Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Jokowi Tandatangani PP Tapera, DPR: Rakyat Tambah Menderita
Politik
21 jam yang lalu
Jokowi Tandatangani PP Tapera, DPR: Rakyat Tambah Menderita
2
Jalan Dipalang Warga, Proyek Tol Padang-Sicincin Terhenti
Peristiwa
24 jam yang lalu
Jalan Dipalang Warga, Proyek Tol Padang-Sicincin Terhenti
3
PSBB Transisi, Kendaraan Pribadi Boleh Angkut Penumpang Penuh asal Satu Keluarga
Pemerintahan
22 jam yang lalu
PSBB Transisi, Kendaraan Pribadi Boleh Angkut Penumpang Penuh asal Satu Keluarga
4
Balita Usia 1,5 Tahun di Pekanbaru Ditenggelamkan, Kepalanya Dibenturkan ke Dinding Lalu Diinjak Oleh Ayah Tiri Hingga Tewas
Peristiwa
24 jam yang lalu
Balita Usia 1,5 Tahun di Pekanbaru Ditenggelamkan, Kepalanya Dibenturkan ke Dinding Lalu Diinjak Oleh Ayah Tiri Hingga Tewas
5
Tak Punya Riwayat Perjalanan Keluar Daerah, Pejabat Solok Selatan Ini Positif Covid-19
Solok Selatan
24 jam yang lalu
Tak Punya Riwayat Perjalanan Keluar Daerah, Pejabat Solok Selatan Ini Positif Covid-19
6
Tagihan Listrik Melonjak, Ini Penjelasan PLN
Peristiwa
13 jam yang lalu
Tagihan Listrik Melonjak, Ini Penjelasan PLN
Loading...
Home >  Artikel >  Ragam

Berbudi pada Bumi

Kamis, 09 Januari 2020 22:48 WIB
Penulis: Mujiono, SE
Berbudi pada Bumi Mujiono
''MUNGKIN Tuhan Mulai Bosan, Melihat Tingkah Kita, yang Selalu Salah dan Bangga dengan Dosa-dosa, atau Alam Mulai Enggan Bersahabat dengan Kita, Coba Kita Bertanya pada Rumput yang Bergoyang''.

Itulah sepenggal lirik lagu Ebiet G Ade yang mungkin menggambarkan keadaan kita hari ini. Malam 1 Januari 2020, sebuah malam pergantian tahun yang mungkin dinanti oleh sebagian orang, derasnya air yang mengguyur bumi hingga mengalir bagai air bah membanjiri sebagian wilayah Indonesia. Tidak terhitung kerugian harta benda, bahkan nyawa pun harus menjadi korban.

Fenomena bencana yang saat ini melanda negeri kita, adalah sebuah keadaan ketika bumi, air dan lainnya tiada lagi bersahabat dengan kita. Semua ini terjadi sebagai akibat kita lupa menjaga bumi, kita lupa berbudi pada bumi tempat kita berdiri. Lantas apa yang harus kita lakukan agar bumi ini bersahabat dengan kita?

Berbicara berbudi pada bumi, tidak terlepas dari isu lingkungan hidup. Isu lingkungan hidup menyadarkan kita akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar kita agar mampu secara berkelanjutan membawa kesejahteraan. Isu-isu lingkungan hidup berupa pencemaran lingkungan, pemanasan global, perubahan iklim, menurunnya keanekaragaman hayati, bahkan juga menurunnya sumber daya alam.

Berbudi pada bumi memiliki makna kita harus bersama-sama menghijaukan bumi. Menghijaukan bumi dapat kita lakukan dengan secara bersama-sama menjaga hutan kita.

Negeri kita saat ini memiliki hutan yang sangat luas serta merupakan harta yang tiada bernilai harganya apa lagi di saat kita menghadapi perubahan iklim. Hutan yang kita miliki adalah paru-paru dunia.

Kondisi ini memiliki makna bahwa keberadaan hutan kita sangat berarti bagi dunia karena mampu menjaga keseimbangan iklim global. Satu hal yang pasti, hutan yang kita miliki adalah sumber oksigen yang tiada bernilai bagi kita.

Selain itu, bagi sebagian besar suku bangsa di negeri kita, hutan merupakan sumber kehidupan. Hasil pendataan Potensi Desa (Podes) 2018 yang dilakukan BPS menggambarkan bahwa sekitar 2,7 ribu desa/kelurahan di indonesia berada di dalam hutan, serta 18,6 ribu desa/kelurahan berada di tepi atau berada di sekitar hutan.

Bahkan hasil survei rumah tangga di sekitar hutan pada tahun 2014 yang dilakukan oleh BPS tercatat bahwa 8,6 Juta lebih rumah tangga tinggal di sekitar kawasan hutan (termasuk di dalam dan di tepi hutan).

Masih banyaknya desa yang berada di tepi hutan dan bahkan berada di dalam kawasan hutan serta masih tingginya masyarakat yang tinggal didalamnya, disatu sisi merupakan potensi yang sangat besar karena secara tidak langsung akan akan secara arif dan bijak turut menjaga hutan.

Akan tetapi jika masyarakat tersebut sangat bergantung dengan hutan sebagai sumber kehidupannya apa lagi jika masyarakat melakukan kegiatan perambahan hutan sebagai efek semakin tingginya kebutuhan lahan untuk pertanian dan perkebunan, maka hutan di negeri kita lambat laun akan hilang.

Kondisi hutan kita akan semakin parah jika masyarakat yang tinggal di tepi hutan maupun yang berada dalam kawasan hutan sangat bergantung dari hasil kayu hutan dalam pemenuhan kebutuhannya.

Kondisi ini akan semakin kronis ketika rendahnya harga komoditas hasil pertanian maupun perkebunan yang mereka hasilkan tidak mampu menopang ekonomi rumah tangganya, sehingga kayu hutan adalah satu satunya pilihan utama mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Memang, beberapa diantara mereka mungkin mencari kayu dengan menebang di hutan bukan lah untuk kaya, akan tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan hidupnya, karena beberapa diantara mereka hanya menggunakan peralatan tradisional.

Oleh karenanya upaya lebih mensejahterakan masyarakat baik yang tinggal di dalam hutan maupun yang tinggal di pinggiran hutan adalah mutlak harus segera dilakukan agar mereka tidak lagi menjadikan hutan sebagai sumber utama pendapatan mereka.

Mari kita berbudi pada bumi dan berbuat baik pada pepohonan serta tanaman lain agar bumi dan pepohonan serta tanaman tersebut memberikan manfaat berkelanjutan pada kita.

Satu hal yang pasti, menghijaukan bumi, menghijaukan hutan kita lagi tidaklah semudah kita melakukan penggundulan hutan. Kita butuh waktu bertahun-tahun atau bahkan mungkin puluhan tahun untuk mengembalikan hutan kita.

Oleh karenanya dibutuhkan komitmen kita bersama untuk melakukannya. Jika kita bersama-sama berbakti pada bumi dengan berkomitmen menghijaukan bumi, maka pastilah bumi akan memberi manfaat yang tiada terkira bagi kita semua. Semoga.***

Penulis adalah statistisi di BPS Riau.

Kategori : Ragam

Loading...
www www