Ketegangan Antara AS-Rusia Saat Ini Tertinggi Dalam 40 Tahun

Ketegangan Antara AS-Rusia Saat Ini Tertinggi Dalam 40 Tahun
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin. menyatakan ketegangan antara AS dan Rusia saat ini mencapai titik tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Foto/Istimewa
Senin, 17 Oktober 2016 09:09 WIB
NEW YORK - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia saat ini mencapai titik tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Hal itu disampaikan Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin.

"Situasi umum saya pikir sangat buruk pada saat ini, mungkin yang terburuk sejak tahun 1973," kata Churkin dalam sebuah wawancara dengan media AS, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (16/10).

Churkin merujuk Perang Yom Kippur, yang juga dikenal sebagai Perang Arab-Israel, yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah melawan Israel dari tanggal 6 hingga 25 Oktober 1973. Perang  melanda Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan - wilayah yang telah diduduki oleh Israel sejak Perang Enam Hari tahun 1967.

Dirinya menyebut ketegangan ini disebabkan kurangnya rasa hormat dari AS dan kurangnya diskusi mendalam antara kedua pihak. Dia juga menjelaskan beberapa poin lainnya penyebab terus meningkatnya tensi antara Rusia dan AS

Hal pertama adalah provokasi yang ditujukan AS dan NATO di Eropa, dimana NATO menempatkan banyak pasukan di wilayah perbatasan Rusia. Churkin menambahkan, salah satu provokasi terbesar adalah puncak pada KTT NATO tahun 2008 lalu, di mana aliansi memutuskan bahwa Ukraina dan Georgia akhirnya harus menjadi anggota NATO.

DIa menekankan, selain ekspansi NATO, pencabutan pejanjian Anti-Rudal Balistik (ABM) oleh AS di bawah pemerintahan George W. Bush pada 2001 adalah faktor lainnya.

Ditandatangani pada tahun 1972 oleh Washington dan Moskow untuk memperlambat perlombaan senjata nuklir, Traktat ABM dilanggar oleh AS yang ditandai dengan uji coba rudal balisitik. Perjanjian itu didasarkan pada premis bahwa jika salah superpower dibangun pertahanan strategis, yang lain akan membangun kekuatan nuklir ofensif untuk mengimbangi pertahanan, sehingga perlombaan senjata yang tidak pernah berakhir.

"Tapi titik didihnya adalah saat terjadi konflik di Ukraina menyusul kudeta, yang didukung oleh AS, dan kemudian mereka menyalahkan hal itu pada Rusia, untuk membenarkan pengenalan sanksi terhadap Moskow," kata Churkin.

Konflik di Suriah, lanjut Churkin, seperti menjadi puncak dari segalanya. Ketegangan kedua mulai mencapi titik tertinggi saat kesepakatan gencatan senjata di Suriah pecah, dan AS memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dengan Rusia mengenai Suriah. Pembicaraan yang akhirnya kembali dimulai tengah pekan lalu. 

Editor:Kamal Usandi
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww