Loading...
Home >  Artikel >  Ragam

Uri Davis, Pemeluk Yahudi yang Memutuskan Mualaf dan Berjihad bersama Rakyat Palestina

Uri Davis, Pemeluk Yahudi yang Memutuskan Mualaf dan Berjihad bersama Rakyat Palestina
Uri Davis. (alchetron.com)
Minggu, 12 Mei 2019 16:34 WIB
LONDON - Uri Davis awalnya adalah pemeluk agama Yahudi yang taat. Dia rajin beribadah di Sinagog, minimal sekali sepekan. Namun belakangan, Uri Davis memutuskan menjadi mualaf dan berjihad bersama rakyat Palestina melawan Israel.

Dikutip dari republika.co.id, Uri Davis lahir di Yerusalem pada 1943. Ketika itu, Palestina menjadi negara jajahan Inggris. Migrasi orang Yahudi ke Palestina selalu terjadi. Datang dengan kapal laut, pada mulanya mereka meramaikan daerah pesisir. Kemudian berjalan memasuki setiap sudut Palestina.

Bermodal dukungan negara Barat, sebagian dari mereka mendirikan pemerintahan dan bala tentara yang kemudian menginjak-injak dan membantai masyarakat pribumi Palestina. Di atas darah masyarakat Palestina, mereka mendeklarasikan Israel sebagai negara Yahudi.

Dalam suasana seperti itulah Uri Davis menjalani masa kecil. Baku hantam antara militer Israel dengan orang sipil Palestina bukanlah hal yang aneh.

Saking sering menyaksikan hal tersebut, Uri berpikir, bukankah ada hal lain yang lebih mulia? Di mana kebersamaan, kekeluargaan yang banyak ditemukan di belahan dunia lain? Mengapa itu tidak ada di Yerusalem, kota tempat dia tumbuh menjadi manusia dewasa.

Ayahnya bernama Joseph Stanley, seorang Yahudi Inggris yang bertemu ibunya, Blanca Bluhme Kacerova, seorang warga Slowakia, di British Mandatory Palestine pada pertengahan 1930-an. Sembilan tahun kemudian, mereka membangun rumah tangga. Empat tahun kemudian, mereka dikaruniai Uri yang makin mengikat asmara keduanya.

Meski menganut Yahudi, Uri tak setuju dengan zionisme. Yahudi dinilainya sebatas agama yang tidak perlu mendirikan negara. Tidak perlu membesar-besarkan zionisme yang mengakibatkan pertumpahan darah.

Tinggal di Israel, Uri terkena keharusan untuk mengikuti wajib militer. Ini sesuatu yang menurutnya membebani kehidupan. Sebab, usia muda seharusnya dimanfaatkan untuk menemukan terobosan, sehingga menjadi kebanggaan dan modal menunjukkan eksistensi. ''Saya berusaha untuk menolak,'' ceritanya, sebagaimana diberitakan the Guardian.

Seorang prajurit militer membawanya ke pinggiran, memisahkan Uri dari barisan pemuda. Dia dibawa mendekati pepohonan nan rindang. Apa yang kamu lihat di sini? tanya si prajurit. Uri menjawab, ''pepohonan''. Lalu pemuda itu dibawa makin dalam memasuki hutan. Di sana mereka menemukan tumpukan batu-batu.

Si prajurit menjelaskan, batu-batu ini dipakai masyarakat setempat untuk menimpuki prajurit Israel. Tentara tadi ingin membakar amarah Uri agar menganggap orang Palestina sebagai musuh. Namun, itu tak terjadi.

''Kita bisa mengundang mereka dan saling berbagi. Ada harapan yang bisa kita upayakan untuk hidup bersama,'' ujar pemuda tersebut.

Namun, pendapat itu tak didengar. Meski terus membantah, Uri tetap harus mengikuti wajib militer. Wajib militer dijalaninya dengan kesal.

Ketika menjadi pemuda, dia bertemu dengan wanita Yahudi, Nira Yuval, di Yerusalem pada 1965. Keduanya sering bertemu dan menemukan kecocokan, sehingga melangsungkan pernikahan pada tahun yang sama.

Namun, mahligai asmara yang mereka bangun ternyata runtuh 10 tahun kemudian. Jurang perbedaan memisahkan keduanya. Ada perbedaan pendapat. Sedangkan keduanya bersikeras pada pendirian masing-masing. Perpisahan menjadi jalan yang mereka tempuh. Pada 1977, mereka resmi hidup sendiri-sendiri.

Meski baru bercerai, Uri begitu cepat mendapatkan penggantinya. Pada tahun yang sama, dia menikahi Tosje Maks di Zeist, wanita asal Belanda. Namun, lagi-lagi harus bercerai setelah hidup bersama selama 12 tahun.

Pada 1985, dia mengunjungi Oslo untuk bekerja. Di sana, dia bertemu dengan Sirkku Pajunen dan menikah dengannya. Namun, tetap saja ada ketidakcocokan. Setelah 21 tahun hidup bersama, akhirnya mereka berpisah juga.

Dua tahun setelah itu, Uri masih berupaya untuk menjadi kepala rumah tangga. Kali ini, dia memilih jalan yang berbeda, yaitu meninggalkan tradisi keagamaan yang sudah dijalaninya sejak kecil. Ya, dia meninggalkan keyakinan Yahudi yang sudah puluhan tahun dianutnya dan beralih ke Islam.

Bertempat di pengadilan agama Islam di Baka el-Garbiye, dia bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Resmilah dia menjadi seorang Muslim. ''Saya memeluk Islam dan mengedepankan semangat toleransi untuk membangun kebersamaan,'' ujarnya.

Kemudian menikahi seorang wanita Palestina bernama Miyassar. Wanita aktivis Fatah itulah yang kini mewarnai kehidupannya. Namun, pernikahan ini membuatnya menghadapi berbagai tantangan. Dia harus berjuang dan berhadapan dengan Israel.

Setelah bergabung dengan Fatah, Uri memulai periode panjang pengasingan atas saran pengacaranya untuk menghindari jeratan hukum negeri Yahudi itu. Dia mengajar di sejumlah universitas di Inggris, termasuk Bradford, Exeter dan Durham. Di sana, dia menghabiskan waktunya untuk penelitian dan studi akademik.

Pengacara Uri, Tawfiq Jabarin, menjelaskan bahwa Pemerintah Palestina mengenal Uri atas pengorbanannya yang besar untuk menegakkan hak asasi manusia. Dia mencatat, pernikahan terakhirnya adalah perkembangan sosial yang mengagumkan. Sebab, keduanya berasal dari dua komunitas yang selama ini saling berseberangan.

Jabarin mengatakan, pernikahannya dilakukan dengan sederhana sesuai adat Palestina. Sekitar 50 tamu menghadiri pesta pernikahan tersebut. Mereka menjadi saksi keseriusan Uri dan Miyassar menjalin asmara.

Dari tempatnya mengajar, Uri melancarkan pendapatnya, mengkritik Israel yang selama ini telah membantai masyarakat Palestina. Yang menjadi harapannya adalah kerukunan dan kebersamaan di negeri yang dulu dibebaskan Shalahuddin al-Ayyubi tersebut. Sehingga, perdamaian dunia menjadi kenyataan.***

Editor : hasan b
Sumber : republika.co.id
Kategori : Ragam

Loading...
www www