Cerbung Bagian-9

Nikah Siri: Apakah Ada Sesuatu yang Abang Berikan pada Siti

Nikah Siri: Apakah Ada Sesuatu yang Abang Berikan pada Siti
Sabtu, 26 November 2016 06:12 WIB
Penulis: Indra Wedhasmara

SITI dibaringkan Rusman di ranjang dengan perlahan. Sekujur tubuhnya diretas peluh yang keluar dari segenap pori-porinya. Ketika Rusman ingin beranjak, seolah Siti tak rela untuk ditinggalkan. Ujung jemari Rusman didekapnya agar tak pergi dan berharap Rusman menemaninya di situ. Kelopak matanya pun meruyup terpejam-pejam. Dadanya terasa sesak. Rusman berbaring di sebelah Siti dan perempuan itu menatapnya redup, seolah ada suatu permohonan yang terlukis di bola matanya yang kemilau bagaikan gundu itu.

Gelombang dada Siti seolah beriak, sehingga bukit kembar yang bagaikan sepasang kelapa gading  itu seakan bergelombang turun naik. Sepertinya Siti ingin berlindung disebalik dekapan tubuh Rusman. Tak begitu jelas apa yang terjadi dalam seketika, mengapa mendadak saja Siti bagaikan pasrah…..? Padahal baru sebentar tadi dia meminta Rusman untuk segera menjauhinya. Minta agar Rusman tak lagi mengusiknya. Kali ini kenapa justru segalanya berbalik total, bagaikan melawan arus.

Entahkan mengapa pula Rusman juga melayani keinginan Siti yang bagaikan seorang musyafir yang dahaga di padang pasir Lalu tertatih-tatih kian kemari mencari oase untuk mereguk setitik air yang begitu mengeringkerontangkan tenggorokannya.

Kemudian ada teater kisah cinta di ranjang itu, bibir Rusman yang mendadak juga menggeletar menanggung dan menahan riak emosi gairah memagut lembut ke katupan bibir Siti yang terbuka dan terengah. Bagaikan pantikan api yang berkobar menyala, bibir keduanya seolah mengunci dan tertaut ketat. Desah dan helaan nafas berat beradu dan menggempur melalui celah bibir yang kini saling merayap bagaikan kuas yang sedang menari-nari di atas kanvas.

Layaknya Rusman kali itu memang bagaikan maestro yang sedang berlakon di  puncak pentas kegairahan yang membara, bergejolak dan mempesona, sehingga Siti pun sepertinya harus mampu menjadikan dirinya sebagai pemeran figuran dalam menerima bait demi bait puisi gelora asmara di ranjang panas itu.

Helai demi helai  busana yang mendekap tubuh Siti bergulir jatuh yang sepertinya dia juga tak berusaha untuk menampiknya. Seolah membiarkan begitu saja belahan tubuh begaian atas tanpa penutup lagi,  hanya yang masih tersisa pembalut gunung kembarnya yang berguncang dan bergetar lembut.

Rusman bagaikan ular melata yang melingkar dan  membelit di batang pohon, sesuka hati tanpa peduli pada batang tubuh Siti yang menggeliat dan terkadang meronta karena terasa sesak didada dan di aliran denyut darah yang bergumpal dan berdesir hebat  tiada tara. Duhhhhh, posisi Siti memang sedang diambang kritis, dia bagaikan menerima apa adanya yang sedang disuguhkan Rusman.

Ujung-ujung jemarinya yang lentik kini bagaikan mencengkram dan berkutat di punggung Rusman yang mendekapnya ketat, seolah ingin meremukkan batang tubuh yang kini nyaris polos karena busananya sudah terlempar ke sana kemari direnggut jemari Rusman yang bergetar hebat.

Belahan kaki Siti,  kini semakin terkuak, dan ujung-ujung jemarinya meliuk-liuk lasak menerjang kaku ke sprei yang sudah kusut masai. Suara erangan dan rintihan tertahan terkadang terlontar tanpa sengaja, tanpa sadar.Ada kegerahan, ada gejolak birahi yang memuncak bagaikan lahar yang memuntahkan larva dari kawahnya.

‘’Kenapa harus begini Bang,’’ desah Siti menahan sesuatu yang membetot lingkaran pahanya, bahkan betisnyanya seolah ngilu tiada kepalang.

‘’Apakah itu perlu dipertanyakan….?’’ suara Rusman tertahan-tahan dengan nafas meluncur laju melalui hidung dan bibirnya yang memulas galak di jenjang batang leher Siti.

‘’Ya, kenapa Bang, apakah ada sesuatu yang abang berikan pada Siti yang membuat Siti terpuruk seperti ini. Mengapa tiba-tiba saja datangnya‘’ mulut Siti tergagap karena cepat dikatup bibir Rusman berharap Siti jangan bertanya lagi ada apa dan kenapa. (Bersambung)

Cerita Sebelumnya…

Cerita Selanjutnya...

Kategori:Ragam
wwwwww