Loading...
Home >  Artikel >  Ragam

Lahir Hingga SMA di Bandung, Jasmine Justru Bersyahadat di Jepang, Begini Kisahnya

Lahir Hingga SMA di Bandung, Jasmine Justru Bersyahadat di Jepang, Begini Kisahnya
Jasmine mengenakan hijab setelah menjadi Muslimah. (republika.co.id)
Kamis, 05 Desember 2019 11:32 WIB
MESKI sejak lahir hingga SMA berdomisili di Bandung serta hidup di tengah masyarakat mayoritas Muslim di Kota Kembang tersebut, namun Jasmine justru bersyahadat (menjadi mualaf) ketika tinggal di Jepang. Berikut kisahnya, seperti dikutip dari republika.co.id.

Jasmine yang tengah menyelesaikan sekolah disainnya di Jepang, genap berusia 23 tahun pada 20 November lalu. Gadis cantik kini telah menjadi Muslimah dan berhijab.

Setelah lulus SMA di Bandung, Jasmine pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikan. ''Di Jepang saya belajar bahasa selama satu setengah tahun terus lanjut belajar disain busana,'' jelas dia sebagaimana dikutip dari Harian Republika, Kamis (5/2). 

Jasmine mengakui bahwa dia tidak memiliki keyakinan agama apapun. Karena memiliki lingkungan keluarga Katolik, hanya sebuah rutinitas saja untuk pergi ke gereja. Meski demikian, dia tetap menjalani ritual keagamaan hingga SMA.   

Jasmine memang bukanlah orang yang dekat dengan agama. Namun berbeda setelah dia mengenal Islam, meski sebenarnya Jasmine mengetahui agama Islam sejak kecil. Ini karena asisten rumah tangga hampir seluruhnya Muslim. 

Dia pun sering melihat mereka shalat, demikian juga ketika di sekolah. Ketika mempelajari agama, Islam pun masuk ke dalam pembahasan agamanya meski hanya sekelumit saja.

Teman-teman semasa SMA pun banyak yang beragama Islam, sehingga dia tidak terlalu awam dengan agama ini. Apalagi sejak hidup di Jepang, semakin banyak Muslim yang dekat dengannya, tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi juga dari Pakistan dan Suriah.  

Pergaulan dengan Muslim, membuatnya semakin ingin mengenal lebih dalam tentang Islam. Apalagi dengan akhlak muslim yang mereka tunjukkan, membuat Jasmine semakin tertarik dengan Islam. 

Akhlak Muslim yang baik dia lihat secara nyata melalui teman pria yang dekat dengannya. Dia merupakan orang Arab asal dari Suriah. ''Dia orang paling sabar yang pernah saya temui sejauh ini. Saya cinta sama karakter dia dan kasih sayang dia ke keluarganya. Dan saya tahu dia orangnya begitu karena hubungan dia dengan Allah dekat. Dia rajin shalat berjamaah ke masjid dan menjalankan puasa,'' kisahnya. 

Akhlak teman Muslimnya yang sesuai dengan ajaran Islam tersebut, justru membuatnya iri. Karena selalu bisa bersikap baik dan sabar dalam menghadapi setiap masalah.

Jasmine juga takjub dengan bakti temannya kepada sang ibu. Dia tak pernah lupa untuk menghubungi ibunya setiap hari. Tak lama setelah dekat dengan pria itu, Jasmine pun menyempatkan untuk pulang ke Indonesia, liburan selama dua pekan. Dia pun menceritakan kedekatannya dengan pria Muslim kepada keluarga. 

Keluarga dan temannya sempat mengkhawatirkan Jasmine, karena agama yang dianut pria tersebut. Apalagi jika serius akan menikah tentu harus ikut agama suaminya menjadi Muslim. 

Tanpa pikir panjang Jasmine menyanggupi untuk berpindah agama jika itu memang harus. Tetapi kemudian dia memikirkan ulang jawaban spontannya itu. 

''Tapi mau tidak sepeduli apapun dengan agama, saya tidak bisa mengganti agama karena orang lain. Jika harus saya berpindah keyakinan itu memang demi saya sendiri, karena saya percaya agama ini yang terbaik untuk saya,'' jelas dia. 

