Marc Marquez dan Sofa Rumah di Akhir Pekan Sempurna

Marc Marquez dan Sofa Rumah di Akhir Pekan Sempurna
Tim Repsol Honda merayakan gelar juara dunia 2016 Marc Marquez pasca lomba MotoGP Jepang di Sirkuit Motegi. (Foto-sport.es)
Selasa, 18 Oktober 2016 09:11 WIB
MOTEGI - Marc Marquez baru saja menahbiskan dirinya sebagai juara dunia pembalap MotoGP 2016 usai memenangkan lomba Seri 15 MotoGP Jepang di Sirkuit Motegi, Minggu (16/10) siang WIB. Dia kini dinobatkan sebagai salah satu legenda balap motor Spanyol dan dunia.

Apalagi kalau bukan karena lima gelar juara dunia yang telah diraihnya di berbagai kelas, plus dengan rekor usia termuda yang melekat di dalamnya (23 tahun, 7 bulan dan 27 hari). Berikut kami sarikan petikan wawancara eksklusif salah satu surat kabar ternama di Barcelona, Sport, dengan Marquez pasca lomba Motegi.

Anda sudah memenangkan tiga gelar juara dunia pembalap kelas MotoGP dari empat tahun partisipasi. Apa yang ingin Anda katakan kepada orang-orang yang berpikir bahwa ini adalah kerja mudah?
“Ini sama sekali tidak mudah dan setiap tahunnya berbeda. Ini merupakan olah raga yang tidak bergantung kepada satu orang, tapi kepada banyak faktor, seperti pembalap, motor, pabrikan dan tim. Semuanya harus selalu dalam kondisi 100 persen.”

Kita telah melihat berbagai lomba dan aksi overtaking yang spektakuler tahun ini. Apa yang sebenarnya tidak terlihat di televisi?
“Memang semuanya tidak seperti yang terlihat. Masih banyak yang bisa diapresiasi dan ada juga yang bisa membuat jatuh pembalap, atau mengganggu pikiran dengan banyak rasa takut. Tapi tahun ini saya berlatih lebih keras hingga mencapai batas.”

Enam kali nilai nol musim lalu, tapi di usia 23 Anda kembali jadi juara dunia. Adakah pengalaman berharga yang telah Anda akumulasi. Apakah ini terasa membuat Anda merasa lebih tua? 
“Saya mencoba mempelajari musim lalu dan itu mempengaruhi penyesuaian saya mulai pada lomba awal tahun ini. Jika Anda mendapat poin, tentu akan lebih mudah mengaturnya. Tapi kala Anda membuat kesalahan, itu akan memaksa Anda melakukan hal yang berisiko lebih. Terima kasih buat tim yang telah membuat saya bisa mengatur situasi paling kritis, menambah poin berharga. Saya tidak merasa tua. Saya malah merasa masih seperti anak kecil, bukannya seorang pria. Saya masih belajar banyak dan tahu bahwa kita adalah manusia. Tapi betul bahwa ada pengalaman dari dalam dan luar lintasan. Bagaimana Anda mengatur tekanan di sepanjang akhir pekan lomba, mengatur kehidupan sehari-hari di rumah, berlatih untuk bersiap diri jelang balapan. Saya merasa lebih dewasa dalam hal ini.”

Apa tekanan bagi seorang Marc Marquez?
“Itu sulit untuk dijelaskan, tapi ini adalah sesuatu saat di mana Anda menciptakan rasa tidak aman, momen keraguan, yang membuat Anda merasa lebih tegang. Sebuatu yang bisa menjatuhkan Anda baik secara mental maupun fisik, karena Anda bisa saja mati di sepanjang akhir pekan lomba. Itu karena tingkat stres yang telah menghabiskan energi Anda dan adalah penting untuk mengaturnya. Saya beruntung memiliki keluarga besar (tim) yang telah membantu saya melewati masa itu, bisa lewat makan malam, di mana mereka mengizinkan saya untuk beristirahat lebih banyak.”

Apa momen terburuk Anda tahun ini?
“Jelang akhir tes Qatar dan lombanya merupakan momen paling sulit bagi kami tahun ini. Tapi setelah merebut dua kemenangan di Argentina dan Austin, kami mulai sedikit yakin kalau gelar juara dunia masih memungkinan buat direbut. Adalah penting memiliki keyakinan dan kepercayaan diri. Karena di tes musim dingin, banyak orang bilang sangat tidak mungkin kami jadi juara. Tapi saat itu saya merasa begitu termotivasi, karena saya yakin tidak ada yang mustahil saat kita terus bekerja dan berusaha. Saya juga yakin kepada Honda, mereka merupakan pabrikan besar yang memiliki kemampuan bereaksi.”

Di Motegi, Anda dan Alex (adiknya) sudah bisa menang di Motegi sekaligus sama-sama mengunci gelar juara dunia. Bagaimana sirkuit ini menurut Anda?
“Sejujurnya saya tidak tahu, mungkin ini karena helm spesial yang saya kenakan (sambil tertawa) yang memberi keberuntungan dan momen tak terlupakan. Sebuah sirkuit menurut saya bukan dinilai dari jumlah kemenangan saya di sana, atau di mana saya merasa nyaman membalap, tapi yang telah mengantar memori terbaik.”

Kalau boleh memilih, momen mana yang terbaik dalam perjalanan karier balap Anda di Kejuaraan Dunia GP Motor?
“Di GP Valencia 2013, karena saat itu saya merebut gelar juara dunia MotoGP pertama di depan publik sendiri. Tapi di GP Valencia 2014 juga oke, karena di sana Alex memenangkan gelar juara dunianya pula (kelas Moto3). Entah di mana lagi, tapi di dalam otak saya, saya merekam setiap momen dan overtaking di setiap lomba.”

Apa yang menurut Anda merupakan sebuah hari Minggu (akhir pekan) sempurna saat Anda tidak melakoni balapan?
“Saya senang untuk melewati dan menghabiskan hari di sofa, itu merupakan pengakuan yang sejujurnya! (sambil tersenyum), saya juga suka melihat lomba balap motor di Spanyol, motokros, lalu di siang hari menonton pertandingan sepak bola, Barcelona tentunya. Dengan banyaknya bepergian keliling dunia, bersandar dan berbaring di sofa (rumah) terkadang jadi kegiatan yang saya rindukan dan itu amat berguna untuk mengisi baterai (tenaga) saya.” 

Editor:Kamal Usandi
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww