Home >  Artikel >  Opini

Asap Riau Duka Masyarakat Serantau

Senin, 09 September 2019 09:12 WIB
Penulis: Mujiono, SE
Asap Riau Duka Masyarakat Serantau Mujiono
SUATU pagi, di saat anak-anak yang lain mungkin masih terlelap dalam tidur dan mungkin sedang menikmati mimpi indahnya, Syifa dan Dimas telah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Namun saat membuka pintu, sontak keduanya menyeletuk dan bertanya, ''Pa, ini bau apa ya, Pa? Kok di hidung terasa sengak dan bau?''.

Begitulah potret derita anak-anak kita saat bencana asap ini terus menggila dan terus mengintai keselamatan mereka.

Syifa dan Dimas hanyalah anak-anak yang mungkin tidaklah faham dengan apa yang terjadi dan mengintai dalam keseharian mereka. Derita yang dirasakan Syifa dan Dimas hanyalah sebuah potret gambaran nasib anak-anak di Riau yang terus-menerus dicekoki dengan asap yang sangat mengancam nyawa dan masa depan berharga mereka.

Asap di Riau yang menjadi duka masyarakat serantau sangat memberi dampak buruk bagi kesehatan, terutama bagi bayi, balita dan anak-anak. Mereka adalah sasaran yang paling berisiko dan sangat rentan terhadap bencana asap ini.

Kondisi ini akan menjadi lebih berbahaya jika bayi, balita atau anak-anak ternyata memiliki riwayat penyakit seperti asma ataupun penyakit lain seperti gangguan daya tahan tubuh sehingga sangat membahayakan keselamatan mereka.

Penuh sesaknya lorong rumah sakit yang berisi jerit tangis anak-anak akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan potret awal penderitaan anak-anak di Riau. Satu hal yang pasti, jika fenomena asap ini tidak segera berakhir, maka secara tidak langsung kita telah meracuni anak cucu kita yang tidak lain adalah penerus kita di negeri tercinta ini dengan racun asap yang sangat mematikan. Karenanya, haruskah penerus kita, anak cucu kita nantinya akan berisi generasi yang sakit-sakitan akibat racun asap kebakaran hutan dan lahan yang tidak lain adalah akibat kelalaian kita semua.

Di samping itu, satu hal yang harus kita sadari, secara nyata kita telah mewariskan kepada generasi penerus kita sebuah kondisi kehancuran dan kerusakan alam. Kesalahan masa lalu kita yang membabi buta dengan melakukan eksploitasi besar-besaran di lahan gambut ternyata turut memperparah bencana asap yang terjadi saat ini.

Eksploitasi lahan-lahan gambut dengan membuat kanal-kanal yang dalam telah membuat lahan-lahan gambut menjadi kering dan rentan terbakar apalagi di musim kemarau panjang seperti saat ini. Oleh karenanya, upaya nyata untuk merestorasi/mengembalikan lahan gambut sesuai fungsinya harus segera dilakukan.

Restorasi gambut yang dilakukan harus mampu mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut baik dengan upaya pembasahan kembali, penanaman ulang maupun langkah berupa revitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat terutama masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut.

Namun, upaya restorasi lahan gambut tidaklah cepat dan mudah. Upaya restorasi lahan gambut membutuhkan waktu yang panjang dan membutuhkan dukungan dari semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat.

Pemerintah memang telah mengeluarkan regulasi tentang moratorium izin di lahan gambut, namun upaya pengawasan maksimal baik pemerintah maupun masyarakat tetaplah harus dilakukan agar tidak ada lagi masyarakat atau siapa pun yang secara ilegal mengeksploitasi kembali di lahan gambut.

Fenomena asap di Riau yang menjadi duka masyarakat serantau ini haruslah menjadi catatan kita semua, bahwa komitmen bersama harus dilakukan agar kebakaran lahan dan hutan tidak lagi terjadi di masa-masa mendatang.

Kita haruslah sadar, sudah jutaan, miliaran atau bahkan mungkin triliunan rupiah kerugian telah kita alami akibat asap yang melanda negeri ini. Sehingga sudah sepatutnya bencana asap ini menjadi pengingat kita semua bahwa bencana ini tidak boleh terulang kembali di masa-masa yang akan datang.

Tidak cuma itu, kita haruslah bermufakat, janganlah kita mewariskan kepada generasi penerus anak cucu kita sebuah negeri yang hancur karena kerusakan alamnya. Jangan pula sampai negeri Riau yang kaya ini meredup dan tiada lagi terbilang karena telah hancur lebur kondisi alamnya.

Memang benar, mengejar pertumbuhan ekonomi saat ini sangatlah diperlukan, akan tetapi kerusakan alam yang ditimbulkan patutlah tetap kita perhitungkan. Semua upaya itu harus dilakukan agar kita mampu meminimalisir kerusakan alam yang telah atau mungkin akan ditimbulkan di kemudian hari sebagai efek dari mengejar pertumbuhan ekonomi yang kita inginkan.

Akhirnya, jika kita tidak memulai hari ini untuk menjaga alam kita, lantas kapan lagi? Haruskah setiap hari kita mengurung, atau bahkan memenjarakan balita dan anak-anak kita agar tidak lagi bermain dengan berlarian di luar sana?

Atau haruskah kisah asap di Riau yang menjadi duka masyarakat serantau akan terulang kembali dan menjadi cerita anak-anak kita di pagi hari nantinya? Semua itu bergantung langkah kita bersama hari ini.

Semoga.***

Mujiono adalah statistisi di BPS Provinsi Riau.

Kategori : Opini

Loading...
www www