Bersyahadat karena Menikahi Pria Muslim, Harti Tetap Muslimah Setelah Bercerai

Bersyahadat karena Menikahi Pria Muslim, Harti Tetap Muslimah Setelah Bercerai
Ilustrasi mualaf. (republika.co.id)
Senin, 23 Oktober 2017 15:47 WIB
HARTI KRIDANTI (Dantik) memeluk Islam saat berusia 25 tahun. Dia bersyahadat karena menikah dengan seorang pria Muslim. Peristiwa itu sudah berlalu 31 tahun dan Dantik telah bercerai dengan suaminya, namun wanita paruh baya ini tak pernah berfikir keluar dari Islam. Bahkan keyakinannya terhadap ajaran Islam semakin kuat.

Dantik mengaku pilihan menjadi Muslimah telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik sehingga berbagai inspirasi dan prestasi diraihnya.

Sebenarnya, Islam bukanlah hal yang baru di keluarganya karena sejak kecil dia sudah hidup di lingkungan yang akrab dengan nuansa tauhid. Dia sering melihat teman-teman kecilnya sibuk berangkat mengaji dan mendalami pelajaran agama Islam, baik di rumah maupun sekolah ketika pelajaran agama berlangsung.

Dantik, sapaan akrabnya, hidup di keluarga yang berbeda agama sejak kecil. Kedua orang tuanya menganut non-Islam, tetapi kakaknya memilih untuk memeluk Islam. Meskipun sang kakak memeluk Islam, hatinya saat itu belum terpanggil. Dantik dan kedua orang tua serta kedua adiknya masih memeluk agama lama, meski kakak keduanya telah bersyahadat.

Menjadi Muslim mulanya memang hanya mengikuti jejak suami. Saat itu dia bertemu lelaki idamannya di bangku kuliah, di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Dantik yang masih mengikuti agama orang tuanya memeluk Islam karena menikah dengan suami yang Muslim saat berusia 25 tahun.

Setelah melalui bahtera rumah tangga, banyak kerikil masalah yang terjadi. ''Apalagi saat saya berumah tangga, tak ada tuntunan agama yang diberikan, saya merasa kering rohani,'' kata dia menjelaskan.

Meskipun Muslim, Dantik harus mempelajari Islam dengan meraba-raba. Dia harus belajar sendiri dengan pengajian di lingkungan rumahnya. Namun, mengaji hanya mendengarkan ceramah keagamaan. Masih ada sesuatu yang kurang dirasakannya. Dia ingin tak hanya berupa doktrin, tetapi juga muamalah keseharian.

Saat memeluk Islam, Dantik masih belum bisa membaca Alquran dan belum ada niat untuk belajar. Setelah kedua anaknya dewasa dan mendapatkan motivasi dari anak dan menantunya, Dantik mulai tergerak memperdalam agama dan belajar membaca Alquran. Sedikit demi sedikit Dantik belajar Iqra dan kini sudah bisa memebaca Alquran meski masih terbata-bata.

''Ilmu saya dangkal tentang Islam, alhamdulillah, anak sudah mulai besar, anak yang pertama sedikit-sedikit mengajari saya,'' ungkap dia menjelaskan.

Dukungan penuh mendalami Alquran didapat dari anak dan menantunya yang kini tinggal di Bogor. Memang anak pertamanya sejak lama mendalami Islam dan selalu memotivasi ibu dan adiknya. Selain mengikuti pengajian di lingkungan rumahnya, dia juga mengikuti kajian di kantor pemerintahan tempatnya bekerja.

Anaknya pun memfasilitasi Dantik yang kini berusia 56 tahun dengan buku-buku, bahkan mengundang ustaz ke rumah untuk pengajian pekanan. Dantik pun sering bertanya dengan teman-temannya yang lebih dulu mendalami Islam, terutama dalam masalah muamalah dan fikih.

Memperdalam agama sebenarnya tidak terlepas dari masalah yang dialaminya dalam rumah tangga. Ikatan perkawinan yang mulanya dirajut karena cinta dan kebahagiaan harus kandas. Dantik berpisah dengan suaminya di tahun 2008. Dia tidak menjelaskan secara rinci penyebab perpisahannya, cukup hanya keluarganya yang mengetahui penyebabnya. Baginya itu merupakan sebuah aib yang harus ditutupi.

