Cerbung Bagian ke-38

Nikah Siri: Ratna Ternyata Istri Sah Rusman

Nikah Siri: Ratna Ternyata Istri Sah Rusman
Minggu, 25 Desember 2016 19:45 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara
SITI memang memaklumi apa yang dikemukakan Bik Ijah, hanya saja dia memang masih merasa asing tentang kehidupan perkawinannya yang baginya sendiri seakan layang-layang putus tanpa teraju. Terkadang, terombang ambing dihempaskan angin kian kemari. Sesekali menukik menghunjam ke bumi  tanpa terkendali.

Duhhhh, hidup dan kehidupan yang seperti apa sebenarnya yang sedang berperan pada dirinya. Dikatakan sudah menikah, tetapi ,merasa tak pernah bersuami.

Suara mobil memasuki pekarangan rumah membuat Bik Ijah dan Siti tersentak. Selama dia tinggal di situ, belum pernah sekalipun ada mobil yang memasuki pekarangan rumah. Siti mencurigai itu adalah mobil Rizal yang memang katanya mau berkunjung.

‘’Siapa ya Bik. Coba lihat dulu’’ kata Siti agak cemas, karena jika memang Rizal yang datang berarti dia bisa kiamat, sebab  dia dan Bik Ijah sendiri baru sebentar tadi membicarakan tentang konsekwensinya jika Rizal muncul di rumah itu.

Merasa ada tamu yang datang, Siti segera berbenah. Dia turun dari ranjang dan berjalan terseok-seok ke kamar mandi. Sebaik saja dia ke luar dari kamar mandi, Bik Ijah dengan wajah risau sudah tegak di pintu kamar mandi itu.

‘’Siti yang datang itu perempuan yang pernah kita lihat bersama Rusman di Plaza beberapa hari lalu’’ kata Bik Ijah. Siti sesaat terperangah. Ada apa dengan kedatangan perempuan itu.

‘’Sendirian dia Bik’’ tanya Siti dengan bibir komat kamit.

‘’Ya,sendirian.’’

‘’Dimana sekarang….?’’

‘’Sudah bibik suruh masuk dan sekarang di ruang tamu’’

‘’Ya, sudah. Saya ke kamar dulu ganti baju’’ kata Siti.

Sesaat ke luar dan bergerak ke ruang tamu. Memang benar tamu yang datang perempuan yang pernah bersama Rusman yang dilihatnya di Plaza.

‘’Ada apa ya…?’’ tanya Siti setelah berkenalan sesaat, dan perempuan yang berperawakan sintal   dan berpenampilan seksi yang mengaku bernama Ratna itu.

‘’Apakah saudari isteri Pak Rusman….?’’ tanya Ratna dengan wajah agak sangar dan tampak tak bersahabat. Padahal dia bertamu dan baru mengenal Siti.

‘’Ya, kenapa…?’’ tanya Siti dengan wajah menyelidik.

‘’Sudah lama menikah dengan Pak Rusman….?’’

‘’Seumur bayi dalam kandungan saya ini dan sebentar lagi juga mau melahirkan’’ kata Siti.

‘’Nikah secara sah…?’’

’’Lha, iyalah’’

‘’Tapi tanpa dasar hukum kan…?. Maksud saya tak tercatat di KUA.’’

‘’Ya, nikah Siri. Kenapa….?’’

‘’Saya isterinya yang sah dan tercatat secara hukum’’ kata Ratna. Siti tersentak, berarti Rusman baru saja menikah dengan Ratna.

‘’Sudah lama nikahnya…?’’ tanya Siti dengan detakan jantung bergetar kuat.

‘’Belum lama’’ Ratna membuka tas tangannya dan mengeluarkan buku nikah dan meletakkan di atas meja di depan Siti yang  nampak tak begitu memperdulikan buku nikah itu.

‘’Jadi, maksudnya ke mari…..?’’

‘’Karena saya isterinya yang sah secara hukum, maka saat ini saya yang mengendalikannya. Artinya,masalah keuangannya saya yang menentukan, jadi jangan banyak menuntut dari dia’’ kata Ratna dengan gambling tanpa tedeng aling-aling. Siti yang memang sudah tertempa dan kebal akan masalah-masalah yang dimunculkan Rusman, justru merasa tak terancam dengan kata-kata Ratna.

‘’Saya tak pernah menuntut apa-apa dari suami Ibu itu, saya hanya menuntut dia bertanggungjawab atas anak yang saya kandung sampai melahirkan. Itu saja, seandainya nanti setelah anak ini lahir dia akan menceraikan saya. Saya akan terima’’ kata Siti tanpa beban. Ratna Nampak terdiam, fakum. Dia justru bagaikan terjengkang dengan jawaban Siti.

‘’Ibu tak perlu takut dengan saya, saya menikah dengan dia juga bukan karena saya mencintainya. Tetapi, justru saya dinodainya. Apakah, soal ini ada dia ceritakan pada Ibu….?’’ kata Siti lagi, sepertinya tidak ada lagi beban bagi Siti dalam masalah Rusman. Dia bicara enteng saja.

‘’Ibu harus tau, selama dia menikahi saya, dia juga tak pernah sekalipun mengunjungi saya. Dan  bagi saya juga bukan masalah, sebab saya hanya minta tanggungjawab sampai bayi saya lahir. Kehadirannya juga tak begitu saya harapkan, karena yang saya tuntut pada dirinya hanya soal kehamilan, bukan kepada saya’’ nafas Siti terengah. Emosi jiwanya melonjak keras seolah-olah memukulk-mukul nuraninya yang paling dalam. (bersambung)

Cerita Sebelumnya.. 

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww