Cerbung Bagian ke-49

Nikah Siri: Siti Melahirkan Bayi Perempuan

Nikah Siri: Siti Melahirkan Bayi Perempuan
Kamis, 05 Januari 2017 19:26 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara
DISAAT Bik Ijah berkemas-kemas. Siti mencoba berjalan kian kemari. Ke ruang tengah. Ke depan hingga ke teras. Mencoba bergerak terus untuk menenangkan belitan sakit yang sesekali reda dan sesaat pula muncul membekap sekitar pinggulnya.

Sesaat muncul taksi memasuki halaman . Rizal terburu-buru turun dan menghampiri Siti yang lagi bergerak mondar mandir di situ. Wajah Rizal terlihat tegang juga.

''Bagaimana Ti….?''

''Seperti nya sudah dekat Nih…'' Siti mencoba senyum dalam upayanya mengimbangi rasa sakit.

Ya….sudah. Tunggu apalagi…?'' Rizal melihat Bik Ijah keluar dengan membawa keperluan Siti dan langsung mengambilalih dan membawanya ke taksi.

****

SEKITAR DUA JAM Siti berada di kediaman Bidan Hainun. Siti melahirkan seorang bayi perempuan. Kediaman Bidan Hainun memang telah dibuat sedemikian rupa, sehingga ada empat kamar untuk tinggal para ibu yang bersalin. Pada saat Siti melahirkan memang tidak ada pasien yang tinggal di situ. Dan hanya ada Siti saja.

Ayah dan Emak yang sebelumnya sudah dihubungi sudah hadir di situ. Kehadiran Rizal sepertinya tak dipermasalahkan Emak dan Ayah, karena mereka juga tau tentang sosok Rizal. Dan kedua orang tua itu pun begitu sangat faham sekali posisi Siti. Sehingga waktu itu tidak ada yang patut dipersoalkan. Yang penting Siti dan bayinya dalam keadaan sehat.

''Untuk sementara nanti Emak di rumah ya…?'' ujar Siti pada Emak yang saat itu duduk ditepi ranjang sambil memeluk tubuh cucunya. Nampaknya kehadiran sang cucu membuat Emak nampak ceria. Tak jelas mengapa. Mungkin selama ini dia hanya berharap Siti dan cucunya dapat selamat dan sehat. Itu saja. Dan tak memikirkan lagi lagi prahara yang sebelumnya menimpa Siti.

''Rizal ada di sini. Tidak apa-apa kan Mak…?'' tanya Siti yang nampak masih agak lemah.

''Ngak apa-apa…. Kalau tak ada dia tadi. Bagaimana….? Itu saja dulu yang kita hargai. Dia memang orang lain yang tak punya hubungan apa-apa dengan Siti dan keluarga. Namun, ternyata dialah yang lebih peduli dari seharusnya yang lebih peduli lagi dengan kondisi Siti..'' ujar Emak seolah baginya Rizal itu bukan sesuatu sosok yang perlu dipersoalkan. Sementara, ayah dari si kecil yang seharusnya bertanggungjawab justru tak peduli.

Mendengar jawaban Emak ini, agak lega juga rasa hati Siti. Dia memang khawatir kalau Emak tak berkenan dengan ikut campurnya Rizal dalam persoalan dirinya.

''Kita anggap saja Rizal itu keluarga. Tidak masalah kan…?'' kata Emak seolah ingin mengusir tentang keraguan Siti tentang tanggapan keluarga dengan ada Rizal di itu.

''Terlepas jika sebelumnya Rizal itu dekat dengan Siti. Terkadang orang lain itu lebih dari keluarga sendiri. Itu haruskita hargai'' kata Emak lagi. Dan semakin lega perasaan Siti... (Bersambung)

Cerita Sebelumnya...

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww