Cerbung Bagian ke-37

Nikah Siri: Kesehatan Bayi Sangat Perlu Dijaga

Nikah Siri: Kesehatan Bayi Sangat Perlu Dijaga
Sabtu, 24 Desember 2016 19:36 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara

SITI, sepertinya tak ingin lebih jauh mengetahui siapakah gerangan wanita yang bersama Rusman, dia bahkan mencoba untuk tidak membebankan lagi segala persoalan yang menyangkut Rusman dalam kehidupannya. Sebab, dia sendiri sudah merasa, bahwa penanggungannya selama ini seolah tak bisa lagi untuk dipikulnya, apatah lagi harus menumpukkan beban-beban lain di pundaknya yang seolah kian rapuh  dan bagai meremukkan itu.

Hanya saja, untuk dia bisa bertahan dalam mengharungi ombak samudera yang acapkali mengombang-ambingkan dan menghempaskan jalan hidup serta kehidupannya, dalam bersujud dan berdoa dia tetap bermohon kepada Yang Di atas agar dia bisa menjalani kerasnya cobaan itu dengan tegar dan selalu diberikan petunjuk dan kekuatan.

Bulir-bulir embun yang semula menggelantung di ujung dedaunan lambat laun kian sirna diserap mentari pagi yang mulai menerabas ke rimbunan bunga bougenvil yang tersusun di bibir teras.

Burung ketilang yang meloncat-loncat dari ranting ke ranting pohon rambutan didepan rumah mengeluarkan suara canda seolah ingin membangunkan Siti dari tidurnya. Namun Siti tak bergeming dengan kicauan itu, dia kian mengetatkan dekapan selimut ke tubuhnya. Hanya Bik Ijah saja yang sudah bangun sejak subuh tadi dan sibuk didapur untuk menyediakan susu panas.

Bik Ijah memang cukup perhatian sekali terhadap diri Siti yang sedang hamil itu, dia seolah tak ingin kalau Siti terganggu kesehatannya. Dia harus teratur makan terutama pagi hari agar tidak masuk angin. Menurut Bik Ijah, kesehatan bayi sangat perlu dijaga, tetapi kesehatan ibunya juga tak kalah pentingnya.

Sesaat  Bik ijah beranjak dari dapur menuju ke kamar Siti dengan membawa susu panas dan sepotong roti dan diletakkan di meja sebelah ranjang Siti.

‘’Ti, apalagi, bangun lah. Bawa jalan pagi nanti kalau melahirkan bisa kuat. Olahraga pagi bagi ibu yang hamil sangat baik, untuk menguatkan otot-ototnya’’ kata Bik Ijah sembari duduk di bibir ranjang.

‘’Bentar lagi Bik. Masih ngantuk. Lagi pula seluruh sendi terasa pegal  sekali’’ kata Siti sambil menggerakkan pinggulnya untuk duduk lalu bergerak bergeser menyandarkan punggungnya di bingkai ranjang.

‘’Alah, alasan saja. Minta diurut…?’’ kata Bik Ijah seraya memijat-mijat kaki Siti yang mendadak senyum-senyum simpul.

‘’Bik kemarin Rizal menelepon saya, katanya dia sudah di Pekanbaru dan mau datang kemari. Bagaimana Bik, tidak apa-apa kan….?’’ Siti menghela anak rambut yang jatuh menjulur di keningnya.

‘’Menurut Bibik lah, kalau bisa jangan. Sebab, Siti ini kan isteri orang. Bagaimana nanti padangan tetangga. Kecuali ada lelaki di rumah ini, tak apalah. Atau Siti tinggal bersama Emak. Wajar-wajar saja,’’ ucap Bik Ijah yang merasa keberatan jika Rizal mantan kekasih Siti datang ke rumah itu.

‘’Tetapi , bibik kan ada sebagai orang tua’’

‘’Betul, hanya saja posisi Bibik kan lain dengan posisi orang tua Siti.Tak sama. Bukan apa-apa Siti, mana tau jika nasib sial datang bisa saja Rusman itu muncul tiba-tiba. Duhhhhhh, kacau kan…..? Apalagi dia tau, Rizal itu siapa….? Memang si Rusman suami kau itu tak pun ke mari. Tetapi, jika naas sudah mau muncul. Tak ada yang bisa menampiknya’’ kata Bik Ijah lagi yang tetap merasa was-was jika Rusman akan muncul ke rumah itu secara mendadak, lalu ditemuinya ada Rizal itu. Wadduhhhh……., bisa kiamat. (Bersambung)

Cerita Sebelumnya...

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww