidup sebagai orang lumpuh. Dari pengalaman itu, saya ingin memotivasi mereka untuk berprestasi,” ujarnya.  

Dokter Hophop, yang merawat Christie, mengatakan pasiennya itu adalah wanita hebat. “Dia  beradaptasi dengan stroke-nya dan menciptakan kegiatan positif hingga bisa pulih.” Dokter di Rumah Sakit Cikini ini menuturkan, pemulihan fisik Christie kini sudah berjalan 85 persen. Meski masih perlahan, dia sudah bisa berbicara, berjalan, dan menggerakkan tangan serta kakinya. “Untuk mengobati stroke,terutama yang parah, sangat sulit. Nah, Christie dengan kemauan dan kemampuan menulisnya bisa mencapai prestasi seperti sekarang,” kata Hophop.***

Editor:sanbas
Sumber:tempo.co
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww