Cerbung Bagian ke-23

Nikah Siri: Rizal Adalah Calon Suami yang Menjadi Idaman Hati

Nikah Siri: Rizal Adalah Calon Suami yang Menjadi Idaman Hati
Jum'at, 09 Desember 2016 19:41 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara

MOBIL yang disetir Rizal bergerak pelan menaiki pelatataran fly over menuju arah ke Simpangtiga. Tetes hujan berdetak satu-satu menerpa depankaca mobil.

‘’Kita kemana Bang…?’’ Tanya Siti yang pikirannya sudah tak tentu arah, tak fokus lagi.

‘’Siti maunya ke mana…..?’’

‘’Terserah abang sajalah, Siti mengikut’’

‘’Duduk-duduk sambil makan jagung bakar, bagaimana….?’’ tawar Rizal.

‘’Oke deh’’ ujar Siti masih dengan perasaan kalang-kabut karena memikirkan ungkapan Rizal tadi yang akan melamarnya setelah lelaki itu usai kuliah. Inilah yang menjadi pemicu berkecamuknya benturan bathinnya. Apalagi, pernyataan itu diungkapkan dengan sungguh-sungguh. Siti merasa, ada kejujuran pada penuturan Rizal, dan prihal ini lah yang membuatnya nyaris limbung. Pelipisnya, berdenyut. Seolah dia tak mampu lagi untuk menghadapi masalah yang kian beruntun menggempur, bagaikan tanpa henti itu.

Mobil kemudian menikung memasuki kawasan pondok Labuay tempat mangkalnya  para penjual jagung bakar. Rizal menghentikan mobil parkir di depan sebuah lokasi belahan ujung. Kemudian keduanya masuk ke sebuah pondok dan memilih duduk agak di sudut. Rizal kemudian memesan jagung bakar.

‘’Kapan rencananya abang balik ke Medan…..?’’ Tanya Siti sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

‘’Lusa,. Karena abang tak bisa berlama-lama sibuk menyusun skripsi. Kenapa Siti mempertanyakan itu…?’’ Rizal yang duduk disebelah Siti memperhatikan wajah sang kekasih yang sesaat merunduk.

‘’Tidak ada apa-apa; Hanya sekedar bertanya, apa tak boleh’’ Siti dengan wajah manja tersenyum simpul, namun terasa bibir itu agak sungkan kelihatan. Ada keterpaksaan di situ.

‘’Bukan begitu, biasanya kalau abang pulang ke Pekanbaru, Siti selalu menahan jangan cepat-cepat kembali, kali ini justru menanyakan kapan  pulang.’’

‘’Yahhhh, maksudnya itu. Kok hanya tiga hari tidak seminggu.’’ Siti cepat beragumentasi.

‘’Ohhh, gitu toh. Seperti yang abang sebutkan tadi, abang sedang sibuk-sibuknya di kampus.’’ Rizal mereguk teh botol yang sudah tersedia di atas meja didepannya.

‘’Duhhhh, Siti masih belum lagi hilang rasa rindunya, abang begitu cepat kembali.’’

Siti terus saja mencoba berbasa-basi, berharap jangan sampai ada sikap maupun bicaranya yang membuat Rizal curiga.

‘’Serius Nih, kata orang untuk lebih menguatkan rasa cinta, pacar harus sering ditinggal-tinggalkan. Nah, maksudnya agar rasa rindu menjadi semakin berat. Jika, terlalu berlama-lama bertemu, bisa bosan.

‘’Itu kan kata Abang, kok Siti sepertinya mau nempel terus sama Abang.’’ Siti menyandarkan kepalanya dibahu Rizal yang duduk disebelahnya. Sebelah tangan Rizal diraihnya dan punggung tangan serta jemarinya dielus lembut. Siti merasakan

rasa kasihan dan hiba yang tiada tara pada Rizal, rasanya dia tak sanggup untuk menyakiti Rizal yang selama ini dikenalnya begitu baik hati dan penyayang.

Sepertinya, Rizal adalah calon suami yang menjadi idaman hati. Tetapi, sungguh sayang seribu kali sayang., impian itu bakal tidak akan menjadi kenyataan.

Kerinduan jiwa untuk bisa hidup bersama dengan sang pria idaman tak lebih hanya sebatas angan-angan belaka. Tak usah menyentuhnya, untuk menggapainya pun terlalu jauh nun di sana , tidak akan mungkin teraih. Karena, dia menyadari dan merasa jika dirinya tak lebih bagai layang-layang putus, terombang-ambing kian kemari tanpa tali teraju dan suatu saat siap untuk menukik dan menghunjam ke bumi. Hancur lebur.

Seketika saja hujan turun bagaikan dicurahkan dari langit. Mendadak saja datangnya.

‘’Kita pulang saja Bang, kelihatannya cuaca semakin tak bersahabat’’ Siti tegak dan meminta pada penjual  untuk membungkus saja jagung yang sudah dipesan.

Di rumah Siti, Rizal singgah sebentar dan duduk di beranda depan. Sementara Siti sejak tadi berada di kamar, mungkin mengganti pakaian yang sempat agak basah ketika tadi menuju mobil. Sesaat Bik Ijah muncul dengan membawa teh hangat.

‘’Kabarnya Bik….?’’ Tanya Rizal yang memang sudah kenal baik dengan Bik Ijah.

‘’Sehat, lama tak ke mari….?’’

‘’Tetapi di Medan Bik, belajar’’

‘’Ohhh, iya. Lupa awak e’’ Bik Ijah senyum, sembari mempersilahkan Rizal minum. (Bersambung) 

Cerita Sebelumnya…

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww