Loading...
Home >  Artikel >  Opini

Peci Hitam Masihkah Ada?

Senin, 05 Agustus 2019 11:07 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Peci Hitam Masihkah Ada? H Iqbal Ali
SAYA masih ingat saat di sekolah rakyat dulu, pak guru memperlihatkan buku Atlas Dunia, di mana pada halaman pertama terdapat foto atau gambar profil orang-orang berbagai bangsa.

Pak guru bertanya, mana foto orang Amerika, mana foto orang Negro, foto orang Jepang, orang India dan orang Arab? Pak guru bertanya lagi, apa ciri khas bangsa Indonesia?

Serentak kami jawab, peci hitam dan baju kemeja putih. Jauh sebelumnya tokoh pergerakan; Gatot Mangkupradja, Ali Sastroamidjoyo, Sutan Syahrir dan Amir Syarifudin merupakan generasi awal yang mengenakan jas, celana panjang, sepatu dan peci hitam, terutama pada acara-acara resmi. Banyak lagi tokoh-tokoh pargerakan berpeci hitam.

Semenjak itu peci hitam dan kemeja putih menjadi simbol nasionalisme yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual. Setelah Soekarno, masuk zaman orde baru dibawah presiden Soeharto, peci hitam tetap dipertahankan sebagai simbol nasionalisme.

Ketika periode Gusdur, mulailah muncul bermacam-macam songkok kepala dengan beragam warna. Maklum, Gusdur orangnya sangat moderat, toleran, walaupun Gusdur sendiri tetap berpeci hitam. Seterusnya zaman rezim Megawati dan SBY, peci hitam tetap lambang nasionalisme. Malah Presiden SBY dengan tegas mengatakan; ''Kopiah hitam adalah Indonesia” (republika 2014).

Namun belakangan ini, sepertinya peci hitam mulai ditinggalkan, terutama oleh masyarakat awam yang banyak meniru niru songkok kepala dari luar, walaupun pejabat pejabat pemerintah tetap memakai kopiah hitam terutama pada acara acara resmi. Tentu boleh-boleh saja karena tak ada larangannya meniru-niru.

Ada yang lucu dan menggelikan, meniru songkok kepala Paus (pemimpin tertingggi umat Khatolik). Mereka ''PD'' sekali, barangkali menurut mereka itulah songkok kepala kaum Muslim. Kita sudah lama meniru-niru apalagi tanpa dasar, meniru pakaian dari Cina (baju Koko) dan akhir-akhir ini meniru pakaian Asia Selatan. Termasuk songkok kepalanya. Apakah negeri kita dilahirkan sebagai bangsa peniru?

Ketika maraknya tiru meniru tersebut, tanpa diduga terbacalah sebuah tulisan di harian Kompas, 17 Juli 2019, penulisnya Hilman Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud. Hilman mengatakan: ''Belakangan, kesadaran kita terhadap kekayaan budaya, salah satunya adalah pakaian nasional agak meredup. Karena itu perlu sosialisasi tentang pentingnya pelestarian baju kebaya sebagai bagian dari budaya Indonesia.''

Selanjutnya Hilman mengingatkan pula agar budaya-budaya lokal tidak boleh hilang. Sejalan dengan yang disampaikan Dirjen Kebudayaan di atas, saya terbaca pula tulisan di Youtube bahwa di Sumatera Barat (orang Minang) sedang giat-giatnya menggalakkan pakaian Minang, yaitu Baju Kuruang dengan Salendangnya. Mudah-mudahan di daerah lain begitu pula bahwa budaya lokal tak boleh pudar.

Kenapa kita meniru budaya luar, padahal kita punya budaya yang sangat dihormati bangsa lain dan tidak bertentangan sedikitpun terhadap ajaran Islam. Kita jelas dan mengaku bangsa Indonesia, NKRI, beridiologi Panca Sila. Sangat aneh dan lucu dia mengaku orang Indonesia, NKRI, tapi bangga dengan budaya orang lain. Barangkali orang ini termasuk minus bacaan atau fanatik golongan atau memang agen-agen budaya tertentu.

Semoga imbauan Dirjen Kebudayaan untuk kembali menggalakkan busana nasional, termasuk budaya lokal di daerah-daerah menyadarkan kita.

Mari kita dengan kesadaran tinggi bahwa peci hitam (kopiah) adalah budaya nasional, lambang nasionalisme atau lambang ke-Indonesiaan kita. Hari Ulang Tahun ke-74 RI ini sangat tepat kita jadikan momentum kembali kepada budaya nasional. Kita ucapkan, Dirgahayu Republik Indonesia. ***

H Iqbal Ali aadalah dosen dan pengamat sosial kemasyarakatan.

Kategori : Opini

Loading...
www www