Meski bersyahadat karena menikah kemudian pisah, tidak setitik pun ada niat untuk kembali kepada agama lama. Hingga kini kedua orangtuanya masih memeluk agama lama. Begitu juga dengan kakak pertama dan kedua adiknya.

Justru masalah rumah tangga yang dihadapinya makin membuatya lebih pasrah kepada Allah SWT. Setelah persoalan itu selesai, dia merasa lebih tenang dan ini dirasakan sebagai jalan yang dipilihkan oleh Allah SWT.

Dantik juga kini sudah berhijab. Dia tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Meskipun saat ini dia belum melaksanakan haji dan umrah, suatu hari dia berharap dapat melaksanakan ibadah tersebut, melihat langsung tempat nabi-nabi beribadah kepada Allah dan merasakan langsung bagaimana bermunajat di samping Rasulullah.

Berbeda dengan keluarga non-Muslim pada umumnya, saat Dantik memutuskan memeluk Islam tak ada larangan dari pihak keluarga. Ayah dan ibunya dikenal dengan cara pandang hidup yang demokratis. Mereka mempersilakan Dantik memeluk Islam

Justru ketika ayahnya mendengar anaknya memeluk Islam, dia mewanti-wanti agar berkomitmen dengan pilihannya dan tidak berpindah-pindah lagi. Sikap demokratis ayahnya terlihat sejak kakak keduanya yang lebih dulu memeluk Islam.

Kakaknya memeluk islam justru sejak kecil. Ayahnya tidak membeda-bedakan anak-anaknya meski berbeda agama. Ayahnya meminta agar menjalankan agama sesuai ajaran yang ada. Dia memfasilitasi kakaknya berwudhu, mengaji, dan beraktivitas selama bulan suci Ramadhan. Ayahnya membangunkan sahur dan menyiapkan makanan sahur serta berbuka.

Menurut pandangan orang tuanya, ketika dihadapkan dengan perbedaan agama, mereka mencari persamaan sehingga dapat menyatukan dan tidak terjadi pertentangan. Pandangan untuk hidup bersama dalam keharmonisan membuat keluarga Dantik selalu dalam kebersamaan. Demikian halnya ketika Dantik mendidik kedua anaknya perihal perbedaan agama ini.

Kakek-nenek dan paman-bibinya memang memiliki keyakinan berbeda. Ini tidaklah masalah selama mereka masih berhubungan baik dan memperlakukan mereka dengan baik. Toleransi merupakan sikap yang selalu ditanamkan keluarganya dan diturunkan kepada anak.

Ketika hari besar agama masing-masing tiba, mereka saling menghormati untuk bersilaturahim. Baik saat kedua orang tuanya merayakan hari raya maupun saat Dantik dan kakak keduanya berlebaran. ''Tidak ada penolakan frontal dari kedua orang tua dan saudara saat saya memilih Islam, karena didikan ayah sejak kecil yang membuat mereka menerima perbedaan agama ini,'' kata dia.

Pun saat mendapat tanggapan dari teman Muslim, baik di tempat kuliah maupun di tempat kerja. Mereka bangga dan senang atas keputusannya menjadi mualaf. Pilihan hidup Dantik dijalaninya dengan baik.

Dantik berharap di masa tuanya bisa fokus untuk terus mendalami Islam. Sambil menunggu masa pensiun, dia juga dapat terus melancarkan bacaan Alquran. Dantik akan sangat bahagia jika kedua anaknya sekarang tetap berkomitmen untuk mendalami Islam. Terutama anak pertamanya yang telah menikah dan memiliki anak.

Semoga cucunya kelak juga dapat mengikut jejak kedua orang tuanya. Menuntun mereka dalam Islam dan dekat dengan Alquran. Mereka diharapkan menerapkan toleransi tidak hanya dalam keluarga, juga di kehidupan bermasyarakat apalagi ketika bertemu dengan mereka yang berbeda agama.

Anak keduanya diharapkan bisa menggapai cita-citanya dan jodoh yang terbaik. Terutama yang dapat berjalan beriringan untuk menggapai ridha Allah SWT. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam
wwwwww