Waspadalah, Penyakit Difteri yang Mematikan Mulai Menyerang Orang Dewasa, Begini Mencegahnya

Waspadalah, Penyakit Difteri yang Mematikan Mulai Menyerang Orang Dewasa, Begini Mencegahnya
(youtbe)
Minggu, 31 Desember 2017 19:09 WIB
JAKARTA - Penyakit difteri mewabah di sejumlah daerah di Indonesia menjelang akhir tahun 2017. Korban penyakit mematikan ini ummnya anak-anak.

Dikutip dari dream.co.id, difteri berasal dari bakteri corynebacterium yang bersifat racun. Penyakit ini dapat menyerang setiap orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, serta tak memiliki perlindungan sama sekali melalui vaksinasi.

''Penyakit difteri mulai bergeser dari anak menuju dewasa. Terutama dengan banyaknya orang dewasa yang tidak tahu bagaimana riwayat imunisasinya,'' ujar Iris Rengganis, dokter spesialis penyakit dalam saat ditemui dalam seminar kesehatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat, kemarin. 

Iris menekankan, orang dewasa sebaiknya ikut melakukan booster vaksin. Berbeda dengan anak-anak, orang dewasa di atas usia 18 tahun tidak dapat melakukan vaksinasi melalui program gratis pemerintah Outbreak Response Immunization (ORI).

Untuk mendapat vaksin difteri memang harus dilakukan mandiri di rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat.

''Bagi orang dewasa tidak gratis, namun tetap harus melakukan vaksinasi sebanyak tiga kali secara berulang (booster), karena vaksinasi difteri tidak dapat menyebabkan kekebalan seumur hidup seperti penyakit lain, contohnya campak,'' ujarnya.

Vaksinasi bagi orang dewasa yang belum pernah mendapat anti DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) dilakukan dalam rentang waktu bulan ke-0, 1 dan 6.

Selanjutnya dilakukan booster selama 10 tahun sekali. Sementara bagi yang sudah pernah mendapat anti DPT, hanya perlu melakukan booster saja.

Jenis vaksin yang digunakan tentunya berbeda dari vaksin untuk anak. Apabila anak di bawah usia 18 tahun mendapat anti DPT, orang dewasa hanya perlu mendapat vaksin Td (Tetanus dan difteri). Hal ini dilakukan karena orang dewasa hanya memerlukan dosis yang lebih sedikit.

''Semakin bertambah usia orang, maka efek samping reaksi lokal dari vaksin difteri semakin besar. Makanya diganti memakai Td yang dosisnya lebih rendah. Tidak akan terjangkit selama mendapat vaksinasi,'' ungkap dr Iris.***

Editor:hasan b
Sumber:dream.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww