Home >  Artikel >  Ragam

Kuliah Sembari Jadi Sopir Taksi Online, Mahasiswi Manis Ini Lulus Cumlaude

Kuliah Sembari Jadi Sopir Taksi Online, Mahasiswi Manis Ini Lulus Cumlaude
Rizky saat menghadiri sidang kelulusannya sambil memakai selempang bertuliskan ''Grab''. (kumparan.com)
Rabu, 10 Juli 2019 15:40 WIB
YOGYAKARTA - Meski kuliah sambil bekerja sebagai sopir taksi online, tak menghalangi Rizky Aulia Hasyim meraih berprestasi akademik. Mahasiswi Universitas Islam Indonesia jurusan Ekonomi Islam lulus dengan predikat cumlaude.

Dikutip dari kumparan.com, Rizky, begitu akrab disapa, tak kuasa membendung syukur karena bisa lulus dengan prestasi yang membanggakan dirinya dan keluarga.

Rizky adalah seorang mahasiswi yang bekerja sambilan sebagai mitra pengemudi taksi online, Grab. Dia terus berjuang mengarungi rintangan demi mencapai cita-cita yang ia impikan.

Gadis berparas manis itu baru saja menjalani wisudanya pada 29 Juni 2019 lalu. Saat momen berharga tersebut, dia mencuri perhatian khalayak dengan mengenakan toga unik yang berbeda dari toga teman-teman seangkatannya, yakni toga dengan selempang hijau bertuliskan ''Grab''.

Rizky mengungkapkan, selempang ‘kesuksesan’ yang dia buat sendiri ini menjadi bentuk kebanggaan kepada Grab karena telah membawanya meraih impian terbesar, yakni lulus cumlaude, dan juga membantunya meringankan beban orang tua.

Sehari-hari, Rizky harus menjadi tulang punggung keluarga. Hidupnya yang serba kekurangan membuatnya bekerja ekstra demi memenuhi nafkah.

Ayah Rizky, keluar dari pekerjaannya karena terbentur masalah internal. Sementara, sang ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga. Rizky pun harus menjadi tulang punggung keluarga dan juga menyekolahkan kedua adiknya yang masih menimba ilmu di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Dasar (SD).

Dengan tanggungan yang besar, wanita asal Yogyakarta ini memilih menjadi mitra pengemudi Grabcar sembari menekuni studinya sebagai mahasiswi jurusan Ekonomi Islam.

Rizky bisa lulus tepat waktu dengan predikat terbaik di universitasnya, di tengah kesibukan yang ia jalani sebagai mitra pengemudi dan juga sebagai seorang guru les. Sejak semester awal, dia memang sudah terbiasa bekerja sambil kuliah sebagai guru les privat. Jenjang pendidikan yang ia ajarkan pun beragam, mulai dari TK hingga SMA.

Alasan Rizky bergabung menjadi mitra pengemudi Grab, semata-mata karena memang ingin membantu perekonomian keluarga. Terlebih, Rizky memiliki cicilan yang menunggak.

Dari situ, dia mulai merasa bahwa pendapatannya sebagai guru les tak mencukupi demi menghidupi keluarga, apalagi untuk membayar cicilan. Rizky harus terus memutar otak dengan mencari pekerjaan yang pemasukannya bisa mengimbangi kebutuhan. Namun, karena sudah terbiasa bekerja sambilan, Rizky pun memberanikan diri memilih menjadi mitra pengemudi Grab.

''Saya sudah 1,5 tahun menjadi mitra pengemudi Grab. Bergabung dengan Grab pada saat semester 6. Saya berpikir kalau pekerjaan seperti ini waktunya bisa diatur, apalagi pendapatannya juga bisa kita taksir. Untuk anak kuliahan seperti saya, tentu merupakan pekerjaan yang fleksibel, karena saya waktu itu kuliahnya juga sudah tidak terlalu banyak kelas,'' ujar Rizky, Selasa (9/7).

Pendapatan Rizky bertambah saat bergabung sebagai mitra pengemudi Grab. Meski bukan menjadi mitra pengemudi taksi online secara paruh waktu, pendapatan maksimal yang diperoleh Rizky bisa mencapai kisaran Rp 300 ribu per hari, dengan total sekitar Rp 8 juta setiap bulannya.

Dengan bertambahnya pendapatan Rizky, dia bisa mengatur penghasilan sendiri, tak cuma membayar cicilan dan keperluan lain untuk keluarganya, tetapi juga membayar keperluan kuliah hingga wisuda.

Usaha Rizky untuk menjadi mitra pengemudi Grab juga tak lepas dari bantuan pamannya. Dia mengungkap, saat itu sang paman yang juga menjadi mitra pengemudi GrabCar, menawarkan Rizky untuk bergabung.

''Waktu itu om saya menawarkan untuk jadi mitra pengemudi di GrabCar. Karena saya ada tanggungan bayar cicilan mobil dan harus menafkahi keluarga, saya langsung daftar. Dari situ, saya sudah mulai mengurangi jadwal mengajar les privat,'' kenangnya.

Berselang setahun bergabung menjadi mitra pengemudi Grab, Rizky akhirnya memutuskan untuk keluar dari tempat ia mengajar les privat. Bukan karena masalah waktu, melainkan karena dia memilih untuk mendirikan tempat mengajar les privat sendiri.

''Memang, dari semester pertama, saya kerja sambilan sebagai guru les privat. Setiap hari ada beberapa murid, ada yang seminggu 3-4 kali. Saya mengajar semua mata pelajaran, kalau SMA itu khusus Matematika dan IPA. Sekarang, sejak bergabung jadi mitra pengemudi Grab, saya bikin tempat mengajar les privat kecil-kecilan karena agar tetap bisa punya pendapatan dari sini.''

''Saya juga ingin punya usaha, sudah lama saya ikut orang di tempat mengajar les privat, dan sekarang gantian mau merasakan mengelola tempat les sendiri,'' kata wanita kelahiran 22 April 1997 ini.

Bekerja menjadi mitra pengemudi Grab, seorang guru les privat, dan menjadi mahasiswa, tentu bukan perkara mudah untuk dilakukan Rizky dalam waktu yang bersamaan. Karenanya, Rizky benar-benar mencanangkan prinsip keseimbangan antara hidup dan bekerja yang dilakukan dalam skala prioritas.

''Saat kuliah, saya akan fokus untuk belajar, dan setelah selesai kelas langsung nge-Grab. Kadang kalau kuliah lagi libur, saya justru akan optimalkan di Grab. Atau kalau lagi libur di Grab, saya akan memanfaatkan waktunya untuk belajar selama sehari penuh. Semua dilakukan berdasarkan prioritas. Memang, cukup melelahkan. Tetapi kalau dilihat hasilnya, baik itu dari pendapatan saya dari Grab dan juga hasil kerja keras dan belajar saya hingga akhirnya cumlaude, rasa capeknya jadi hilang,'' kata Rizky.***

Editor : hasan b
Sumber : kumparan.com
Kategori : Ragam

Loading...
www www