Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sempat Diduga Korban Begal, Briptu Andri Ternyata Tewas Ditabrak Anggota TNI
GoNews Group
17 jam yang lalu
Sempat Diduga Korban Begal, Briptu Andri Ternyata Tewas Ditabrak Anggota TNI
2
Kurikulum Baru Kemendikbud: Sejarah Bukan Pelajaran Wajib SMA
Pemerintahan
20 jam yang lalu
Kurikulum Baru Kemendikbud: Sejarah Bukan Pelajaran Wajib SMA
3
Waduh... Suami Ngaku Kena Covid-19 ke Istri Biar Bisa Menginap dengan Selingkuhan
Internasional
23 jam yang lalu
Waduh... Suami Ngaku Kena Covid-19 ke Istri Biar Bisa Menginap dengan Selingkuhan
4
Ketua KPU Arief Budiman Positif Covid-19
Kesehatan
20 jam yang lalu
Ketua KPU Arief Budiman Positif Covid-19
5
Dugaan Pidana Kebakaran Kejagung, Puan: Tunggu Hasil Penyidikan
GoNews Group
20 jam yang lalu
Dugaan Pidana Kebakaran Kejagung, Puan: Tunggu Hasil Penyidikan
6
SE Maret Dicabut, Kenali Satgas Covid-19 Daerah dari SE September
Pemerintahan
18 jam yang lalu
SE Maret Dicabut, Kenali Satgas Covid-19 Daerah dari SE September

Meta Bersyahadat Setelah Lihat Putranya yang Berkebutuhan Khusus Selalu Bahagia Saat Dengar Azan

Meta Bersyahadat Setelah Lihat Putranya yang Berkebutuhan Khusus Selalu Bahagia Saat Dengar Azan
Ilustrasi mualaf. (okezone)
Selasa, 10 Desember 2019 11:22 WIB
JAKARTA - Allah SWT tidak memberikan hidayah kepada semua orang. Maka sangat beruntunglah orang-orang yang memperoleh karunia hidayah dari Sang Maha Pencipta tersebut.

Salah seorang yang beruntung tersebut adalah Meta (bukan nama sebenarnya). Wanita yang tinggal di kawasan Jakarta Timur itu memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat (menjadi Muslimah) belum lama ini.

Dikutip dari okezone.com, Meta mengaku mendapatkan hidayah karena anaknya, Andi (bukan nama sebenarnya). ''Ini karena anak saya, dia yang membuat saya akhirnya menjadi mualaf,'' katanya, saat ditemui di rumahnya.

Andi adalah anak berkebutuhan khusus sejak kecil dan kini berusia 13 tahun. Segala indera di tubuhnya tidak bisa langsung merespons, khususnya indera pendengarannya.

Namun ketika mendengar suara azan atau lantunan kalimat tauhid lainnya, Andi selalu terlihat bahagia. Sebagai seorang non-Muslim, saat itu Meta heran mengapa hanya suara-suara seperti itu yang direspons anaknya.

''Waktu kecil kalau dengar suara adzan, ia selalu tersenyum. Wajahnya terpancar rasa bahagia karena anak seperti Andi ini kan kepekaannya lebih tajam,'' ujar Meta.

Melihat anaknya selama bertahun-tahun selalu senang ketika mendengar suara azan, Meta pun mulai merasa terpanggil. Ia mulai befikir, apakah sudah saatnya ia harus berpindah keyakinan atau jadi mualaf, sementara seluruh keluarga besarnya tidak ada yang beragama Islam.

''Saya merasa heran dengan tingkah laku anak saya ini. Padahal kalau diajak ngobrol itu harus butuh waktu, kalau dengar suara azan dia mau,'' ucapnya.

Menyikapi hal itu, Meta mulai bertanya-tanya tentang Islam kepada teman-temannya yang Muslim. Berkat jawaban dan pencerahan teman-temanna itu, ia akhirnya, bahkan kemudian sekira pertengahan 2019 ibu ini mengucapkan dua kalimat syahadat dan terus belajar tentang Islam.

Namun keputusannya ini tidak mudah dijalani, sebab hampir seluruh keluarga memusuhinya, terlebih Meta adalah seorang janda karena suaminya sudah lama meninggal dunia. Tapi ia tidak sendiri, teman-teman satu kajiannya terus memberikan dukungan.

''Ya pasti keluarga besar saya tidak setuju, tapi Insya Allah saya tetap istiqamah demi anak saya,'' terang Meta.

Singkat cerita, pada November 2019 lalu anaknya Andi mulai belajar Islam dan di usianya yang sudah terbilang cukup, ia pun menyusul ibunya membaca dua kalimat syahadat. Meski dengan keterbatasan, Andi begitu semangat dan mulai paham apa yang sedang dijalaninya saat ini. ***

Editor:hasan b
Sumber:okezone.com
Kategori:Ragam

wwwwww