Cerbung Bagian ke-25

Nikah Siri: Kau Sebenarnya Memang Hamil Siti

Nikah Siri: Kau Sebenarnya Memang Hamil Siti
Senin, 12 Desember 2016 19:59 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara

SORE itu, Siti sudah janjian dengan Farida sahabatnya untuk menemaninya ke praktek dokter kandungan sesuai saran Bik Ijah untuk memeriksakan diri, apakah benar dia hamil. Farida sendiri pun sudah diberitaukannya masalah itu. Sebelum ke dokter Siti menjemput Farida ke rumahnya.

‘’Jika aku amatillah, kau ini sebenarnya memang hamil Siti’’ kata Farida ketika keduanya duduk di ruang tamu sebelum beranjak.

‘’Ahhhh, kau ni nakut-nakuti aja’’ Siti mulai gentar, karena sudah dua orang yang mencetuskan dugaan itu.

‘’Masa aku nakutin kau, aku ini kan sudah dua kali merasakan hamil. Tau lah aku. Karena aku lihat perkembangan tubuh kau itu sudah menunjukkan gejala itu’’ kata Faridah.

‘’Jadi, kalau benar aku hamil. Bagaimana ya….?’’ bibir Siti tampak menggeletar, beberapa kali bibir itu digigit-gigitnya, mungkin sedang menahan kecemasan.

‘’Minta pertanggungjawaban si Rusman itu. Tonjok dia. Enak aja, sudahlah menodai secara paksa, bilang lagi kau tak perawan. Kan bajingan itu. Nah, sekarang akibat perbuatannya kau hamil, kok enak saja lenggang kangkung tak perduli’’ Faridah yang memang bertemperament tinggi itu nampak seperti marah yang amat sangat.

‘’Tapi Ida, aku tak pernah mencintainya, aku membencinya setengah mati.’’

‘’Sakarang jangan bicara soal benci atau tak cinta, hanya satu yang kau pikirkan bahwa benih yang kau kandung itu harus jelas siapa ayahnya. Masalah tak suka, benci atau apapun namanya, lupakan saja dulu’’ suara Farida agak bergetar. Seolah dia tak ingin sahabat terbaiknya dipecundangi lelaki dengan seenaknya. Dia tau sekali, kalau Siti itu perempuan baik-baik, bersopan santun, lembut dan paling setia jika berteman. Dia sudah merasakan bagaimana dulunya dia kesulitan biaya ketika melahirkan anak kedua yang terpaksa operasi Caesar yang membutuhkan dana besar, Siti lah orang yang telah membantunya dengan cara meminjam uang ke sekolah dan mencicil dari gajinya. Sebab, saat itu diperlukan dana utuh.

Nah, sekarang sang sahabat sedang ditimpa malapetaka, dalam hatinya untuk Siti biarlah dia berkorban apa saja dalam menghadapi persoalan sahabatnya dengan Rusman.

‘’Seandainya nanti aku benar-benar hamil, bagaimana sikap ku menghadapi keluarga…?’’ Tanya Siti setelah lama bungkam, dia seakan-akan ingin membagi beban berat yang berton-ton rasanya tergeletak di pundaknya pada Faridah.

Faridah diam sesaat, dia merenung. Mungkin sedang memikirkan cara terbaik dalam menyampaikan masalah pada keluarganya. Bagaimanapun juga, petaka yang menimpa Siti jika diberitau pada keluarganya, sepertinya bagaikan gunung merapi yang sudah lama diam lalu terbatuk dan memuntahkan lahar panasnya lalu mengalir menggelegak kian kemari.

‘’Biar aku yang memberitaukan keluarga mu’’ akhirnya Faridah menyimpulkan kata hatinya.

‘’Duhhhh, caranya….?’’ suara Siti tergagap.

‘’Serahkan saja lah sama aku, pandailah aku nanti mengatur strateginya.  Sementara aku menemui keluarga mu, kau tinggal dulu di rumah ku sampai situasi mereda. ‘’Faridah mendekat kearah Siti lalu mengusap usap bahu Siti yang berguncang-guncangkeras. Siti tampak mengangguk-angguk, dia seolah pasrah dengan apa yang bakal di lakukan Faridah. Faridah tak ayal juga menghapus ujung matanya yang berair, jiwanya begitu hiba melihat kondisi Siti.

‘’Sudahlah Siti, menangis dan meratap tidak akan menyelesaikan masalah. Jika pun nanti kau positif hamil, kasihan bayi mu yang masih dalam pertumbuhan,’’ ujar Faridah mencoba menenangkan Siti yang tampak kian labil sikapnya.

‘’Kita naik taksi saja, tak usah bersepeda motor. Kondisi kau itu kurang sehat lagi pula aku pun sedang  tak stabil  mengendarai motor, maklum aku masih gemetaran menahan marah’’ kata Faridah yang segera menghubungi taksi melalui telepon selulernyau untuk mengantarkan keduanya ke dokter kandungan. (Bersambung)

Cerita Sebelumnya...

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww