Opini

Generasi Krisis Moral

Generasi Krisis Moral
Richo Rimaldy
Senin, 05 November 2018 10:20 WIB
Penulis: Richo Rimaldy
PEWARIS Indonesia, begitulah gambaran generasi muda sebagai pewaris tahta keberlangsungan negara Indonesia yang tercinta ini.

Di Indonesia generasi muda didominasi oleh kaum remaja, dimana masa remaja menunjukkan masa peralihan dari masa anak?anak ke masa dewasa, pada masa ini terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis. Bagaimana cara remaja tersebut berprilaku ditentukan oleh berbagai hal yang dipengaruhi oleh budaya, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan genetika terhadap lingkungannya. Perilaku ini merupakan upaya menunjukkan sikap sebagai wujud dari hasil persepsi, dan apabila persepsi tersebut salah, bisa menimbulkan perilaku dan sikap yang salah juga, begitupun sebaliknya. Dalam buku pengantar psikologi umum dijelaskan bahwa sikap yang ada pada seseorang memberikan warna atau corak pada perilaku orang yang bersangkutan. Hal inilah yang menggambarkan bagaimana moral seseorang dalam berprilaku dan bersikap.

Apabila berbicara mengenai moral, di Indonesia dari tahun ketahun terus mengalami degradasi atau penurunan kualitas dalam segala aspek moral, mulai dari cara bersikap, tutur kata, cara berpakaian, sikap menghargai, dll.

Permasalahan moral ini terus menjadi sorotan masyarakat Indonesia yang telah memasuki tahap krisis, dimana tidak hanya menghadapi krisis ekonomi, krisis hukum, dan krisis politik, namun juga yang paling riskan terjadi saat ini adalah ''krisis moral'' terutama pada kalangan remaja.

Indonesia yang notabene sebagai bangsa yang sopan santun dan ramah oleh bangsa luar, nyatanya sedang mengalami degradasi moral yang cukup memprihatinkan. Seperti halnya kasus yang masih hangat saat ini, maraknya terjadi pelecehan seksual yang pelakunya masih dikategori remaja. Kehidupan remaja pada saat ini sangatlah memprihatinkan mulai dari kasus narkoba, tawuran, free sex, kekerasan remaja serta pembunuhan yang dilakukan oleh pelaku kekerasan seksual.

Mari kita berkaca dari pelaku pemerkosaan. Kasus pemerkosaan akhir-akhir ini pelakunya sebagian besar adalah para remaja yang bertindak secara sadar sama-sama sepakat hendak berbuat bejat. Kesepakatan mereka datang dari pencetus yang diakui pelaku bersama-sama sebagai hal yang mengundang penasaran: rasa ingin merasakan sebuah kenikmatan seksual (yang tidak halal/zina).

Tindakan ingin melakukan pemerkosaan berkelompok tersebut tidak hadir begitu saja. Berawal dari rasa keingintahuan, pelaku biasanya mencari media yang dapat memvisualisasikan ide seksual tersebut melalui tontonan asusila. Akibat dari lepasnya kontrol para pelaku, maka ide yang tervisualisasikan tadi mendorong mereka untuk merealisasikannya.

Sebagai contoh, kasus pemerkosaan siswi SMK berusia 16 tahun yang digilir oleh 8 remaja di Bogor, lalu pembunuhan siswi SMK di Medan oleh teman dekat korban sendiri yang diawali dengan niat pemerkosaan dan yang terbaru terjadi di Gunung Singgalang Padang Panjang dimana korban yang telah kelelahan diperkosa teman sendiri yang berujung kematian. Bahkan karena telah melakukan tindakan ini mereka menghalalkan segala cara termasuk membunuh korban, karena takut perbuatannya diketahui orang lain. Jalan ini paling dominan terjadi pada kasus pemerkosaan berkelompok.

Jika kita melihat usia para pelaku yang notabene adalah remaja, tentu pola kebiasaan sebelum eksekusi pemerkosaan di atas mencerminkan krisis moral pada generasi muda Indonesia. Mereka tentu tidak akan mencoba bermaksiat jika mereka telah mendapatkan pendidikan layak yang sesuai fitrahnya.

Menjamurnya perilaku merusak diberbagai pelosok negeri ini, Sungguh  memprihatinkan. Moral anak-anak bangsa kita sebagai pewaris negara Indonesia yang konon  menjunjung tinggi nilai-nilai norma dengan adat ketimurannya yang sangatlah sopan dan santun seakan sekedar cerita. Kemerosotan moral yang menghinggapi remaja saat ini seakan-akan merupakan kegagalan lembaga pendidikan untuk membentuk karakter yang beradab menuju Indonesia bermartabat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak akan lepas dari tudingan masyarakat jika ada penyimpangan moral dari remaja.

Penyebab kemerosotan moral remaja selain faktor sekolah, keluarga, dan lingkungannya adalah adalah perkembangan zaman atau pengaruh globalisasi yang telah masuk ke Indonesia. Banyak dampak negatif yang terbawa, disamping dampak positif yang menyertainya.

Salah satu fenomena produk globalisasi yang santer dinikmati saat ini adalah keterbukaan informasi yang mudah diakses. Salah satunya akses media sosial yang menyediakan berbagai informasi dari seluruh dunia. fatalnya media sosial banyak menyisipkan pola kebebasan, kekerasan, sex dan lain sebagainya tanpa bisa di kontrol.

Fenomena tersebut menimbulkan rasa keingintahuan dikalangan remaja, sehingga remaja akan mencoba melakukan hal serupa untuk mendapatkan perhatian dan penghargaan. Jadi bisa dikatakan bahwa moral para remaja telah mengalami krisis yang besar.

Untuk itu, moral para pemuda sekarang sangatlah perlu untuk dibenahi dan diperbaiki dan ini menjadi pekerjaan rumah dan peran penting semua pihak seperti pemeritah, masyarakat, tokoh masyarakat, agama, keluarga dan lain-lain. ***

Richo Rimaldy, S.Sos, M. Ikom, Dt. Nan Barantai adalah Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Kategori:Opini
wwwwww