Hakikat Takwa dan Ciri-ciri Orang Bertakwa

Hakikat Takwa dan Ciri-ciri Orang Bertakwa
Ilustrasi. (republika.co.id)
Selasa, 31 Oktober 2017 07:36 WIB
ORANG yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah mereka yang paling bertakwa. Siapakah hamba Allah yang pantas disebut bertakwa? Simaklah percakapan dua sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab RA dan Ubay bin Ka'ab berikut ini.

Umar yang meriwayatkan atsar ini bertanya kepada Ubay, ''Wahai Ubay, apa makna takwa?'' Ubay yang ditanya justru balik bertanya, ''Wahai Umar, pernahkah engkau berjalan melewati jalan yang penuh duri?''

Umar menjawab, ''Tentu saja pernah.'' ''Apa yang engkau lakukan saat itu, wahai Umar?'' lanjut Ubay bertanya. ''Tentu saja aku akan berjalan hati-hati,'' jawab Umar. Ubay lantas berkata, ''Itulah hakikat takwa.''

Percakapan yang sarat akan ilmu. Bukan hanya bagi Umar dan Ubay, melainkan juga bagi kita yang mengaku manusia bertakwa ini. Menjadi orang bertakwa hakikatnya menjadi orang yang amat berhati-hati. Ia tidak ingin kakinya menginjak duri-duri larangan Allah SWT. 

Ia rela mengerem lajunya, memangkas egonya, menajamkan pandangan, menelisik sekitar, dan mencari celah jalan selamat. Semua fungsi tubuh ia maksimalkan agar ia tak celaka. Agar sebiji duri pun tak melukai kemudian mengucurkan darah dari kakinya. Takwa hakikatnya hati-hati.

Ciri Orang Bertakwa

Hidup pada zaman yang serbaterbolak-balik ini, kita memerlukan tameng berupa akal sehat. Agar orang bertakwa tetap 'waras'. Kita hidup pada saat oknum penegak hukum meruntuhkan hukum, oknum pemimpin rakyat mengakali rakyat. Suka sesama jenis dianggap normal, minuman keras dianggap barang investasi dan diliput media karena bercerai adalah kerja membangun citra. 

Saat nilai kebaikan seolah diputarbalikkan, orang bertakwa butuh kehati-hatian. Ia harus menelisik dengan keras apa yang ia makan, benarkah halal? Ia harus berhati-hati.

Manusia bertakwa harus memasang radar yang sensitif. Apa yang dianggap sebagian besar orang-orang hari ini belum tentu benar di mata Allah SWT. Nilai tertinggi yang harus kita yakini adalah nilai-nilai yang diturunkan Allah SWT. Keyakinan seperti itu tak akan berubah sampai kapan pun.

Orang bertakwa dan orang beriman tidak dapat dipisahkan. Sifat takwa melebur dalam keimanan. Begitu juga sebaliknya.

Menjadi orang bertakwa adalah berusaha keras menggenapi apa saja prasyaratnya.

Allah SWT berfirman, ''Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."  (QS al-Baqarah [2]: 177).***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww