Menuju Pilkada Pasaman Barat Tahun 2020

Jum'at, 14 Juni 2019 22:00 WIB
Penulis: Akbar Riyadi
Menuju Pilkada Pasaman Barat Tahun 2020

PADA Tahun 2020 Kabupaten Pasaman Barat akan menyonGsong Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Meskipun terlalu dini untuk membahas Pilkada, namun partai politik (parpol) sebagai mesin telah bergerak di Kabupaten Pasaman Barat.

Tentunya sebuah musim panjang bagi parpol setelah pemilihan presiden dan wakil presiden, serta pemilihan anggota legislatif mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga nasional.

Dalam Pilkada nanti, diprediksi akan mencuatnya ke permukaan nama-nama baru. Baik sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati. Karena, calon incumbent yang akan maju hanya Wakil Bupati. Sedangkan yang menjabat sebagai Bupati saat ini tidak dapat mencalonkan diri kembali sebagai Bupati, berhubung telah menjabat Bupati dalam 2 periode.

Partisipasi Masyarakat

Menariknya, pembahasan calon Bupati dan Wakil Bupati bukan hanya pertarungan antar parpol di Kabupaten Pasaman Barat. Akan tetapi, masyarakat secara luas turut ikut serta dalam memprediksi calon yang akan maju dalam Pilkada melalui perbicangan face to face dan media sosial seperti Facebook dan lainnya.

Menurut (Miriam Budiarjo:1998), partisipasi politik yakni; kegiatan individu atau kelompok untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik. Maka, dengan defenisi yang dijabarkan tersebut, masyarakat di Kabupaten Pasaman Barat telah berpartisipasi dalam menenentukan pilihan politiknya yakni calon pemimpin.

Merujuk partisipasi politik yang dilakukan oleh masyarakat pada dewasa ini, ada dua hal yang dapat digaris bawahi. Pertama partisipasi offline, yaitu partisipasi politik yang dilakukan individu/masyarakat melalui diskusi secara langsung.

Kedua, partisipasi online. Dimana partisipasi dilakukan oleh individu/masyarakat pada medsos, dengan menciptakan ruang diskusi-diskusi.

Dalam sebuah praktik demokrasi, partisipasi menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan. Karena partisipasi bagian dari tujuan pencapaian demokrasi.

Landasan lainnya muncul partisipasi politik masyarakat dalam pembahahasan calon Bupati dan wakil Bupati, yakni berkaitan pembangunan politik yang menekankan pembangunan ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Bagaimana tidak, dari 19 kabupaten dan kota yang ada di Sumatera Barat, Kabupaten Pasaman Barat masih termasuk Kabupaten tertinggal. Padahal pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Pasaman Barat dapat dikatakan tumbuh baik dari perkebunan, pertanian maupun perdagangan.

Namun kesatabilan ekonomi masyarakat belum terjamin dengan berbagai macam permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah daerah.

Persoalan ini tidak jauh berbeda dengan sektor pendidikan yang tertinggal dari standar. Kemudian sektor kesehatan masih belum memenuhi standar untuk pelayanan masyarakat di Kabupaten Pasaman Barat.

Peran Pemimpin

Dengan tumbuhnya partisipasi politik masyarakat di Kabupaten Pasaman Barat, juga dibarengi dengan desakan untuk melepaskan daerah tertinggal terutama di sektor ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Maka muncul pertanyaan, siapakah pemimpin yang akan mampu untuk melepaskan status tersebut? Secara sederhana masyarakat mengingikan pemimpin yang dapat membela kepentingan masyarakatnya.

Secara sederhana, masyarakat Pasaman Barat harus memiliki pemimpin dengan jiwa kepemimpinan transnasional.

Maksudnya, pemimpin yang memiliki gagasan serta ide-ide yang cemerlang guna memecahkan masalah penting, selanjutnya pemimpin ini dapat menginspirasi daerah yang dipimpinnya dengan merangkul semua kepentingan. Kemudian, yang siap melayani dengan turun langsung dan menyerap aspirasi masyarakat.

Kategori pemimpin yang dijabarkan tersebut tentunya peran dan tugas parpol sebagai mesin politik untuk menemukan dan mengkader seseorang. Parpol seharusnya tidak hanya calon yang memiliki kemampuan finansial dan melakukan politik uang (money politic) terhadap masyarakat luas.

Sebagai penutup, baik parpol dan calon tidak memainkan politik identitas dengan memainkan identitas etnisnya. Karena dari segi kultur masyarakat Pasaman Barat didiami oleh tiga etnis berbeda, yakni Minangkabau, Mandailing dan Jawa. ***

Akbar Riyadi, pengamat politik lokal Pasaman Barat.

Kategori:Opini

wwwwww