Sebelum mengakhiri masa liburan di Indonesia, Jasmine menyempatkan diri untuk membeli buku yang bersifat argumentatif tentang Islam, judulnya A World Without Islam (Dunia tanpa Islam) yang ditulis Graham E Fuller, mantan personel CIA yang dulu bertugas di Timur Tengah. ''Karena jujur, pandangan saya sebelumnya (sebelum pergi ke Jepang) terhadap Islam itu negatif, kebanyakan saya lihat di berita oknum yang kebetulan beragama Islam itu kerjanya membuat ricuh terus dan ribet,'' ujar dia. 

Pandangan dengan Islam berubah sejak di Jepang, karena teman-teman Muslim berbeda dari apa yang dipikirkannya. 

''Mereka baik, karena pandangan dasar saya negatif, saya berusaha lihat secara netral dan cari tahu juga lebih dalam (tentang Islam),'' jelas dia. 

Namun isi buku tersebut ternyata menjelaskan bahwa agama bukanlah alasan sesungguhnya terjadi konflik dan terorisme. Sejak saat itu, pandangannya tentang Islam lebih terbuka meski dia belum menamatkan bukunya. 

Setelah membaca buku tersebut, Jasmine membeli Alquran terjemahan, ini berawal dari saran temannya. Mereka menyarankan untuk membaca Alquran sebelum bersyahadat. Jasmine mulai membaca Alquran sesampainya di Jepang. Jasmine merupakan pribadi yang menyukai kebebasan. Dia bukanlah orang yang suka dikekang dengan banyak aturan.

Namun ketika di Jepang yang notabene negara yang lebih bebas justru dia merasa membutuhkan panduan hidup. Jasmine membutuhkan aturan untuk mengingatkan dirinya sendiri. Dia kemudian menemukannya dalam QS Al Baqarah, merasa takjub karena panjangnya surah tersebut tetapi banyak peraturan dalam Islam yang tercantum di dalamnya.

Satu hari dia berada dalam kepenatan dalam hidup, karena kesibukan dan harus hidup mandiri. Sebelumnya Jasmine ditemani adiknya, namun sang adik pulang ke Indonesia.

Perasaannya menjadi sensitif, dan hanya Alquran yang menjadi obat penenangnya. Jasmine rutin membaca Alquran dan dia merasakan hal berbeda ketika membaca firman Allah tersebut.  

''Saat saya membaca Alquran, saya merasa tenang. Mungkin cara penulisan Alquran seperti puisi atau karena bahasa yang dipakai enak (saya beli versi bahasa Inggris) jadi saya merasa tenang aja,'' tutur dia.

Dan dari situ mulai ada keinginan dari diri sendiri untuk lebih dekat dengan Allah. Dia juga semakin percaya setelah membaca Alquran bahwa Nabi Muhammad itu benar-benar nyata, karena sebelumnya tidak memikirkan sampai sejauh itu. 

Tak sampai selesai membaca QS al-Baqarah, Jasmine merasa sangat yakin, bahwa dia ingin memeluk Islam. Kira-kira hanya dalam waktu tiga pekan, keyakinan itu datang.  

Tepat pada 23 Agustus 2019, dia bersyahadat, di kamar pribadinya yang hanya beralaskan tatami (tikar bambu khas Jepang) dan futon (kasur lipat yang biasa digunkana orang Jepang). Namun saat itu belum secara resmi disaksikan orang lain, hanya secara pribadi saja.

''Awalnya hanya tertarik kemudian saya jadi jatuh cinta dengan Islam, karena semakin saya pelajari, saya semakin lihat betapa indahnya Islam terutama ajarannya. Tidak seperti orang umum banyak pikirkan, peraturan-peraturan di Islam tidak sesulit itu. Saya merasa kalau saya benar-benar ingin dekat dengan Allah, mungkin Islam jalannya, karena Islam bukan sekadar agama, tetapi juga gaya hidup,'' jelas dia.

Kemudian pada (1/9/2019) Jasmine baru ke masjid Kobe, dan bersyahadat dengan dibimbing oleh imam disana. Disaksikan juga dengan sahabatnya Anggi yang juga mengajarinya shalat.***

Editor : hasan b
Sumber : republika.co.id
Kategori : Ragam

Loading...
www www